Hujan turun semakin deras, kilat menyambar, memperlihatkan awan hitam yang memenuhi langit di atas sana. Aku berdiri di ruang tamu, menatap ke halaman kosong dengan rasa was-was. Tidak biasanya Alexander pergi hingga larut malam. Apalagi Sekarang waktu hampir menunjuk pukul dua belas. Berkali-kali aku menghubungi ponselnya, namun tak ada jawaban. Jantungku berdegup semakin kencang, ketika suara halilintar menggemakan kaca jendela, membuat kaca itu bergetar. Aku menutup pintu rumah itu kembali, kemudian melangkah cepat ke belakang, di mana kamar-kamar para pelayan itu berada. "Diana!!" Aku mengetuk pintu kamarnya keras-keras, sambil sesekali meneriakkan namanya. Suara derit pintu dibuka, dan aku melihat gadis itu dengan mata yang masih mengantuk. Ia menatapku dengan kening menyat

