Bab 1. Lu Nyebelin
Sebuah teleskop canggih yang berdiri tegap di lantai tiga rumah besar dan megah mengarah ke rumah sebelahnya, rumah berukuran sedang dengan halaman yang cukup luas. Teleskop itu berdebu. Sudah lama tidak terpakai oleh yang punya.
Setelah membersihkan lensa teleskopnya yang sedikit berdebu, Nanda kembali mengarahkannya ke rumah yang berada tepat di sebelah rumah megahnya. Wajahnya menunjukkan sedikit kekecewaan karena apa yang ingin dia lihat tidak kunjung muncul.
"Nanda. Yuk! Sarapan cepat. Mbak tunggu kamu di bawah." Teriakan Ambar, sang kakak, cukup membuat Nanda terkejut.
Nanda segera meraih ranselnya dan jaket sekolahnya.
"Ngapain sih? Lama banget," rutuk Ambar saat Nanda sudah ke luar dari kamar. Keduanya lalu berlarian ke lantai bawah melalui tangga kayu. Tentu saja bunyinya sangat berisik.
Nanda dan Ambar ternyata sudah disambut sang Mami yang sudah menunggu di ruang makan. Mami tersenyum melihat dua wajah cerah dari keduanya, yang muncul di dapur lalu berebutan duduk di kursi makan. Kakak beradik itu lalu cekikikan.
"Nanda duluan tadi. Nanda menang," seru sang adik.
"Mbak kok yang menang, tadi mbak sentuh meja duluan," balas Ambar tidak mau kalah.
"Pokoknya Nanda!" sahut Nanda lagi. Kali ini lebih galak.
"Ya udah. Nanda yang menang. Mbak ngalah aja deh."
"Berarti Mbak Ambar jajanin Nanda ya."
"Iya, Mbak tunggu Nanda di kantin nanti."
Jayanti, tertawa kecil melihat ulah Sahasika Nandana dan Ambarwati Sari Dewi. Dia memahami bahwa Ambar adalah kakak yang selalu mengalah dan sangat menyayangi Nanda, adiknya.
***
Enam belas tahun kemudian.
"Lu jangan gitu. Dikit aja masalah lu marah-marah gini, gue nggak suka!" cetus Riko, pacar Naomi.
Naomi mendengus kesal, memandang punggung pacarnya yang berlalu dari duduknya. Bagaimana dia tidak marah, ini kali ketiga Riko ketahuan jalan sama perempuan lain. Yang tidak ketahuan, mana Naomi tahu.
"Udah, Omi, lu sudahin aja hubungan lu ma Riko. Masa lu mau kegini. Apa lu nggak capek? Saban hari mikirin cowok b******k kayak dia." Wilma, sahabat Naomi memberi nasehat. Wilma juga gerah dengan kelakuan Riko yang selalu menekan Naomi.
Sepertinya hari ini adalah hari yang cukup menyebalkan bagi Naomi Adnan, lebih akrabnya dipanggil Omi, murid kelas sebelas di SMA swasta di Tangerang Selatan. Kemarin sore, dia yang kebetulan pergi ke kafe untuk membeli es kopi, tidak sengaja melihat Riko sedang minum kopi bareng dengan seorang perempuan di kafe itu. Mereka akrab sekali, sampai Riko yang terlihat mendekap pinggang perempuan itu. Waktu itu Riko tidak menyadari bahwa Naomi melihatnya. Naomi diam dan langsung pulang.
Malamnya Naomi menanyakan kepergian Riko sore hari, dan jawaban dari Riko tidak memuaskan Naomi. Riko mengatakan bahwa dia tidak ke mana-mana. Besok paginya, seperti biasa, Naomi dan Riko bertengkar di kantin sekolah. Bertengkarnya cuma adu mulut. Nggak cakar-cakaran. Tapi lumayan membuat Naomi ingin sekali menggaruk wajah Riko.
Bagi Riko masalahnya tidak perlu dibesar-besarkan. Dia mengaku hanya ngobrol biasa dengan perempuan itu. Tapi bagi Naomi ini adalah masalah serius, karena Riko yang tidak jujur kepadanya.
"Gue sayang dia," lirih Naomi bergumam, sambil memutar-mutar gelas bekas jus jeruk yang ada di hadapannya di atas meja di kantin sekolah.
Wilma mengerlingkan mata malas begitu mendengar ucapan Naomi. "Bucin banget lu, Om," decaknya.
"Yah, gimana lagi?"
Wilma menggeleng, wajahnya sinis menatap Naomi, sahabatnya. Bagaimana dia tidak sinis, dia yang selalu gerah setiap saat menyaksikan adu mulut antara pasangan yang sudah berpacaran sejak SMP itu, Naomi saat itu kelas delapan, dan Riko kakak kelasnya. Bertengkar beberapa jam, nanti juga baikan lagi, begitu terus hingga sekarang keduanya bersekolah di SMA yang sama. Bahkan pernah suatu hari, hampir saja Riko menampar Naomi karena Naomi diam seribu bahasa saat bertengkar. Masalahnya yang sangat sepele, Riko marah karena Naomi yang tidak membalas panggilan Riko di suatu malam. Untung saja ada Wilma saat itu, jika tidak, wajah Naomi pasti sudah tidak karu-karuan.
Benar saja. Malamnya, kata-kata maaf dan rayuan dari mulut Riko kembali membuat Naomi larut dalam cinta. Naomi dan Riko pun baikan.
Hubungan Naomi dan Riko tidak diketahui oleh kedua orang tua Naomi. Karena Ibu dan Bapak Naomi belum membolehkan Naomi pacaran. Naomi diperbolehkan menjalin hubungan kasih dengan laki-laki saat kuliah. Intinya hubungan Naomi dan Riko adalah hubungan backstreet. Tapi, keduaorang tua Riko tidak mempermasalahkan Riko dan Naomi yang berpacaran. Mereka bahkan sangat senang, karena Naomi gadis yang mampu menenangkan saat Riko sedang kesal atau marah.
Saat malam minggu, Naomi selalu mendatangkan Wilma ke rumahnya. Lalu dia meminta izin papanya untuk pergi ke luar sekadar jalan-jalan bersama Wilma. Padahal Wilma cuma kedok saja, agar Naomi diizinkan ke luar. Begitu sampai ke tempat tujuan di mana Riko sudah menunggu, Wilma pun pulang ke rumahnya dan membiarkan Riko dan Naomi berduaan. Wilma memang sahabat sejati Naomi. Dia baik sekali, padahal dia sendiri belum pernah punya pacar. Ini berlangsung selama lebih kurang hampir empat tahun.
***
Seperti biasa di pagi-pagi sebelumnya, Naomi pergi ke sekolah dengan mobil yang dikendarai kakaknya, Nathalie Adnan, siswi kelas dua belas. Nathalie, gadis yang sangat cantik, pintar dan penurut. Naomi sebenarnya juga penurut sih, tapi jika dibanding Nathalie, Naomi lebih cuek, dan suka diam-diam main belakang, soal pacaran misalnya.
"Omi, aku, 'kan nanti ada rapat OSIS selesai jam sekolah. Kamu bawa pulang mobil ya?"
"What? Aku belum punya SIM. Kakak gimana sih?"
"Ya, 'kan kamu udah bisa bawa mobil. Ikuti aja peraturan. Asal jangan ngebut, kamu pasti aman. Nih."
Naomi menolak kunci mobil dari tangan Nathalie.
"Idih, ntar kamu pulang gimana? Kalo aku bisa naik taksi atau ojek."
"Aku juga bisa pulang pake taksi, Kak. Kak Nat aja yang bawa mobil. Males banget daaah."
"Omi!"
"Kak Nat mau aku ditilang?" cetus Naomi.
"Ya, kamu yang bener dong bawa mobilnya."
"Kenapa sih malas bawa?"
"Soalnya nanti pulangnya pasti di jam macet, Naomi sayaaang. Kamu aku minta bantu aja sekali ini. 'Kan nggak sering."
Sambil menghempaskan napas jengkel, Naomi akhirnya memenuhi permintaan Nathalie.
"Kak Nat sayang kamu, Omi!" seru Nathalie ke Naomi yang berlalu dengan langkah malas. Dia tersenyum simpul melihat tingkah sebal adiknya.
Bersambung