Bab 5

1005 Words
Velicia dan Galasena tiba di pusat perbelanjaan. Velicia menarik tangan Galasena menuju rak untuk kebutuhan dapur. "Mau masak yang enak buat suami. Biar mood nya kembali bagus." Galasena yang mendengar sudut bibirnya terangkat. Dia baru tahu menikah dengan Velicia bisa senyaman itu meskipun pernikahan itu mendadak dan mereka belum saling mengenal. "What is love at first sight?" Galasena menggelengkan kepalanya pelan. Dia belum bisa merasakan bagaimana mencintai seseorang mengingat dia tidak pernah merasakan kasih sayang dan cinta dari orang-orang sekitarnya. Velicia memilih beberapa bahan masakan yang dia perlukan. Namun, dia ingat tentang sesuatu. Velicia berhenti lalu berbalik ke arah Galasena. "Tunggu, aku melupakan sesuatu." Alis Galasena naik, dia menatap Velicia penuh tanda tanya. "Lupa? Lupa apa?" "Kamu punya alergi sama makanan apa? Jangan sampai nanti aku masak sesuatu, dan tiba-tiba kamu alergi, sesak napas lalu tewas. Nggak lucu kan aku jadi janda pas baru nikah gini!" Galasena yang mendengar itu langsung tergelak. "Astaga... aku nggak punya alergi apapun. Aku bisa makan apapun, terutama...." "Terutama apa?" tanya Velicia polos. "Terutama bisa makan kamu di atas ranjang." Blush .... Wajah Velicia memerah mendengar perkataan Galasena. "Jangan bicara sembarang, ini di tempat umum." Galasena tersenyum, dia suka sekali melihat wajah Velicia yang berubah menjadi merah dan menggemaskan. "Aku nggak cinta sama dia, tapi dia bikin aku aman." batin Galasena. Tak lama setelah mereka berdebat terdengar seorang yang menyapa mereka. "Velicia, astaga, akhirnya aku menemukanmu." Sebelah alis Velicia terangkat, dan Velicia melirik Galasena di mana wajah laki-laki itu sudah kembali ke setelan awal. Datar dan juga dingin." Rania, wanita yang kemarin mencoba menjebak Velicia tiba-tiba mendekat ke arah Velicia. Dia juga bersikap seolah tak ada apa-apa dengan mereka. Rania juga ingin memeluk Velicia tapi Velicia mundur selangkah dan mendekat ke arah Galasena. "Loh, Vel, kenapa? Aku cuma mau peluk kamu." Wajah Rania mulai memelas tapi bukan berarti Velicia akan kembali tertipu lagi. "Nggak apa-apa, aku lagi nggak pengen di peluk sama kamu." sahut Velicia asal. Rania tentu saja kesal, tapi kemudian dia melihat ada laki-laki di sebelah Velicia yang sejak tadi menatap ke arah Velicia. "Dia siapa? Cowok kamu? Boleh kenalan kan ya?" Velicia melirik Galasena yang bahkan sudah memasang wajah masamnya karena acara mereka terganggu dengan adanya Rania. Lalu Velicia dengan usilnga meraih lengan Galasena. "Kenapa, Sayang? Belanjanya udah?" Reflek Galasena bertanya seperti itu karena dia juga tak ingin berlama-lama di sana. Mata Rania membola ketika mendengar Galasena memanggil Velicia dengan sebutan sayang. "Kalian...." tunjuk Rania. "Dia cowokku, semalam aku di jemput dia karena dia baru balik jadi LN. Kalau gitu kami pergi dulu, ya mau temu kangen!" Velicia sengaja membuat Rania kesal. Dia akan membalas Rania nanti saat dia bisa menghibur Galasena terlebih dahulu. "Udah, lagian kamu kan nggak makan macam-macam, jadi ini aja." jawab Velicia manja. Rania mengepal kedua tangannya karena Velicia masih baik-baik saja. "Sial, nggak mungkin dia punya cowok sekeren itu? Tapi sepertinya aku pernah lihat siapa laki-laki itu. Di mana ya?" batin Rania. Dia mencoba mengingat siapa Galasena tapi tak kunjung bisa mengingatnya. # Sementara