Salah.
Seharusnya sikap Alya kepada Bapak tidak seperti itu. Perasaan yang ia keluarkan kemarin tanpa bisa gadis itu tahan, mungkin membuat orangtua nya terutama Bapak menjadi sedih atau mungkin hatinya sedikit terluka oleh perkataan Alya.
Salah gadis itu bersikap seperti kemarin kepada Ayahnya. Sekarang, pikiran gadis itu malah terus memikirkan Bapak. Merasa tidak enak, bersalah dan malu. Kenapa dirinya bisa berkata seperti itu kepada Bapak. Kenapa tidak bisa ia tahan emosi yang keluar saat kemarin itu. Kenapa dirinya ...... Ah gadis itu terus menyesalinya.
Tapi dirinya juga mungkin tidak bersalah. Alya berhak tahu apa alasan bapak nya melarang semua orang ke rumah selain karena alasan sayang?
"Maaf, Pak. Alya tidak bermaksud seperti itu." pelan ia ucapkan setelah berhasil memarkirkan satu kendaran beroda dua. Seraya melepas topi yang selalu ia pakai, keringat meluncur bebas ke permukaan wajah gadis itu.
Panas tidak membuat gadis itu mengeluh. Ya, inilah pekerjaannya. Alya suka dengan pekerjaannya saat ini. Dan gadis itu memang suka bekerja, gadis pekerja keras.
Sedang Gara hanya duduk di teras keramik pos satpam sambil melihat ke arahnya. Lelaki itu tahu, ada sesuatu dengan Alya. Dari sejak kedatangannya ke parkiran, gadis itu selalu diam walaupun sudah Gara ajak bicara dan Alya selalu menjawabnya dengan ketus dan cuek tapi kali ini berbeda.
Gadis itu murung, sepanjang hari.
"Pulang?"
"Ya? Eh apa?"
"Mau pulang atau mau lembur disini?" lelaki itu tiba-tiba sudah berada dihapadan Alya. "Jangan lamunin gue terus, entar ketagihan."
"Jangan pede."
"Naik!." lelaki itu menepuk jok belakang motornya setelah dirinya memakaikan helm.
"Gue udah bilang, jangan ma---,"
"Gue gak akan ke rumah lho kok. Jangan geer."
"Ish."
"Ayo naik!"
"Kemana?"
"Pacaran."
"Hah?"
"Lo kan pacar gue."
"Ka-kata siapa?"
"Adik lo, lah." Gara gak sabar, dirinya menarik tangan Alya untuk menaiki motor gede miliknya. "Naik dan diam."
"Gue turun pas depan komplek aja."
"Siapa juga yang mau nganterin lo pulang." motor keluar gerbang membelah jalanan sore yang mulai lengang kendaraan. "Tenang, gue gak akan ke rumah lo." mungkin tidak sekarang. Lanjutnya dalam hati.
"Pegang."
"Apa?" Alya sedikit mendekat mendengarkan lelaki itu bicara.
Apa yang harus gadis itu pegang?
"Pegang."
"Udah."
"Belum kerasa." Gara menunduk sebentar namun tidak melihat tangan yang melingkar dipinggangnya.
"Apanya? Gk ngerti gue."
"Lo megang apaan?"
"Tas gue." sedikit gemas, Gara kembali menarik tangan gadis itu agar melingkarkan tangannya di tubuh gara.
"Jangan lepas, biar gue tenang jalanin motornya dan lo aman."
Diam. Gadis itu hanya diam dengan tangan kaku dan dingin memegang jaket Gara, menyentuh tubuhnya.
Apa ini? Tubuh gadis itu masih kaku dengan nafas tak berarturan. Perasaan aneh ini, getaran ini, situasi ini, begitu baru untuknya. Kenapa dirinya mau saja memegang tubuh lelaki itu. Seakan tubuhnya tidak bisa menolak. Disisi lain Gara menarik simpul senyumnya.
"Sampai."
"Ini?" kini gadis itu sudah bisa menormalkan kembali sikap dan tubuhnya. Pandangan Alya hanya tertuju pada satu pedagang kaki lima.
Mereka berdua turun dari motor.
"Kita makan disini. Kesukaan lo mi goreng kan?"
"Kok tahu?"
"Karena lo telah mengoseng-osengkan hatiku." Gara tertawa lepas.
"Onta!"
"Dari sekian banyak kenangan, cuma Onta yang lo inget."
"Maksud lo?"
"Dulu kita pernah makan mi goreng disini. Pertemuan pertama kita." Alis gadis itu mengkerut, Gara yang melihat kemudian menarik nafas dan mengerti. "Iya, lo lupa. Gak bakalan inget."
"Bang, dua porsi ya!"
"Siap, bos."
Lelaki itu mengajak Alya duduk di meja makan paling belakang.
"Kita pernah kesini?"
"Iya, lo inget?" dan jawaban gadis itu malah angkat bahu. "Gue gak akan cerita dua kali, males."
"EGP."
Matahari sore mulai tenggelam, bergantian dengan datangnya bulan dan bintang. Udara mulai menjadi dingin, malam hari datang. Kedai mie goreng mulai dijajaki banyak pembeli. Rumornya kedai mie goreng ini sangat enak dan tentu saja mie goreng yang disukai gadis itu.
Sekali lagi, Gara memperhatikan gadis itu. Sulit menemukan apa yang terjadi dengan dirinya, tubuhnya atau kepala nya yang mungkin pernah terbentur sesuatu hingga membuat Alya lupa kenangan semuanya tentang Gara.
Satu hal yang ingin ia tanyakan.
"Bapak."
"Ya? Mana?" terkejut, Alya melihat ke segala arah mencari keberadaan bapak.
"Apa orangtuamu sakit?"
"Onta! Lo ngagetin gue. Gue kira ada bapak disini."
Lelaki itu masih menatap dengan pandangan serius.
"Bapak sama ibu sehat. Kenapa?"
"Gue pernah liat orangtua lo keluar dari area rumah sakit."
"Oh, itu." Alya memperbaiki posisi duduknya. "Mereka lagi konsultasi."
"Program buat punya anak lagi?"
"Ngaco! Konsultasi demam gue lah." Gara masih menatapnya intens. "Mereka sebulan sekali selalu pergi menemui dokter katanya biar demam gue ilang."
"Demam bukannya minum obat?" Lelaki itu semakin penasaran.
"Tau lah, kata ibu demam gue beda."
"Lo, pernah ke rumah sakit bersama orangtua lo?"
Gadis itu menggeleng.
"Lo yang demam kenapa orangtua lo yang kerumah sakit?"
"Ish, apaan sih. Lo jadi banyak nanya gini ma gue. Perhatian banget."
"Pasti. Gue cowok, lo."
"Sejak kapan lo proklamarkirkan jadi cowok gue?"
"Sejak adik lo bilang."
"Jadian juga nggak. Lo ya me---." nada dering ponsel gadis itu berbunyi. Melihat nama yang tertera dilayar, gadis itu malah semakin emosi.
"Apa Vinot?" dengan suara sedikit berteriak.
"Ih kak Al, baru telepon kok marah-marah, lagi dapet? Kenapa belum pulang?"
"Gue makan dulu."
"Sama?"
"Temen."
"Oppa Gara ganteng?"
"Preeet." Alya malas menanggapi. "Udah makan kakak langsung pulang, gak bakalan lama."
"Oleh-olehnya, kak. Ditunggu."
"Tunggu aja sampai lebaran monyet." dan gadis itu pun menutup telepon cepat tanpa mendengarkan adiknya yang masih mengoceh.
"Apa lo, lihat-lihat?" Emosi gadis itu masih belum turun.
"Lah, gue punya mata gunanya buat apa?"
Gara memperbaiki kemeja putihnya dengan sedikit menggulungkan lengan kemeja melipatnya sampai siku. Menyugar rambut dengan jari-jari tangannya. Semua aktifitas lelaki itu tidak luput dari pandangan Alya.
"Sekarang lo yang lihatin gue. Kenapa? Ganteng?"
"Gu-gue gak liat lo. Pede lo selangit emang. Gue lihat abang nya kesini."
Benar saja, abang mi goreng mendekati meja mereka. "Dua porsi ya, bos."
"Ok, makasih bang."
"Siap." abang mie goreng kemudian pergi ke meja lain memberikan pesanan yang sama.
Semakin larut, semakin banyak pengunjung yang datang.
"Gue tahu, kesukaan lo mie goreng." gadis itu diam tidak menanggapi. "Gue tau dari adik lo."
Sejenak, laki-laki itu memikirkan sesuatu. Makanan kesukaannya saja Alya ingat, kenapa ke gue gak ingat ya? Sebulan yang lalu, terus seminggu yang lalu? Tau lah, pusing mikirinnya. Gara berbicara dalam hati.
Mereka berdua makan dalam diam. Alya sepertinya menikmati mie goreng itu. Ingatkan, sekarang setiap hari gadis itu selalu memakan sayuran. Bekal pun selalu sayuran terus. Gara senang bisa membawanya kesini, sejujurnya lelaki itu ingin setiap hari seperti ini.
"Alya."
"Alya." gadis itu masih makan dengan nikmat.
"Alya." untuk panggilan yang ketiganya baru gadis itu menjawab.
"Apa?" ganggu orang makan saja. Begitu ucapan hatinya.
"Senengkan gue bawa lo kesini. Ke tempat mie goreng favorit lo?"
Dan jawaban Alya malah membuat lelaki itu tertawa.
"B aja sih, kayak plat Jakarta."
.