Bab 94

3553 Words

Biantara masih menikmati secangkir kopi hitam yang mulai kehilangan uapnya. Sesekali pria paruh baya itu mengalihkan pandangan ke arah kolam renang, memperhatikan tawa pelan yang terdengar dari Kania, Ranti, dan Aira. Pemandangan sederhana seperti itu berhasil memberinya ketenangan setelah berhari-hari berkutat dengan urusan perusahaan. Suara langkah kaki mendekat membuat Biantara mengangkat kepala. Kallandra berhenti tepat di hadapannya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Wajah putra keduanya tetap setenang biasanya, tetapi sorot matanya menyiratkan keseriusan yang jarang sekali diperlihatkan. Biantara langsung menangkap perubahan tersebut. Ia lantas memberi isyarat agar putranya duduk di kursi seberang. Kallandra menurut tanpa banyak bicara. Ia menarik kursi perlahan, kem

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD