Bab 150

4800 Words

Wajah mereka kini berhadapan sangat dekat, memperlihatkan jarak antara sikap arogan seorang penguasa dan kecewanya seorang istri yang dituduh. Respati dapat merasakan embusan napas Aira yang tipis dan lemah di kulit wajahnya. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak menyentuh nuraninya yang telah tertutup rapat. Pria itu mengencangkan cengkeramannya, menuntut ketakutan yang tidak kunjung ia temukan di manik mata sang istri. "Kamu pikir darah ini bisa membayar keracunan adik saya, Aira?!" geram Respati dengan suara rendah yang bergetar hebat akibat emosi yang sulit dibendung. "Kamu bakal tetap ada di sini, menderita di bawah kendali saya sampai rasa sakit Amara terbalaskan tanpa tersisa sedikit pun!" Bukannya merintih atau memohon belas kasihan, Aira justru membiarkan sudut bibirnya yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD