Kalimat itu menghantam keras harga diri Aira. Perempuan itu membeku seketika, seolah seluruh udara di dalam ruangan mendadak hilang. Dadanya sesak, tetapi ia bahkan tidak tahu bagaimana harus membela dirinya sendiri. Tatapannya menghindar ke segala arah, berusaha mati-matian agar tidak berpapasan dengan mata gelap milik Respati yang terasa seperti menguliti harga dirinya tanpa ampun. Kedua tangannya meremas sisi gaunnya erat-erat. Tubuhnya yang memang sudah lemas sejak tadi kini semakin gemetar. Aira tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menghabiskan hidupnya di tempat semewah ini—tempat yang dari luar terlihat seperti istana, tetapi di dalamnya justru terasa seperti kurungan yang perlahan mencekiknya setiap hari. “Siapkan apa yang saya minta!” Respati menyentak dagu itu dengan kasar

