Langkah kaki Aurel yang tergesa mengentak lantai kayu koridor lantai belas, setengah memandu dan menyeret Aira yang kehabisan napas. Jantung perempuan bercadar itu bertalu begitu kencang, menghantam daada dengan kepanikan yang kian membesar setiap kali bayangan Lily dan pria tegap itu melintas di benaknya. “Rel, pelan-pelan,” pinta Aira serak saat Aurel memutar kunci dan mendorong pintu unit 1508. Begitu mereka masuk, Aurel langsung menutup pintu dengan sekali sentakan cepat dan menguncinya dari dalam. Suasana di dalam apartemen yang tenang berbanding terbalik dengan ketegangan yang mengepul di antara mereka. Ia berbalik, menatap Aira dengan binar mata yang dipenuhi dorongan tekad dan keberanian yang membakar. “Oke, dengerin gue baik-baik, Ra,” ujar Aurel dengan nada tegas, memegang ked