itu, Galasena masih menatap Velicia penuh tanda tanya. "Siapa tadi?" "Hah? Siapa?" Velicia bingung karena dia tak ingat dan tak langsung paham dengan apa yang ditanyakan. "CK, kenapa kamu jadi lemot sekali. Maksud ku, tante-tante yang baru aja ngobrol sama kamu." Velicia melongo lalu detik berikutnya dia tertawa terbahak ketika mendengar Galasena menyebut Rania sebagai Tante-tante. "Ih, dia masih seumuran aku loh, kok bisa jadi Tante-tante." "Wajahnya aja tua begitu, bikin sakit mata." Velicia tak lagi bisa berkata yang lain tapi apa yang dikatakan Galasena benar. "Dia yang kasih obat kemarin malam, tapi yah, sekarang aku mau urus yang lainnya aja. Urusan dia nanti gampang. Sekalian aja biar dia tambah tua karena kesal sama aku kalau rencana nya gagal." Galasena tak mengerti dengan cara berpikir Velicia tapi herannya dia malah menyukai gadis itu. Terlalu blak-blakan dan apa adanya. Padahal bisa saja, dia langsung membalasnya tapi wanita di sisinya malah dengan santai menghadapinya. "Kenapa nggak langsung membalasnya?" "Kenapa ya? Aku nggak rugi sih masalahnya karena malam panasnya sama kamu, tapi kalau sama cowok lain kayaknya aku bakalan balas dia." Uhuk.... Galasena tersedak ludahnya sendiri. Wanita itu sangat blak-blakan. Tak lama sudut bibirnya terangkat. "Ayo pulan, kita masak." # Sementara itu, Rania langsung pergi dari sana dalam keadaan kesal. Rencananya gagal total dan Velicia malah mendapatkan laki-laki yang sempurna. "Nggak mungkin banget, cowok tadi orang have. Pasti dia cuma pelayan hotel yang kebetulan bertemu Velicia." Rania mondar mandir dengan segala pikirannya. Dia tak bisa membiarkan Velicia hidup tenang setelah ini. "Sepertinya dia tahu kalau kemarin aku yang jebak dia. Tapi kenapa dia malah santai aja? Nggak mungkin dia akan diam aja kan?" "Ah, tapi nggak mungkin akan ketahuan. Dia kan bodoh sekali, terlebih dia juga gampang di bodohi!" Rania lalu menghubungi Remon. Dia tetap akan meminta laki-laki itu untuk membantunya. "Remon, aku bayar kamu sepuluh juta lagi. Pastikan kamu bisa buat malu Velicia!" "CK, sepuluh juta dapat apa? Tambah sepuluh juta lagi baru aku gerak. Kalau nggak, ya aku nggak mau. Cari yang lain aja." Rania menggeram marah. Tapi tak ada jalan yang lain. Karena sejak awal Remon sudah tahu rencananya jadi dia tak boleh mencari orang lain. "CK, oke. Aku tambah. Kali ini jangan sampai gagal. Kamu bisa melakukannya dengan bersih dan rapi. Ingat, ambil videonya. Jangan sampai lupa!" Rania langsung memutuskan sambungan telfon itu. Dia segera mentransfer sejumlah uang yang di minta Remon. "Velicia, kenapa kamu harus selalu beruntung. Selalu saja kamu dapat hal baik. Di kampus juga semua orang menyukaimu. Kamu hanya anak yang nggak punya apa-apa tapi kenapa mereka buta, malah terus terpesona sama kamu!" # Velicia dan Galasena kembali ke rumah Galasena. Hal langka yang dilihat anak buah Galasena karena Galasena tak kembali ke kantor. Terlihat sekali Tuan mereka mengikuti ke manapun Nyonya mereka. Duk.... "Aduh ..." Kening Velicia terbentur d**a bidang Galasena karena saat Velicia berbalik ternyata Galasena sudah berdiri di belakangnya. "Kamu ngapain sih? Kenapa malah berdiri di sini?" "Duduk sana!" Galasena memberengut sampai membuat Reval yang ingin mencarinya melongo. "Woah, Nyonya muda bisa menjinakkan Tuan muda. Hebat sekali dia!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD