Pernyataan Respati tidak lantas membuat Aira bergerak. Ia justru terdiam cukup lama, seolah tubuhnya kehilangan kemampuan untuk sekadar melangkah. Napasnya memburu, tidak teratur, naik turun dengan kacau. Perempuan itu tidak mampu lagi mengendalikan dirinya sendiri. Gejolak di dalam dadanya masih bergemuruh hebat. Amarahnya belum reda, bahkan semakin membakar setiap kali ia mengingat semuanya. Rasa kecewanya pun terasa seperti luka yang terus disayat berulang kali, tidak bisa diobati dengan kata-kata apa pun. Aira masih sulit percaya bahwa semua yang terjadi kali ini benar-benar nyata, bukan mimpi buruk yang akan lenyap saat ia membuka mata. Perempuan itu menarik napas panjang dengan mata terpejam rapat. Namun, justru di saat itulah air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Bagaimana mungkin

