Tanpa ingin berprasangka buruk dulu, pas di hari ke tujuh Gara kembali ke Bandung. Datang terlebih dahulu ke tempat dimana gadis itu bekerja, mencari sosok Alya namun tidak ditemukan. Hanya pak Maman yang lelaki itu temui lantas segera menanyakan keberadaan Alya.
"Apa Alya sakit?" Gara bertanya cemas.
Saat mendengar dari pak Maman bahwa gadis itu sudah tiga hari tidak bekerja. Gara menanyakan alasannya namun hanya gelengan pak Maman yang lelaki itu dapat.
Ada apa dengan Alya? Kenapa dengan gadis itu? Bahkan nomor ponsel Gara pun sudah diblokir oleh Alya. Gara ingin kerumahnya namun ia tidak tahu dimana lebih tepatnya. Saat dua minggu lalu lelaki itu mengantarnya pulang, hanya sampai setengah jalan. Ya, pada saat itu Alya bertemu dengan Ayahnya dan mereka pulang bersama. Gadis itu melarang Gara untuk mengantarnya lagi. Alhasil Gara masih tidak tahu dimana letak rumah Alya.
Oh, pikiran Gara jadi semakin kacau. Ia ingin sesegara mungkin bertemu dengan gadis itu. Apa mungkin Alya tidak mau berteman lagi dengannya? Tapi dengan alasan apa dan kenapa? Dirinya tidak melakukan kesalahan, hanya tidak membalas atau telat membalas pesannya. Tidak mungkin Alya akan marah dengan hal seperti itu.
"Pak, bener tidak tahu rumah Alya?" pak Maman hanya diam. Gara berpikir pak Maman ini pasti tahu tempat tinggal Alya, secara beliau adalah teman Ayahnya Alya. Mana mungkin tidak tahu.
Pak Maman hanya diam dan mencari alasan dirinya untuk tidak berlama-lama mengobrol dengan Gara. Pak Maman berpamitan kembali melanjutkan tugas.
"Kemana gue harus cari lo, Alya? Belum lama kita jadi teman kok gue udah ngerasa lo jadi jauh lagi."
Gara menggusar rambutnya kebelakang, bingung apa yang harus dia lakukan dan pergi kemana. Dari Jakarta ia membawa oleh-oleh makanan dan satu oleh-oleh istimewa yaitu saputangan ungu milik Alya yang pernah gadis itu berikan padanya untuk mengelap darah di wajah Gara. Lelaki itu ingin mengembalikannya sekarang.
Masih berada di area parkiran, sebuah dering berbunyi dari ponselnya. Tertera nama Rama, lelaki itu menghirup nafas kasar tahu apa yang akan di ucapkan sahabatnya itu.
"Lo ke Bandung lagi? Gak ngasih tau gue, Sapi!"
Marah, Rama marah dan berteriak membuat Gara harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Sorry, gue dadakan ke sini nya."
"Ketemu cewek itu lagi? Disini bagaimana? Pekerjaan lo masih banyak."
"Lo sama Rian yang urus. Gue minta tolong sama lo."
"Gampang banget lo ngomong, gue juga punya perusahaan." Rama masih terdengar kesal, lagi-lagi dirinya yang harus bekerja keras.
"Ada yang lebih penting yang harus gue urus disini."
"Hei, lo ... "
"Plis bantu gue." Dan obrolan pun terputus.
Gara tidak ingin menambah masalah. Sekarang yang terpenting adalah memang mencari keberadaan Alya. Gara merasakan seperti sesuatu yang ada pada dirinya hilang, entah apa dirinya pun tidak tahu. Yang jelas ia tidak mau kehilangan seorang teman lagi.
Ah Gara ingat sesuatu, dengan cepat ia kembali masuk ke dalam mobilnya dan melaju cepat. Ke suatu tempat yang biasa Alya datangi, tempat mie goreng kesukaannya.
Sampai, Gara menghentikan mobilnya dan langsung keluar mencari keberadaan Alya di dalam tenda penjual mie goreng. Namun Gara tetap tidak menemukannya.
Kemana lagi ia harus mencari, yang dirinya tahu hanya tempat itu dan tempat bekerjanya.
Menyerah, lelaki itu akan mencoba mencarinya di esok pagi. Gara kembali ke apartemen dengan wajah kusut dan rasa capek yang kuat. Jelas sekali, dari Jakarta langsung kesini dan langsung mencari Alya tanpa istirahat.
Gara hanya berharap semoga besok gadis itu datang untuk bekerja kembali.
"Alya, jangan lupain gue. Pertemanan ini jangan sampai putus."
Tanpa menunggu lama, Gara sudah terlelap masuk ke alam mimpinya. Mengobati rasa rindu yang Gara rasakan.
Ternyata memang benar kata Dylan, rindu itu berat.
******
Pagi sepertinya terlalu cepat menyapa, Gara bangun seperti biasa membersihkan diri dan sarapan dengan pesanan online yang sebelumnya sudah ia pesan.
Tidak ingin terburu-buru namun juga tidak ingin berlama-lama, lelaki itu ingin melihat kembali ke tempat pekerjaan dimana Alya bekerja. Ya, semoga saja hari ini Alya bekerja dan dirinya bisa bertemu dengan gadis itu.
Gara menjadi semangat kembali, sebelum berangkat tidak lupa dirinya membawa saputangan ungu milik Alya. Bergegas mengambil kunci motor ninja nya dan mulai melaju di jalanan. Sungguh lelaki itu sudah tidak sabar ingin cepat bertemu dengan Alya.
Lagi-lagi berdoa dalam hati semoga temannya itu ada disana. Senyum langsung terukir di bibir nya.
Saat tiba dan hendak memikirkan motor, Gara melihat Alya. Gadis itu sedang memikirkan kendaran milik orang lain.
Benar kan, dirinya akan bertemu hari ini dengan gadis itu. Dan benar, Alya ada disana didepannya. Lalu saat gadis itu menoleh melihat dirinya, Gara belum membuka helm. Alya lantas menyuruhnya untuk parkir ditempat yang kosong. Dengan arahan dari Alya, lelaki itu menurut saja. Membuka helm dan tersenyum kepada Alya. Respons dari gadis itu hanya mengangguk dan kembali mencari pemotor lain yang akan memakirkan motor di area nya.
"Hei." Gara tidak sabar, dirinya menyapa terlebih dahulu setelah mendekati gadis itu.
Alya menoleh dengan wajah biasa. "Iya, ada apa?"
Gara malah mengerjap bingung. "Gue ke Bandung lagi, lo gak kangen?"
"Bapak bertanya pada saya?"
Semakin membuat Gara bingung. Ini seperti Dejavu.
"Baru seminggu ditinggal masa udah lupa lagi." Gara terkekeh pelan menyangka bahwa Alya memang sedang mengerjainya. Namun ekspresi gadis itu lagi-lagi membuktikan bahwa Alya sama bingungnya.
"Maaf, bapak kenal saya?"
"Kenal lah, lo Alya kan?" Gadis itu mengangguk. "Gue Gara."
"Terus?" Gadis itu seperti bingung dan menunggu kelanjutan ucapan Gara.
"Lo temen gue, kita pernah makan bareng mie goreng di tempat biasa dan di tempat mie goreng kesukaan lo."
Alya masih diam.
"Mie goreng spesial bakso dan udang?" Gadis itu mengangguk. "Dan kita pernah makan disana, lo sempat mau traktir gue. Tapi akhirnya gue ya g traktir lo sebagai ucapan perpisahan karena gue mau ke Jakarta."
Ya ampun, Gara sampai harus menjelaskan panjang lebar seperti itu. Setelah menjelaskan pun gadis itu hanya diam, membuat Gara tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Lo gak ingat gue?" Gara kembali berucap, "Gue temen lo." lelaki itu meyakinkan.
"Tapi, saya tidak tahu bapak."
Gara menggaruk kepala pusing dengan apa yang terjadi. Alya, gadis itu kenapa lagi-lagi lupa. Apa yang terjadi padanya? Apakah gadis itu hilang ingatan? Kalau iya, berati Gara harus memperkenalkan diri lagi. Dua kali dia harus berkenalan dengan gadis itu. Sungguh konyol.
"Mana ponsel lo? Kenapa kemarin lo blokir gue?"
Seketika mata Alya melotot. "Oh jadi bapak yang kirim pesan dan telepon itu?"
Loh kok yang itu dia ingat? Yang kemarin-kemarin kenapa dia tidak mengingatnya?
Ya Tuhan, jangan membuat Gara stress dengan semua situasi ini. Apa Alya sedang mengerjainya? Lagi-lagi itu yang Gara pikirkan.
"Pak, bapak yang kemarin telepon?" Alya kembali bertanya.
"Iya, kenapa lo blokir."
"Saya gak tau kalau itu bapak. Dan maaf, siapa bapak?"
"Gue Gara." lelaki itu menjawab dengan sedikit kesal.
Apa-apaan ini, dirinya seperti sedang dikerjai saja. Dan dimana sejarahnya seorang teman harus berkenalan lagi setiap mereka tidak bertemu selama seminggu lebih atau sebulan lebih.
"Bapak jangan sewot begitu dong."
"Gue Gara, bukan bapak-bapak, dan ingat kita ini temenan. Sudah temenan."
Alya memicingkan mata merasa curiga jika lelaki didepannya ini hanyalah seorang penipu yang ingin memanfaatkannya. Ya, seorang penipu tampan.
"Buktinya?"
Tanpa berfikir panjang, Gara langsung mengeluarkan saputangan ungu dari balik jaketnya. Gadis itu tentu saja terkejut dan segera meraih saputangan di tangan Gara.
"Saputangan saya, kenapa ada di bapak?"
"Gara. Bisa gak, ngomongnya gue elo lagi? Kita ini teman." Gara emosi.
"I-iya, kenapa?"
"Iya, itu bukti bahwa kita adalah teman." Gara memijat pelipis pusing.
Apakah dirinya harus menceritakan kembali awal kisah pertemuan dirinya dengan Alya?
Ya Tuhan, bisa-bisa Gara terkena penyakit darah tinggi.