Bekerja lagi

1412 Words
Entah Gara sedang di prank oleh Alya atau memang benar jika gadis itu lupa lagi tentang dirinya. Masa iya, baru ditinggal pergi seminggu sudah lupa lagi. Lelaki itu akan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya kepada Alya. Ya, dirinya akan menyelidiki tentang gadis itu. Tapi bagaimana? Darimana dirinya harus memulai mencari tahu?                  "Maaf, boleh saya pinjam peluitnya?" Alya mendekat ke arah Gara yang sedang duduk di tempat yang teduh.               Ya, setelah Gara kembali memperkenalkan diri lagi dan menceritakan sedikit kisah dirinya dengan gadis itu. Rama dan juga teman-teman lainnya, namun Alya masih bingung dan menggeleng tidak tahu. Gara memutuskan untuk tetap disana menemani Alya bekerja.               Meskipun sempat gadis itu menolak, namun Gara meminta izin kepada pak Maman dan beliau mengizinkan. Maksud Gara ingin tetap disini adalah memperhatikan gerak-gerik gadis itu dan mencari tahu sesuatu dari Alya apa yang Gara pun tidak tahu.                   Dan lelaki itu meminta peluit dari Alya untuk ia pakai. Sebelumnya juga memang begitu, Gara bekerja dengan peluitnya.                  "Untuk apa? Peluit ini memang selalu gue pake." Gara berdiri dihadapan Alya.                "Ya, itu peluit gue." Alya mulai kembali memanggil Gara dengan panggilan elo-gue. "Sejak kapan lo jadi peniup peluit? Perasaan kemarin-kemarin gue gak pernah liat lo disini."              Mulai lagi, Alya mulai berbicara ngaco lagi. Sejak kapan? Hei, otak gadis itu kenapa? Bisa-bisa nya lupa sampai segitunya.                    Dengan pasrah, Gara mengembalikan peluit milik gadis itu. Dirinya malas berdebat dengan seseorang yang lagi-lagi tidak mengenalnya. Alya sudah merasa jauh lagi dari dirinya. Gadis itu bersikap seperti orang asing dihadapannya.               Lelaki itu menghampiri pak Maman yang sudah selesai melakukan patroli di sekeliling gedung. Pak Maman tersenyum ramah ke arah Gara yang dibalas senyum kembali oleh lelaki itu. Sedangkan Alya sibuk di area parkir, sedari tadi gadis itu selalu disana tanpa mau mendekat ke arah kantor ruangan milik pak Maman. Mungkin karena dirinya tidak mau berdekatan dengan lelaki itu.                  "Pak, kenapa Alya tidak tahu siapa aku? Padahal sebelum ke Jakarta, kita baik-baik saja." Gara bertanya to the point.               Pak Maman melepas topi kantor nya gerah seraya meminum secangkir kopi yang masih tersisa.               "Bapak juga tidak tahu, nak Gara."                    "Tapi bapak tahu kenapa Alya tiga hari kemarin tidak bekerja?"                 "Katanya neng Alya sakit demam."                Pak Maman berbicara tanpa menatap Gara. Lelaki itu curiga pasti ada sesuatu yang pak Maman tahu dan pak Maman sembunyikan. Pasalnya, lelaki tua itu adalah teman ayahnya Alya. Mana mungkin beliau tidak tahu apa-apa.               "Apa ada sesuatu yang terjadi pada Alya?"                 Dan tiba-tiba pak Maman terbatuk setelah mendengar pertanyaan Gara. "Bapak juga tidak tahu, nak Gara. Yang bapak tahu neng Alya demam."                    "Bapak tidak bohong kan?"                  "Tidak, nak. Neng Alya memng demam."              Lelaki itu masih sedikit curiga dengan reaksi dari pak Maman. Apa sih yang terjadi dengan gadis itu? Pak Maman pasti tahu, tapi Gara tidak mungkin memaksanya untuk menceritakan yng sebenarnya. Gara hanya tahu dari sikap dan ucapan pak Maman bahwa sebagian yang dikatakan pak Maman adalah tidak benar. Dan ada yang ditutupi.                Harus mulai dari mana Gara menyelidiki ini semua? Ayah Alya?                 Ah iya, orangtua nya. Gara akan mencari tahu kepada orangtua gadis itu apa yang terjadi dengan Alya. Sampai-sampai dirinya harus kembali melakukan perkenalan ulang.                   Seperti pulsa saja ada isi ulangnya.               Ya Gara akan mencari tahu lewat orangtua gadis itu.              