Bab 5. Gue Lega

1082 Words
Hari-hari Naomi kini banyak berubah sejak putus dari Riko. Rambutnya yang sebelumnya terurai dan kadang terkucir rapi, dia potong sedikit pendek, sehingga ada bayangan baru jika dia bercermin. Karena terkadang jika dia melihat rambutnya yang panjang di cermin, dia mengingat tangan kokoh Riko yang mengelus-ngelus rambutnya, dan Naomi benci mengingat itu. Wilma Valerie, sahabat Naomi juga sangat senang melihat perubahan Naomi. Apalagi sekarang Naomi sudah bisa bawa motor dengan sebebas-bebasnya. Waktu berduaan mereka pun jadi lebih panjang, bahkan saat sama-sama naik motor dan mereka yang berdampingan, tetap saja mereka ngerumpi. Sampai-sampai pengendara lain di jalanan terlihat sebal melihat kelakuan mereka berdua. "Heh! Naik motor sambil ngobrol! Kurang modal apa? Ngobrol di Café!" hardik salah satu pengendara mobil yang sebal melihat motor Wil dan Om terlihat lamban di depannya. "Oke, Om ganteeeng. Mmuuach!" seru Naomi dan Wilma sambil tertawa-tawa. Tapi setelahnya, baik Wilma maupun Naomi akhirnya melaju kencang. Naomi pun banyak bercermin ke Wilma sekarang, dari model baju, sikap cuek, sampai model rambut. Hingga teman-teman mereka di sekolah menyangka mereka kembar siam. Positif sih positif, tapi sikap cuek Wilma sama pelajaran sekolah sedikit 'merusak' Naomi. Biasanya Naomi paling rajin mengerjakan PR atau mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik, kini dia berubah malas-malasan. Tentu saja hal ini membuat Denok mengomel setiap hari. "Omi! Ya ampuuun! Ini nilai kamu kok malah turun drastis begini. Mau kuliah di mana nanti kamu? Nilai segini nggak cukup buat kamu lanjut kuliah di kampus terkenal!" omel Denok yang kesal ketika melihat laporan akademik semester ganjil Naomi, yang ternyata banyak yang tidak mencapai target, juga tidak tuntas. Kalau sudah begini, Naomi hanya diam bertekuk, tidak berani membalas omelan mamanya. Nathalie juga terus berusaha membantunya. Tapi tetap saja Naomi tidak begitu b*******h belajar. "Kenapa kamu, Omi? Aku liat kamu sangat berubah akhir-akhir ini. Apa karena aku yang sudah sibuk mempersiapkan kuliah?" tanya Nathalie suatu sore. Akhir-akhir ini Nathalie memang sangat sibuk mengikuti berbagai les dalam rangka persiapan tes kuliah nanti, dan dia yang selalu ditemani Riko. "Mungkin saja," balas Naomi pendek. "Ck, kamu tuh jangan terlalu bergantung denganku, Omi. Ntar kalo aku jadi kuliah jauh dari rumah dan luar kota, kamu nanti gimana?" ujar Nathalie yang khawatir dengan perubahan sikap adiknya. Sikap keseharian Naomi memang tidak berubah, hanya nilai akademiknya yang berubah drastis. *** "Udah, Omi, yang penting naik kelas. Setelah itu kita belajar sungguh-sungguh biar lulus. Belajarnya pas deket-deket kelulusan aja, Om. Yang penting senang-senang." Kata-kata Wilma ini memang membuat Naomi lebih relaks di satu sisi, dan Naomi merasa memerlukan waktu santai, dan bersenang-senang. Wilma menganggap waktu dan pikiran Naomi hampir semua tercurahkan ke Riko. Tapi di sisi lainnya, ternyata kata-kata Wilma justru berpengaruh buruk terhadap nilai-nilai akademik Naomi. "Itung-itung membayar waktu lu pacaran dulu. Lu yang ketekuk terus sama si Riko. Nah sekarang saatnya lu bersenang-senang," dukung Wilma lagi. Seandainya ibu dan bapak Naomi tahu bahwa salah satu penyebab turunnya nilai akademiknya Naomi adalah Wilma, bisa kacau persahabatan mereka. Wajar Wilma santai, dan dia yang tidak begitu peduli dengan nilai-nilai pelajaran di sekolah. Dia berasal dari keluarga kaya raya. Papanya adalah salah satu pejabat penting di Pertamina, dan mamanya pengacara handal. Mau kuliah di mana saja akan gampang sekali buat dia. Naomi? Lu gimana? "Gue nggak niat kuliah sih, kerja aja deh kayaknya. Kerja apa aja yang buat gue senang," ujar Naomi yang sudah tidak peduli dengan nilai-nilai akademik. "Lah kalo nggak niat kuliah, ngapain capek-capek belajar?" balas Wilma. "Iya gitu maksud gue." "Tapi memang ada kerjaan yang nerima tamatan SMA?" "Banyak, Wil. Banyak banget. Justru tamatan kuliah yang susah sekarang nyari kerjaan ... kompetisinya tinggi." "Hahaha ngarang lu. Udah error nih, sejak putus ada yang konslet kayaknya di otak lu." "Ya maksud gue kerjaan yang lu tau lah, kayak office girl, bersih-bersih, kurir, atau apalah. Yang sarjana, 'kan ogah kerja-kerja segitu." "Lu mau kerja yang gitu-gitu?" "Iya gue mau, yang penting gue hepi." "Haduuuh, Omiii. Emang orang tua lu boleh gitu? Bapak dosen, Ibu juga dosen, anaknya kurir? Lu udah sakit ih, malu-maluin." "Jadi lu malu ma gue? Seandainya gue kurir, trus gue antarin nih barang yang lu beli. Jangan ngeremehin kurir, duitnya juga banyak kalo rajin." "Ya ... nggak malu sih. Cuma aneh aja secara sebenarnya lu mampu kuliah, orang tua lu juga mampu. Apa ini karena lu masih sakit hati dengan Riko?" "Nggaklah. Gue cuma pengen hidup bebas aja, Wil. Tapi tetap ada batasan, nggak mau ada yang ngekang gue." "La? Emang kerja gituan lu pikir bebas gitu? Bebas itu kalo lu punya banyak duit, Coy." "Oh ... kayak orang tua lu ya? Bagi lu bebas gitu?" "Yaelah, Om. Mati aja lu, baru bebas ... sebel juga gue debat ma lu." "Maksud gue bebas mengekspresikan diri. Mau kerja di mana, ntar kalo bosan, tinggal pindah. Begitu seterusnya." Wilma hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ocehan Naomi yang ternyata lebih parah dari pendapatnya. Bagaimanapun, dia mengakui bahwa semakin lama Naomi semakin asyik, dia yang lebih santai dan banyak bercanda. *** Denok dan Tirta hendak menghadiri sebuah acara keluarga malam ini. Baju yang dipakai sangat rapi dan serasi. Tampak Nathalie juga siap-siap. Dia yang terlebih dahulu disuruh bersiap-siap. Naomi? "Kamu beneran mau jaga rumah saja?" tanya Denok ke anak bungsunya. "Iya, Bu. Aku di rumah aja. Males ngikut-ngikut, biar kak Nathalie aja. Siapa tahu dapet jodoh di sana. Hehe," tanggap Naomi dengan sikap santainya. Dia yang memang selalu enggan jika diajak pergi ke acara-acara perkumpulan keluarga. Apalagi ini adalah keluarga orang lain, dan bukan kerabatnya, pastinya tidak ada yang dia kenal. Terlebih, acara berlangsung di rumah tetangga sebelah. Males banget pake acara dandan-dandan segala. Mending di kamar malas-malasan, begitu pikiran Naomi. Nathalie tersenyum mendengar ucapan iseng Naomi. Dapat jodoh? Bisa saja Naomi candanya. Padahal Naomi sudah tahu dia yang sudah punya pacar, dan dia tahu Naomi berkata seperti itu agar bapak dan ibu tidak curiga. Naomi memang adik yang baik dan pengertian. Keluarga Tirta Adnan diundang tetangganya, keluarga yang terkenal kaya raya, tapi tidak bergaul dengan tetangga sekitar. Tirta diundang karena rumahnya tepat di samping rumahnya. Nama tetangganya adalah Biantara Adiwilaga, istrinya bernama Jayanti Saripuspa, dan mereka memiliki sepasang anak, laki-laki dan perempuan, yang tertua bernama Ambarwati Sari Dewi, dan yang kedua bernama Sahasika Nandana. Ambar sudah menikah dan punya tiga anak, dan Nanda yang belum menikah. Sebelumnya Ambar kuliah di Paris, dia adalah salah satu international designer terkemuka dan sekarang tinggal di sana. Sementara Nanda baru saja menyelesaikan pendidikan S3nya di MIT, Massachussets, Amerika Serikat. Dia mengambil jurusan Teknologi Nuklir di sana. Malam ini adalah acara pertunangan Nanda dengan perempuan bernama Getrude Anjani, mereka disebut-sebut dijodohkan. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD