Aira menunduk. “Saya ... suami saya tidak menginginkan saya, Tuan.” Air mata di pelupuk perempuan tersebut meluncur. Jika Respati saja begitu mudah mempermainkannya, Aira juga akan membuat cerita yang sama. Ia tidak ingin terus mengalah. Tidak mau terus diam ketika pria itu dengan mudahnya menyisihkan posisinya. Diam-diam, Kallandra memperhatikan bagaimana sikap Aira. Melihat air mata itu lolos entah kenapa Kallandra merasakan sakit luar biasa. Beda halnya dengan Respati, ada denyut aneh yang ia rasakan. Entahlah. Ada semacam rasa sakit, tetapi enggan untuk ia akui. Biantara mencerna sejenak jawaban Aira. Intuk kali pertamanya, ia ingin tahu lebih jauh tentang orang lain. Rasa pedulinya tiba-tiba hadir tanpa diminta. “Kenapa bisa sampai terjadi seperti itu? Kamu nikah paksa?” terka

