Bab 2 Kembali dengan Balas Dendam

969 Words
Tiga tahun kemudian. Di Bandara Marquessa Prime, Leon berdiri bersama sekelompok pria yang memegang sebuah spanduk besar yang bertuliskan: "Selamat datang Dr. Jotherin di Hanoria." Di sebelahnya, Isabella, mengenakan topi besar, beranjak dengan gelisah. Mereka telah menunggu hampir lima jam dan Isabella terlihat semakin frustrasi. "Leon, kamu yakin Dr. Jotherin datang hari ini? Kami sudah menunggu lama dan nggak ada tanda-tanda kedatangannya." "Aku membayar mahal untuk informasi akurat ini." Leon meyakinkannya. "Sebentar. Kalau aku bisa membuat Dr. Jotherin merawat Pak Phill Chesterfield, anaknya akan setuju untuk membiarkan ayahku dan aku kembali ke keluarga Chesterfield. Dengan dukungan mereka, tak ada yang berani menghina kita lagi!" Mendengar bahwa mereka dapat kembali ke keluarga Chesterfield, Isabella segera melupakan kefrustrasiannya dan luluh. Ia tersenyum manis dan mengangguk. "Oke, Leon. Aku akan menunggu!" Isabella telah memilih Leon karena latar belakang keluarganya. Meskipun Leon berasal dari keluarga Chesterfield, hal itu tetap mengesankan. Keluarga Chesterfield adalah keluarga yang paling berkuasa dan kuno di Hanoria. Pembantu mereka bahkan berjalan dengan kepala tegak, apalagi anggota keluarganya. Sayangnya, tiga tahun yang lalu, orang tua Leon melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan mereka dikeluarkan dari keluarga Chesterfield tersebut. Isabella hampir putus dengan Leon karena marah. Sekarang, ia senang karena ia mendapatkan kesempatan ini untuk kembali ke tempat yang seharusnya. Saat mereka menunggu dengan cemas, keributan terjadi di dekat gerbang. "Ya ampun, lihat deh bayi gemas itu! dia pakai baju kembaran sama ibunya. Lucu banget!" "Ibunya juga anggun banget. Oh kayaknya ibunya selebriti?" Tak lama kemudian, semua orang berbalik untuk melihat. Seorang ibu dan anak berjalan bergandengan tangan dari gerbang. Ibu itu tinggi dan cantik. Meskipun ia hanya mengenakan kemeja putih dan jeans, pakaian sederhananya tak bisa menyembunyikan keanggunannya. Kemeja putihnya terlihat rapi dan jeans tersebut menunjukkan kakinya yang jenjang dan lurus. Ia mengenakan kacamata hitam besar yang menutupi sebagian besar wajah mulusnya, tetapi kecantikannya yang mempesona masih terlihat jelas. Anak laki-laki kecil, sekitar tiga tahun, mengenakan celana pendek denim. Kulitnya bak telur yang dikupas dan rambutnya terlihat sangat lembut. Seperti ibunya, ia juga mengenakan kacamata hitam besar yang membuatnya terlihat seperti dewasa dengan ukuran mini, sangat menggemaskan. Duo ibu-anak yang terkenal tersebut menarik perhatian semua orang, termasuk Isabella. Tetapi, detik berikutnya, matanya membesar kaget. "Aurelia? Lo masih hidup?!" Aurelia berhenti sebentar, memalingkan kepala ke arah sumber suara tersebut. Mereka akhirnya bertemu lagi danterjadilah suatu ketegangan. Pandangan Aurelia menyempit. Isabella? Betapa kebetulan bisa bertemu dengannya begitu kembali ke negara ini. Isabella juga memperhatikan Aurelia dengan seksama. Kemeja putih, jeans... Hmmmm, ia bahkan tak dekat dengan selebriti. Apakah ia bahkan tak mampu membeli gaun yang layak? Pasti ia mengalami masa sulit selama tiga tahun terakhir ini. Merasa senang dengan tebakannya, Isabella mengambil sikap superior dan mengejek Aurelia, "Gue kaget lo masih hidup. Gimana lo bisa melarikan diri? Lo ngerayu dokter? Sama ya kayak mamah lo, selalu bisa ngoda cowok pake body lo." Pandangan Aurelia berkaca-kaca. "Isabella, jaga ya mulut lo." Ia tak bisa respect Isabella yang menghina ibunya. Saat