Pagi hari …. Aira perlahan membuka matanya. Ketika mencoba menggerakkan tubuh, rasa pegal dan remuk seketika menjalar di sepanjang pinggang, paha, hingga ke setiap persendiannya. Kulitnya terasa hangat dan sensitif, menyatukan sisa-sisa jejak penyatuan panas yang terjadi berulang kali dari siang hari hingga menjelang malam. Respati tidak melakukannya secara tergesa-gesa. Pria itu memperlakukannya dengan perpaduan cara yang aneh—teramat lembut, tetapi begitu menuntut kepatuhan. Setiap kali Aira berpikir permainan gairah itu telah usai, sang suami kembali merengkuhnya, menariknya lagi ke dalam pusaran keintiman yang seakan tidak ingin melepaskan Aira sedikit pun dari kekuasaannya. Meski begitu, Respati juga memberi jeda sebentar tiap kali mendapat pelepasan. Ia seperti sengaja memberi Air

