Bab 93 Tamparan itu masih berdenging di telinga Aira. Pipinya panas, matanya berkunang sesaat. Namun, yang membuat dadanya benar-benar meledak bukan rasa sakit fisik tersebut. Ini tentang harga dirinya. Setiap penghinaan. Setiap tuduhan tanpa bukti. Setiap kali ia harus diam meski hatinya hancur berkeping-keping. Hal itu sudah ia lakukan berulang kali. "Lily!" Respati membentak, suaranya dipenuhi amarah. Lily tersentak mendengar bentakan tersebut. Sepanjang mengenal Respati, ia tidak pernah sekali pun mendapati pria itu bicara sekasar ini padanya. Suara yang biasanya lembut dan penuh perhatian setiap kali ditujukan untuknya, kini terdengar tajam seperti sedang menegur orang asing. Ia mundur selangkah, matanya membelalak kaget. Ada sesuatu yang runtuh di dadanya mendengar nada tersebut