itu, Jasper Dotton kecil menirukan sikapnya, menaruh tangan di pinggangnya. "Ya, bahkan aku tahu cara menghormati orang lain dan aku baru berusia tiga tahun. Tante sudah dewasa. Tidakkah tante belajar itu? Bukankah guru taman kanak-kanak tante telah mengajari?" "Wanita tua?" Vena Isabella membengkak marah. "Apakah kamu baru saja memanggilku wanita tua?!" "Iya." Jasper menunjuk pada pembuluh darah di dahi Isabella, suaranya yang kekanak-kanakan penuh dengan keusilan. "Lihatlah keriput itu. Pasti tante sudah tua!" Ia melipat tangan di dadanya dan menggelengkan kepala dengan ekspresi serius. "Tante perlu merawat tubuh tante lebih baik lagi, nenek-nenek. Mamaku tidak memiliki keriput sama sekali. Kulitnya haus seperti kulitku!" "Halus, sayang," Aurelia memperbaikinya. "Haussss!" Jasper bersikeras, memalingkan kepala ke samping. Interaksi manis mereka membuat Isabella marah. Brat ini berani memanggilnya wanita tua! Produk perawatan kulit yang dia gunakan bernilai ribuan. Bisakah ibunya yang miskin mampu membelinya? Marah, Isabella hampir saja akan mengajar Jasper sebuah pelajaran ketika Leon memanggil, "Beth, Dr. Jotherin sudah ada! Ayo kesini. Jangan menghabiskan napasmu untuk sampah, cuma bisa menurunkan statusmu!" Leon memandang Aurelia dan Jasper dengan pandangan merendahkan. "Lo bener." Isabella menghela nafas. "Hari ini gue maafin lo, Aurelia. Tapi next time, gue nggak akan main-main sama lo sekaligus anak lo!" Dengan itu, Isabella berlenggak melewati Aurelia, tumitnya berderit dan pergi menemui tamu mereka. Aurelia memperhatikan mereka pergi, tak mengatakan apa-apa, tapi Jasper marah. Ia mengembungkan pipinya, melakukan aksi amarah. "Wanita sombong itu! Mama, gimana kamu bisa membiarkannya pergi begitu saja?" Senyum Aurelia melengkung dengan penuh pengetahuan. "Jangan khawatir, sayang." Ia mendengar bahwa Leon dan Isabella berada di sini untuk bertemu Jotherin. Di gerbang, Domingo Lianes mendorong dua koper besar. Leon dengan penuh semangat mendekatinya. "Kamu pasti asisten Dr. Jotherin, Domingo. Senang bertemumu. Saya Leon dari keluarga Chesterfield Marquessa Prime." Jotherin terkenal dengan kemampuan medisnya tetapi ia penuh dengan misteri. Katanya, tak ada penyakit yang tak bisa ia obati, tapi ia jarang mengambil pasien dan tak pernah muncul di publik. Tak ada yang tahu seperti apa penampilannya. Leon sudah menghabiskan banyak uang tetapi hanya mendapatkan informasi tentang asistennya, Domingo. Tapi itu sudah cukup. Dengan bantuan asisten tersebut, ia pasti bisa menemukan Jotherin. "Ya, keluarga Chesterfield dari Marquessa Prime. Kamu pasti sudah pernah mendengar tentang kami. Reputasi keluargaku seharusnya cukup mengesankan untuk mengundang Dr. Jotherin untuk melakukan kunjungan ke rumah, kan?" Leon bangga, sudah bertindak seolah-olah ia telah kembali ke keluarga Chesterfield. Namun, Domingo dengan sopan menolak, "Maaf, saya tak tahu apa yang Anda bicarakan. Mohon menjauh. Saya sedang terburu-buru." Leon berputus asa. "Jangan berpura-pura bodoh. Aku tahu kalau kamu asisten Dr. Jotherin. Berapapun harganya, katakan saja. Apa yang dibutuhkan agar Dr. Jotherin datang?" Domingo mengerutkan kening, hampir merespon, ketika suara perempuan yang jelas memotong, "Domingo!" Aurelia berdiri di gerbang, matanya yang indah melihat Leon dan Isabella dengan pandangan merendahkan. Kemudian, ia mengejek mereka dengan kata-kata yang sama seperti yang Leon ucapkan sebentar yang lalu. "Jangan buang waktu dan napasmu pada sampah. Cuma bisa menurunkan statusmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD