Kania menyipitkan matanya tajam. Ia menunggu jawaban putra sulungnya dengan sabar, meski rasa penasarannya jelas tidak bisa disembunyikan. Untuk pertama kalinya, ia melihat perempuan itu berada di mansion Respati—sesuatu yang tidak biasa, mengingat putranya bukan tipe pria yang sembarangan membawa orang ke dalam rumah pribadinya. Sekilas, ada sesuatu yang membuat Kania terdiam lebih lama. Perempuan itu mengingatkannya pada Yasmin—ibunya sendiri. Bukan wajahnya, melainkan caranya berpakaian, tatapan matanya yang teduh, juga langkahnya yang anggun dan tertata. Ada kelembutan yang begitu familiar di sana, membuat Kania tanpa sadar memberikan senyum ramah pada perempuan yang masih berdiri kaku di sana. “Dia bukan siapa-siapa, Pa.” Jawaban Respati membuat Kania langsung menoleh. Senyum tipis

