Tangan Aira mendorong d.a.da bidang Respati. Gerakannya begitu kuat, tetapi tenaga Respati jauh lebih besar membuat tubuhnya tidak berpindah sedikit pun. Pria itu menekan bibirnya lebih dalam. Lidahnya yang basah menari-nari, menuntut balas dari lidah Aira yang masih kaku. Dalam sekali tindakan, Respati sudah menindih tubuh Aira. Ia meraih kedua tangan perempuan tersebut dan ditahan ke atas kepala. Ciumannya makin brutal. Gairah itu hadir begitu saja tanpa permisi. Tiap sisi bibir Aira ia jamah tanpa terkecuali. Rasanya manis. Sensasi dingin dari bibir merah itu membuat Respati makin candu untuk mencuumbu lebih lama. Ia mengulum lidah Aira. Mempertahankannya dalam gigitan kecil. Aira masih diam. Ia biarkan otaknya mencerna tiap hal yang dilakukan Respati. Sungguh, ia ingin menolak se

