Bab 6

1101 Words
Galasena benar-benar patuh pada perkataan Velicia. Tak ada bantahan sama sekali dari mulut laki-laki itu. Hal itu membuat Reval sang assisten menahan tawanya. "Reval, gajimu ku potong tiga bulan!" Reval langsung melotot ke arah Galasena dan itu membuat Galasena kesal. Bisa-bisanya Reval malah melototinya. "Kamu mau mati ya?" bentak Galasena kesal. Reval langsung menjauh dia tak berani lagi meledek Tuannya karena langsung patuh pada Velicia, gadis satu malam dan istri kilatnya itu. Sementara Velicia sibuk dengan makanannya. Galasena sejak tadi terus memperhatikan Velicia yang tengah fokus dengan masakannya. "Mimpi apa aku menikah dengan nya hanya karena malam panas semalam. Tapi nggak rugi juga punya istri kayak dia. Cantik, pintar masak. Berasa di urusin lagi." batin Galasena. Tak lama masakan Velicia pun matang. Dia membawanya ke meja makan di mana Galasena sudah menunggunya. "Di mana Reval? Kamu nggak usir dia kan?" Galasena mencebikkan bibir bawahnya karena Velicia mencari Reval. "Kembali ke belakang, biarkan saja dia pesan makanan nanti." Velicia menggelengkan kepalanya karena melihat wajah kesal Galasena. "Makanlah, aku tinggal mandi terlebih dahulu." Velicia ingin melangkah pergi. Sret ... Tangannya di tarik oleh Galasena yang membuat Velicia jatuh di pangkuan Galasena. "Galasena, apa-apaan?" Velicia sudah memekik kesal karena ulah Galasena. "Temani makan, aku nggak suka makan sendirian. Sepi." Velicia yang awalnya ingin mengomel tertegun mendengar itu. Rasanya aneh melihat seorang Galasena yang sejak kapan hari bersikap datar bertingkah seperti ini. "Aku temani, tapi turunin aku. Biar aku duduk sendiri." Galasena mengeratkan pelukannya pada pinggang Velicia. Sampai pada akhirnya, Velicia memilih mengalah. "Makan, aku temani, aku juga sudah lapar." Galasena langsung sumringah. Dia makan dengan tetap memeluk Velicia di pangkuannya. Galasena makan dengan lahap. Rasanya berbeda. Mungkin karena dia terbiasa makan sendiri dan sekarang ada yang menemaninya. "Pelan-pelan, nggak akan ada yang minta makanan kamu." "Ini enak." Sudut bibir Velicia terangkat, dia terus memperhatikan Galasena yang sibuk dengan makanannya. "Bisa aku di masakan setiap hari?" Velicia yang sejak tadi memperhatikan Galasena sejenak memandangi wajah laki-laki itu. Lalu dia mengingat jika orang tua Galasena menginginkan nyawa putranya sendiri. "Tentu, aku akan membuatnya setiap hari kalau kamu mau, jadi sekarang habiskan makanan mu. Dan biarkan aku pergi untuk mandi." Galasena menyeringai, dan itu menjadi pertanda buruk untuk Velicia. "Kamu ngapain?" "Mandi bareng sayang." bisik Galasena. Mata Velicia membola, belum sempat dia kabur, tubuhnya sudah melayang di udara. "Yak, Gala, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" pekik Velicia. Namun Galasena tak menggubrisnya. Dia tetap membawa Velicia masuk ke dalam kamar mandi. Menghimpit nya di dinding. Mata Galasena terpaku pada wajah Velicia. "Ga-gala, mau apa? Ini masih siang." Galasena tersenyum, wajahnya mulai mendekat ke arah Velicia. "Kenapa emangnya kalau masih siang. Kita udah resmi nikah, mau pagi siang sore juga nggak masalah kan?" Glek.... Velicia meneguk ludahnya kasar. "Ta-tapi....mph...." Mata Velicia membola, Galasena sudah menciumnya terlebih dahulu. Kedua tangannya bahkan sudah berpindah ke atas kepalanya karena ulah Galasena. Ciuman yang awalnya hanya saling melumat pun mulai saling menuntut. "Sial, kenapa selalu nggak bisa nolak kalau dia udah begini? Mau nolak juga aku yang dosa." pekik Velicia dalam hati. Galasena tak membiarkan nya bernapas dengan benar. Pasrah. Mau memberontak juga Velicia malah semakin menikmatinya. "Gal...... eungh ..... " Galasena sedang bermain pada bagian depan kesukaannya. Sementara tangan Velicia sudah berada di rambut milik Galasena. Siang sampai hampir makan malam, Galasena tak membiarkan Velicia beristirahat. Saat ini Galasena tengah memandangi wajah pulas Velicia. Dia membiarkan wanitanya tidur di sisinya tanpa mengenakan sehelai benang pun. Setelahnya, Galasena mengambil ponselnya untuk menghubungi Reval. "Bagaimana, apa wanita sialan itu sudah mengirim anaknya ke Paris?" "Sudah bos, kebetulan di sana sedang ada demo besar-besaran. Dan tinggal kita tambahi saja beberapa orang untuk membuatnya sedikit terlambat pulang." "Pastikan anak sialan itu tak muncul di saat serah terima Hotel milik Mama." "Baik, bos!" Galasena memutuskan sambungan telfonnya dengan Reval. Sementara Galasena tak tahu jika Velicia sudah bangun dan mendengarkan percakapannya dengan Reval. Galasena menoleh sekilas ke arah Velicia yang masih memejamkan matanya. Lalu dia meninggalkan Velicia ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Semenjak kejadian Galasena di jebak, laki-laki itu tak akan membiarkan Marvin hidup dengan tenang. Velicia bangun, dia meraih ponselnya yang baru lalu menghubungi seseorang. "Halo.... " "Kleo, ini aku. " " Vel, Velicia..... astaga akhirnya kamu telfon juga. Gila ya, kemana aja, dua hari kamu ngilang dan Om Graha nyariin kamu!" Velicia sampai menjauhkan ponselnya dari dekat telinganya karena mendengar teriakkan Kleo. "Nanti aku cerita, sekarang aku mau minta tolong. Awasi Rania, dan laporkan padaku apapun yang dia lakukan." Hening. Tak ada jawaban dari seberang sana yang membuat Velicia menghela napas kasar. "Besok kita bertemu di kampus. Bilang sama Daddy aku baik-baik saja. Jangan khawatir," ucap Velicia. Lalu Velicia memutuskan sambungan telfonnya berbarengan dengan pintu kamar yang terbuka. Galasena menatap Velicia sekilas. Sementara Velicia berkedip beberapa kali karena takut jika Galasena mendengar apa yang dia bicarakan. "Sudah bangun?" Velicia mengangguk, dia lalu melihat Galasena masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengatakan apapun lagi. "Dia kenapa?" batin Velicia. Tak lama, Galasena sudah selesai mandi dengan rambut yang masih basah dan keluar dengan hanya telanjang d**a. "Kenapa nggak langsung pakai baju?" "Sengaja, biar kamu terpesona." jawab Galasena asal. Velicia mendengus kesal mendengar jawaban Galasena. Dia menimbang sesuatu untuk meminta ijin pada Galasena. "Gal, besok aku masuk kuliah." Galasena melihat Velicia dari pantulan cermin di depannya. "Lalu?" "Aku minta ijin untuk pergi. Kurang beberapa bulan lagi skripsi dan aku lulus. Aku bisa jadi asisten mu nanti." Galasena mengamati Velicia tanpa langsung menjawab apa yang baru saja di katakan Velicia. "Sepertinya Reval harus menyelidiki lebih jauh, ponselnya kemarin juga ponsel mahal. Dan dia kuliah. Kalau hanya orang biasa nggak mungkin juga berkeliaran di hotel semahal itu. Dan masalah bertemu orang yang menjebaknya juga dia terlalu tenang untuk ukuran orang biasa." batin Galasena. Galasena terus mengamati cara Velicia terlalu tenang ketika bersamanya. Seolah hidup di rumah mewah itu sudah terbiasa. "Kenapa nggak di jawab? Kamu nggak ijinin aku?" "Pergilah, tapi sama sopir. Dan ingat statusmu. Jangan sampai ada skandal di kampus!" Bugh.... Velicia yang kesal dengan perkataan Galasena melempar bantal tidur ke arah Galasena. Galasena langsung berbalik ke arah Velicia dengan tajam. "Apa-apaan kamu?" "Kamu pikir aku w************n, tanpa kamu ingetin aku juga tahu aku udah nikah. Lagian siapa yang mau ke kampus cari masalah sama skandal? Waras kamu ngomong kayak gitu sama aku?" Napas Velicia memburu. Galasena mematung di tempatnya. Dia baru saja tersadar jika perkataannya kelewat batas. "Velicia, bukan seperti itu." "Lalu apa?" bentak Velicia. "Dari kemarin aja aku cuma tidur sama kamu, mahkota ku juga ku kasih sama kamu, tega kamu ngomong kayak gitu?" "b******n sekali kamu, Gal. Kamu dari kemarin nidurin aku terus, tapi omongan kamu juga nyakitin! Berengsek tahu nggak?" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD