Malam kian larut di lantai lima belas apartemen mewah itu. Dua perempuan tengah duduk berdekatan di atas sofa empuk. Aira memangku cangkir teh chamomile hangat yang diseduhkan Aurel beberapa saat lalu. Kepulan uap tipis membumbung dari permukaan cangkir, tetapi jemarinya yang menggenggam keramik itu masih terasa sangat dingin. Wajahnya yang tirus pucat pasi, dihiasi lingkaran hitam tipis di bawah mata—jejak nyata dari siksaan fisik dan kelelahan mental luar biasa yang beberapa hari terakhir. Di sampingnya, Aurel sedang sibuk menatap layar laptop yang menyala terang. Jemarinya menari lincah di atas papan ketik, memeriksa portal kemahasiswaan kampus mereka. “Oke, Ra,” gumam Aurel seraya menggeser kursor ke bawah. “Persyaratan berkas wisuda gelombang ini ditutup lusa jam lima sore. Semua

