Rutinitas baru yang Gara jalani adalah sebagai juru parkir. Disamping itu ia juga tidak melupakan urusan kantor dan perusahaan nya. Terlebih sudah ada Randi--asistennya yang memegang kendali sementara. Selama lelaki itu masih di Bandung menyelesaikan urusan nya.
Urusan? Urusan pertemanan yang rumit dan unik, juga malah membuat dirinya ingin lebih lama di kota kembang, ingin lebih tahu tentang gadis itu dan keluarga nya. Mencoba mengenal lebih dekat, kini lelaki itu sudah merasakan sedikit kehidupan baru dalam dirinya. Seperti memiliki tujuan hidup yang baru.
Karena .... mungkin gadis itu.
Hidup sendiri di dalam apartemen menurutnya hal yang biasa. Di Jakarta bahkan dia kadang selalu menginap di kantornya. Makan dan minum pun Gara lebih suka pergi ke restoran dan sering memesan online. Ya, makanan siap saji.
Di sini pun, lelaki itu tidak pernah sama sekali memasak, menyentuh wajan pun tidak pernah. Lihat saja, dapur apartemennya bersih sekali. Barang-barang tertata rapi masih ditempatnya. Jika lapar, Gara hanya memesan lewat ponselnya.
Bekas makanan yang selalu berantakan di meja bahkan di sofa lelaki itu pun tidak peduli, sudah ada bagiannya untuk membersihkan semua itu, yaitu office boy di apartemennya.
Rumah Gara?
Sebenarnya tidak terlalu jauh dengan apartemennya. Tapi lelaki itu seperti enggan mendiami rumahnya sendiri. Rumah Ayahnya. Gara masih takut dan merasa bersalah atas masa lalu yang ia lakukan terhadap Ganda--ayahnya.
Kini, rumah itu kosong tak berpenghuni. Mati seperti tidak ada nyawa didalamnya. Berdebu dan dingin. Entah kapan lelaki itu akan menginjakkan kakinya lagi ke rumah ayahnya. Sebelumnya ada beberapa asisten rumah tangga di rumah itu, tapi Gara malah memberhentikan mereka dengan alasan tidak akan mendiami rumah itu lagi. Tidak tahu kapan dirinya akan kembali ke rumah itu.
Kehidupan masa lalu nya membuat lelaki itu tidak pernah peduli akan keadaan sekitar dan dirinya. Kesalahpahaman di masa lalu, yang terjadi membuat Gara berubah menjadi sikap dingin, tempramental dan bahkan suka minum.
Uang almarhum ayahnya ia pakai foya-foya dengan semua teman yang hanya memanfaatkan keadaan lelaki itu yang kaya.
Namun sekarang?
Dia sudah berubah, perlahan meninggalkan kesukaannya minum. Merokok pun jarang, bahkan lelaki itu mulai sedikit peduli dengan orang lain. Kembali menjadi Gara kecil yang polos dan ceria. Bersama teman-teman sejatinya, Rama, Rara, dan Alexa.
Gara kangen mereka, lelaki itu merindukan sahabat sejatinya.
"Makanan datang!" suara kurir makanan berteriak didepan pintu apartemennya.
Membuat lamunan lelaki tampan tentang gadis itu menghilang. Gara bangkit dari sofa menuju pintu.
"Nasi goreng, chicken swing dan minuman bersodanya, Bang."
"Makasih. Saya sudah bayar tadi."
"Siap, Bang." kurir makanan kemudian pergi.
Masih dengan rambut basahnya, lelaki itu kembali ke sofa membuka makanan yang baru ia terima. Memakannya dengan tenang.
"Apa gadis itu juga sedang makan ya?" tiba-tiba Gara memikirkan Alya.
"Kapan gue bisa bertemu dengan keluarga nya. Gue ingin mengenal mereka."
Lelaki itu melanjutkan makannya sembari membayangkan wajah Alya yang manis ketika salah tingkah dengan pipi merahnya. Sesekali Gara tersenyum disela-sela makannya.
Suara ponsel berdering, menampakkan di layar tertera nama kontak Rama.
"Apa?"
"Baik-baik kek, ngomongnya. Gak kangen ma gue?"
"Hem. Ada masalah di perusahaan?"
"Perusahaan aman. Gue cuma ingin telepon lo aja. Gak ada kabar, betah di Bandung?"
"Bentar lagi gue pulang."
"Kapan?"
"Kalau urusan gue udah beres disini."
"Masih urusan cewek itu?"
"Hem."
"Pulang nanti bawa dodol."
Gara hampir tersedak makanan, dengan cepat ia mengambil minuman bersoda dan meneguknya.
"Dodol?"
"Istri cantik gue lagi pengen dodol Bandung katanya. Sekarang kadang suka ngidam yang aneh-aneh. Malah pernah istri gue minta mie instan yang belum pernah ada dimanapun." Rama tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Mie instan yang belum pernah ada dimanapun? Awalnya Rama kebingungan harus bagaimana, terpikirkan ide konyol itu. Rama memasak semua mie instan berbagai merek dan mengolahnya secara bersamaan, menyatukan semua mie instan tersebut dalam satu wajan besar serta semua bumbunya ia satukan.
Bukannya marah, Lisa malah melahapnya dengan nikmat. Hanya satu piring, sisanya? Mie sebanyak itu harus Suaminya yang menghabiskan. Wkwkwk
"Istri lo hamil?"
"Yoi, hebat kan gue! Bisa bikin Lisa hamil," terdengar cekikikan Rama disebrang telepon. "Jalan tiga bulan istri gue."
"Ok, selamat ya." Gara sepertinya ingin cepat-cepat mengentikan percakapannya di telepon, ia tahu Rama selalu akan menggoda nya jika sudah menyangkut masalah perempuan.
Gara yang kaku dan tak pernah peduli dengan wanita, begitu yang Rama--sahabatnya itu tahu. Padahal mah dulu Rama juga seperti itu jika berhadapan dengan wanita, malah Rama sendiri yang meminta adik Lisa untuk mengajarinya menggombal, wkwkwwk.
Tapi itu dulu, sekarang lelaki itu malah semakin gencar menggoda dan mengerjai Alya.
"Tunggu, jangan tutup teleponnya dulu. Lisa pengen dodol, pulang nanti lo bawa ya."
"Disana kan banyak, beli aja di supermarket terus bilang kalau itu dari Bandung."
"Istri gue bakalan tau, dan gue gak mau bohongi istri cantik gue. Gue lelaki jantan."
"Ya udah sono beli aja sendiri."
"Tapi Lisa ingin lo aja yang beliinnya katanya. Dan harus bener-bener dodol asli Bandung. Itu permintaan istri gue. Gak tega gue liat Lisa nangis terus. Lo gak tega kan liat wanita yang lo sayang nangis?"
"Kambing, lo."
"Ayolah! Demi istri gue dan demi persahabatan kita."
"Hm."
"Sip, gitu dong." Rama tersenyum lega mendengar tanda setuju dari Gara. Pasalnya ia malas untuk pergi keluar kota. Sahabatnya itu lebih suka memeluk istrinya daripada harus meninggalkannya. Seperti tidak rela untuk lepas sebentar saja dari pelukan istrinya itu, mungkin bawaan ngidam, atau Rama memang malas saja, wkwkwk.
"Ngomong-ngomong udah sampai sejauh mana status lo sama gadis itu? Masih teman? Atau gak dianggap siapa-siapa? Hahaha"
"Pedekate, bentar lagi mau gue ajak kawin."
"Sikaaaaaaaaat!"
**********************
"Al."
"Iya, Pak."
"Bapak pikir, kamu lebih baik berhenti saja bekerja."
Satu sendok terambang diudara tertahan sesaat sebelum di masukan ke mulut. Gadis itu menatap Ayahnya yang sudah selesai makan malam. Keluarga lengkap itu masih duduk dalam satu meja.
"Kenapa, Pak?"
"Bapak tidak ingin kamu capek. Biar bapak saja yang kerja, bapak masih mampu kan menafkahi keluarga."
Iya, Bapak mampu. Masih mampu, namun Alya bekerja hanya untuk mengusir kebosanan. Ia bosan selama bertahun-tahun tinggal dirumah tanpa melakukan apa-apa. Setidaknya ia bekerja untuk menambah uang jajan Vina--adiknya.
"Alya juga ingin mandiri, Pak. Bekerja juga membuat Alya senang."
Ibu hanya diam mendengarkan. Wajahnya seakan penuh kekhawatiran. Ibu seperti khawatir dan takut akan sesuatu yang terjadi.Tapi apa?
"Alya juga bisa jaga diri kok, Pak. Alya selalu ingat pesan bapak, jangan pernah dekat dengan orang lain."
"Bapakmu melakukan itu karena dia sayang sama kamu, Al." Akhirnya ibu ikut berbicara.
"Alya tahu, walaupun alasan sebenarnya dibalik kata sayang itu apa, Alya pun tidak tahu. Tapi Alya selalu mempercayai Bapak dan Ibu."
"Ibu takut kamu tiba-tiba sakit lagi. Beberapa bulan terakhir sakit demam kamu semakin sering."
"Tapi besoknya langsung sehat lagi kan, Bu." kedua orangtua itu saling tatap dan diam. "Hanya demam, Alya sehat, Bu."
"Bapak dengar dari adik kamu, ada laki-laki yang kenal sama kamu?"
"Jadi, karena itu Bapak melarang Alya untuk bekerja?"
"Jawab pertanyaan Bapak."
"Iya. Dia Gara teman kerja Alya, dia juga bekerja disana dengan Alya. Kami berteman, hanya itu saja. Tidak lebih."
"Sudah berapa lama kamu berteman dengannya?"
"Baru seminggu yang lalu, kami tidak pernah melakukan diluar batas, Pak. Dan Alya juga tidak pernah membawa nya ke rumah kan? Sesuai perintah bapak?"
Terselip keinginan dalam hati kecilnya ingin berteriak, mengatakan semua isi hatinya. Semua yang ia tahan selama ini. Seperti terkekang oleh semua keinginan sang Ayah. Tidak boleh ini, itu bahkan adiknya juga. Walaupun katanya itu karena sayang, tapi setidaknya kasih Alya sedikit kebebasan untuk berteman dengan yang lain. Alya ingin punya teman.
Ibu terlihat seperti menahan sesuatu, wajahnya ia paling kan. Sedangkan Bapak hanya diam dengan pandangan yang entah kemana.
Baru seminggu. Begitu yang Ayahnya tangkap dari percakapan tadi. Pak Deni memejamkan mata sejenak seraya menarik nafas dalam. Membuka kembali dan menatap putri kesayangannya.
"Bapak hanya takut."
"Alya sudah besar, Pak. Alya bisa jaga diri dan Gara, lelaki itu juga baik. Bapak juga akan tahu jika sudah bertemu dengannya."
Lelaki paruh baya itu yang sudah hampir kepala lima menggeleng perlahan. Berdiri dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Alya, Ibu dan Vina.
"Bapak takut." .