Pak Maman hendak akan kembali melakukan patroli keliling, namun Gara memanggilnya.           "Tunggu, Pak!" lelaki tua itu menoleh. "Apa bapak tahu dimana rumah Alya?"             Dengan respon cepat, pak Maman menggeleng dan tersenyum. Tanpa menjawab, beliau pergi menjauh.                "Bapak tidak bohong? Benar bapak tidak tahu?" Gara berteriak agar pak Maman mendengarnya. Namun lelaki tua itu seperti sengaja pura-pura tidak mendengar. Pak Maman malah semakin menjauh dan hilang dari pandangan.                 Gara menghela nafas dan meraup wajah kasar. Apa yang harus dirinya lakukan sekarang? Jika ada tongkat sihir, lelaki itu ingin memakainya untuk mengembalikan ingatan gadis itu yang sepertinya memang tidak masuk akal. Lupa semuanya hanya dalam waktu yang singkat.             "Lo, kalau capek pulang aja. Siapa suruh ikut kerja disini." Tiba-tiba Alya sudah berdiri dihadapannya.                 "Gue gak capek, hanya istirahat saja." Gara menepuk kursi kosong disebelahnya. "Sini duduk!"                     "Ogah!" Alya akan pergi namun tangannya berhasil dipegang Gara. Gadis itu menoleh. "Lepasin!"                    "Lo gak panas disana mulu? Gue disini gak bakalan gigit kok." Dengan paksa lelaki itu menarik tangan Alya dan mendudukkannya dikursi kosong.                 "Lo, bener tau gue?" tanya Alya ragu namun Gara mengangguk mantap.                "Itu yang gue kasih, bener kan saputangan lo?"                "Iya, itu bener punya gue. Kenapa bisa ada di lo sih?"                 Dengan lesu, lelaki itu menghembuskan nafas kasar. Jujur, Gara malas untuk menjelaskan kembali tentang sejarah saputangan itu.                   "Lo kan udah tau ceritanya seperti apa? Apa gue harus cerita seratus kali agar lo gak lupa lagi?"                "Tapi ... perasaan gue ...."                "Udah jangan dibahas, pokoknya intinya itu." Gara memotong ucapan Alya. "Lo, pulang jam lima sore kan?"                 "Iya." Gadis itu menjawab seraya mengipaskan topi ke wajahnya akibat cuaca panas.                Kemudian Gara berdiri dan menunjuk tempat teduh di sebelahnya. "Lo pindah sini, biar gak kepanasan."                  "Eh?" Alya terkejut dengan perlakuan Gara.                 Lama menunggu jawaban Alya, lelaki itu menarik tubuh Alya untu pindah ke tempat yang ia tunjukkan tadi. Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.                   Mungkin terkejut, atau mungkin hatinya yang tiba-tiba berdebar? Kok bisa? Padahal dia tidak pernah merasakan seperti itu dengan orang lain.                "Pulang nanti, gue anter." Gara kembali berbicara.              "Gak usah, gue tahu jalan pulang kok."               "Tapi gue pengen nganter lo pulang. Sebagai teman gak boleh?" Gara kali ini mengobrol  berhadapan dengan Alya.                 "Bu-bukan gak boleh, tapi gue gak mau aja." Kenapa Alya jadi gugup begitu hanya ditatap Gara?                  Jangan hanya karena perlakuannya tadi, dirinya jadi terbawa perasaan. Hey Alya, sadarlah! Lelaki itu bilang hanya teman. Dan kamu belum mengenal jelas siapa lelaki itu.               "Gue akan tetep anter lo."              "Lo maksa banget ya?" Alya kemudian berdiri. "Pokoknya gak boleh ya gak boleh. Atau gue blok lagi nomor lo." Dan pergi menjauhi Gara.            Menyerah? Lelaki itu walaupun Alya tidak mau diantar pulang, tapi dirinya tetap akan mengikutinya dari belakang. Ingin mengetahui rumahnya yang beberapa tempo lalu gagal mengantar karena ada Ayah Alya. Sekarang, lelaki itu harus mendapatkan alamat rumah Alya.             Setelah itu, baru dirinya akan memberanikan diri bertemu dengan orangtua Alya. Menceritakan semuanya dan menanyakan sesuatu yang sangat ingin lelaki itu ketahui.               Ya, semoga orangtua nya tidak semenakutkan yang dibayangkan lelaki itu. Semoga semuanya berjalan lancar.             "Alya, sebentar lagi gue akan tahu apa yang sesungguhnya terjadi sama lo."           
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD