Bab 4. Patah Hati Gue

1012 Words
Riko : Elu nggak masuk kelas hari ini? Kok nggak ngasuh tau gue? Naomi : Urus SIM C Riko : Ah? Masa? Naomi : Iya, gue mau bawa motor. Kakak gue udah sibuk, jadi susa bareng ma dia Riko : Wah, asyik dong, lu bisa boncengan gue ke mana-mana Naomi sebal saat membaca pesan-pesan dari Riko malam setelah dia mengikuti tes untuk mendapatkan SIM C. Hatinya pilu, apalagi saat mengingat kisah-kisah indahnya bersama Riko. Ada beberapa pesan dari Riko selanjutnya, tapi Naomi malas membalas. *** Keesokan harinya di kantin sekolah. Riko berjalan cepat dengan wajah marahnya ke tempat meja Naomi. "Kenapa lu nggak bales-bales wa gue, Omi! Lu baca doang!" sergah Riko tiba-tiba. "Mau lu? Bales? Ha? Pake otak!" "Paan sih lu?" "Lu pacaran ma kakak gue, 'kan?" Wajah Riko sedikit memucat. "Pacaran? Nggak!" "Pedekate, 'kan? sok sok romantis dan sok sok baru kenal?" Riko kelabakan. "Yaelah ... gitu doang, obrolan biasa, Omiii. Basa basi ma kakak lu." "BASI! Hati gue udah BASI ma elu!" sergah Naomi. "Okay, trus mau lu apa?" Riko mulai memancing emosi Naomi. "Kita putus!" Naomi lalu berjalan cepat menghindar dari Riko, dengan perasaan kesalnya, dan hari ini adalah hari tersial bagi Naomi. Hubungan asmaranya dengan Riko berakhir. *** Pagi itu tidak ada guru yang mengajar di kelas Naomi, karena bu Yuli berhalangan hadir. Para murid pun ditugaskan untuk mengerjakan latihan yang diberikan bu Yuli. Wilma memandang Naomi, dan dia yang ikut larut dalam kesedihan Naomi. Wajah Naomi tidak secerah biasanya, dan sudah tiga hari ini Naomi tidak lagi ke toilet sekadar 'say hello' ke Riko. "Jadi Riko selama ini memang suka sama Nat?" Naomi mengangguk. Wajahnya tertekuk sedih. "Dia bilang dia nggak mau backstreet lagi. Nunggu gue kelamaan masih setahun lagi. Kalo kak Nat, 'kan tinggal beberapa bulan aja." "Masa sih alasannya itu. Nggak percaya gue. Bilang aja dia ambil kesempatan dalam kesempitan. Kebetulan Kakak lu suka, dia gercep. Kak Nat idola sekolah dan cantik." Wilma mengusap punggung Naomi perlahan. Dia adalah saksi hidup pasang surut hubungan antara Naomi dan Riko. Banyak indahnya memang, karena Riko dan Omi yang sebenarnya saling mencintai, meski terkadang Riko main api. Tapi sepertinya kali ini Naomi benar-benar kesal. Biasanya hanya beberapa jam mereka berdua saling diam. Ini sudah lewat tiga hari. Tiba-tiba Naomi menerima pesan dari Riko. Riko : Toilet, Om, lu nggak dateng, Nat gue putusin. "Udah, putus aja lu. Lu buat salah terus. Itu setan toilet udah sebal kali liat kelakuan lu ma Riko. Gue aja geli ... toilet? Apa nggak ada tempat lain? Jijik gue," ujar Wilma yang akhirnya mau angkat bicara tentang kebiasaan buruk Naomi dan Riko selama berpacaran, dan dia yang sebal. "Ini udah saatnya lu akhiri kelakuan lu yang menjijikkan itu. Udahlah. Anggap aja ini tahap awal lu berubah," lanjutnya meyakinkan. "Tapi ... mutusin Kakak gue? Gue nggak tega dia bakalan nyakitin Nathalie, Wilma." "Itu cuma akal-akalan dia aja. Lu, 'kan tau Riko udah lama. Udah sering main ancam-ancam." Nasehat Wilma ternyata tidak diindahkan Naomi. Dia yang diam-diam tetap pergi ke toilet untuk menemui Riko. *** "Gue kangen berat ma elu, Om," Riko mulai beraksi. Memeluk dan siap melumat bibir Naomi. "Apa apaan sih lu, Riko!" Naomi mencoba mendorong tubuh besar Riko, karena sikap Riko yang beringas. "Bentar aja. Gue kangeeen." "Riko! Apa-apaan sih. Gue teriak nih!" Naomi menampar keras pipi Riko. Riko seperti tidak memperdulikan rasa sakit di pipinya yang ditampar keras Naomi. Dia bahkan mengecup leher Naomi, menggigit-gigit kecil hingga Naomi sedikit terbawa perasaannya. Sejenak dia membayangkan wajah Nathalia. "Udah, Riko. Cukup! Gue nggak mau lagi! Ini benar-benar terakhir! Lu jangan sampai nyakitin hati kakak gue. Cukup hari ini. Kalo lu minta lagi, lu boleh putusin dia sesuka hati lu! Tapi jangan harap lu bisa balik ke gue lagi!" Naomi balik mengancam. Naomi memang kalah, dan dia kembali melumat bibir Riko, membiarkan Riko mengecup seluruh wajahnya dan menjejal lehernya. *** Naomi kembali ke kelas dengan wajah masam bercampur sedih. "Kok rambut lu nggak diikat?" Wilma curiga dengan rambut Naomi yang digerai saat kembali duduk di sisinya, juga acak-acakan. Wajahnya berubah tidak senang dengan Naomi. "Ah ... lu memang bucin tingkat tinggi," ketusnya kesal, tahu bahwa Naomi yang pasti bertemu Riko di toilet. "Last time. He begged," ujar Naomi. Wilma menggeleng, dia sebenarnya tahu bahwa Naomi yang masih mencintai Riko. Tapi Naomi juga sangat menyayangi Nat. Posisi yang sangat sulit. "Lu tuh kuat, Omi. Gue yakin lu bakal bisa melalui ini semua. Pikir positif aja, Om. Setidaknya lu nggak bohong lagi ma bokap dan nyokap lu," ujar Wilma. Naomi menghela napas panjang, perasaannya memang sangat kacau. Teringat dua malam lalu Nathalie berteriak gembira saat menerima telfon dari Riko. Dia memeluk Naomi kuat-kuat dan mencium-cium kening adiknya berulangkali. Riko menyatakan cintanya ke Nathalie. Naomi sangat sedih. Tapi ada hal yang sedikit menghibur Naomi, surat izin mengemudinya sudah ada di tangan. Akhirnya Naomi bisa mengalahkan mental block yang dia idap selama ini. Ternyata ada hal baik setelah putus dari Riko. Satu lagi, motor ibunya diganti dengan yang baru. "Bapak khawatir kamu iri karena kakakmu bawa mobil. Ini Bapak ganti motor lama mamamu," begitu alasan Tirta saat Naomi sudah mulai mengendarai motor ke sekolah. "Ya ampun, Pak. Aku nggak papa pake motor lama itu juga. 'Kan udah biasa pake itu dari dulu. Lagian aku juga nggak iri kok sama Kak Nat," balas Naomi yang meskipun dia selalu dinomorduakan di rumah, tidak masalah baginya. Tirta tersenyum mendengar jawaban dari Naomi. Naomi sebenarnya tidak pernah iri dengan Nathalie, meskipun Naomi tahu kasih sayang bapak dan ibunya yang terkadang agak berlebihan ke kakaknya, dibanding ke dirinya. Wajar sih, Nathalie sedari kecil selalu bikin bangga keluarga. Dari prestasi akademiknya, ikut lomba-lomba dan menjuarainya, bahkan sikapnya yang sangat manis dan baik itu. Jika ada acara keluarga, Nathalie selalu yang diutamakan untuk dibawa ibu dan bapak. Banyak yang sudah 'menitip' jodoh ke Nathalie. Dan hampir semuanya dari kalangan jetset. Nathalie benar-benar spesial. Tapi Nathalie tetap kakak yang baik bagi Naomi, tidak serta merta semena-mena atau angkuh, dan dia yang menyayangi Naomi. Apa yang dia miliki, Nathalie selalu mengingat Naomi dan dia mau berbagi. Karenanya, Naomi pun menyayangi kakaknya itu. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD