Bab 140

4772 Words

“Ada pelayan di rumah ini kalau kamu butuh bantuan!” sergah Respati lagi, suaranya terdengar begitu menuntut dan kaku, seolah ia sedang menutupi refleks protektifnya yang terlalu kentara. “Jangan berbuat hal bodoh yang bisa buat kamu celaka sendiri.” Aira perlahan mendongak. Di balik kain cadarnya, manik matanya yang bening menatap lurus ke dalam manik mata hitam Respati. Ada kesan kehangatan dan pemahaman baru yang terpancar dari tatapan Aira—melihat jelas bahwa di balik nada bentakan dan wajah dingin suaminya, ada kepanikan tulus yang tidak mampu pria itu sembunyikan sepenuhnya. “Kamu ... khawatir sama aku, Mas?” Pertanyaan polos dan lembut itu seketika memaku Respati di tempatnya. Manik mata hitam pria itu berkilat sengit. Rahangnya makin mengeras, seolah pertanyaan Aira baru saja me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD