Bab 1 Perangkap Tanpa Ampun
"Posisi bayi sungsang dan ibu mengalami pendarahan hebat. Ini sangat genting!" Dokter kandungan dengan tangan berlumuran darah, menoleh ke belakang ke arah pria yang berdiri di belakangnya dengan ekspresi serius.
"Pak Chesterfield, Bapak harus memutuskan siapa yang kita selamatkan, ibu atau bayi?"
Leon Chesterfield berdiri di ujung tempat tidur, melirik acuh tak acuh kepada Aurelia Dotton, yang masih bertahan hidup. Ekspresinya tetap tenang, tak ada kilatan emosi di matanya.
Wanita di tempat tidur itu adalah istrinya, melahirkan anaknya. Posisi bayi itu sungsang dan baik ibu maupun anak berada dalam bahaya serius. Namun, Leon tak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan saat memandang Aurelia seolah-olah dia adalah orang asing.
"Pak Chesterfield?" Dokter itu memanggil lagi dengan ekspresi semakin cemas karena kurangnya respons dari pendamping pasien.
Panggilan itu membuat Leon mengalihkan pandangannya ke dokter.
Senyum licik merekah di bibirnya. "Bagaimana kalau saya memutuskan untuk tak ingin menyelamatkan keduanya?"
Ruangan itu langsung hening, para dokter dan perawat terperangah, napas mereka tertahan.
Aurelia, terbaring di tempat tidur, juga terkejut. Ia baru saja menikah dengan Leon kurang dari sebulan yang lalu, pernikahan yang disegerakan oleh kehamilannya. Leon telah mengejar-ngejarnya dan selalu menyayanginya. Semua orang mengatakan bahwa ia memperlakukan Aurelia layaknya seorang putri. Namun sekarang, pria yang begitu mencintainya tersebut mengatakan bahwa ia tak menginginkan Aurelia maupun bayi tersebut!
Sejenak, Aurelia bertanya-tanya apakah ia salah mendengar.
"Apa... Apa yang Anda katakan katakan?" Dokter tersebut juga sama tak percaya dan terbata-bata.
Leon melihat Aurelia, senyumnya kejam. "Saya bilang, saya tidak ingin menyelamatkan keduanya."
Pada saat itu, Aurelia merasa seolah-olah hatinya dirobek.
Ia berusaha untuk duduk tegak, ingin bertanya kepada Leon mengapa. Hanya beberapa jam yang lalu, ia membawanya ke rumah sakit dengan penuh cinta. Bagaimana ia bisa berubah drastis dalam waktu singkat seperti ini?
Tetapi ia tak bisa bergerak. Ia telah dibius dan tak berdaya, mata merahnya menatap Leon, penuh dengan keengganan dan keputusasaan, menunggu jawabannya.
Pada saat itu, seorang wanita dengan jubah merah masuk ke ruang operasi.
"Hallo kak, lama tak jumpa." Wanita itu berkata dengan senyum manis, kemudian dengan penuh kasih memasang lengannya melalui lengan Leon.
Aurelia terdiam. Isabella Dotton? Apa yang ia lakukan di sini?
Dan mengapa ia begitu dekat dengan Leon?
Isabella adalah saudara tiri Aurelia, anak perempuan ayahnya dari pernikahan pertamanya. Ibunda Isabella, Laura Bones, merupakan istri pertama Jerry Dotton, tapi meninggal ketika Isabella berusia tiga tahun. Kemudian, Jerry menikahi ibu Aurelia, dan Aurelia lahir.
Laura meninggal karena penyakit, tapi Isabella selalu percaya bahwa ibu Aurelia bertanggung jawab atas kematian ibunya. Sejak hari itu, ia memiliki dendam yang mendalam terhadap Aurelia.
Ketika Jerry mengumumkan bahwa Aurelia akan mewarisi Dotton Group, kebencian Isabella mencapai puncaknya.
"Lo pasti penasaran kenapa Leon tiba-tiba berubah jadi kejam." Senyum Isabella berubah menjadi kejam. "Karena Leon pacar gue! Gue nyuruh dia buat deketin lo! Semua ini rencana gue. Leon nggak cinta lo dan nikahin lo buat ngerebut Dotton Group kembali ke tangan gue!"
Mata Aurelia melebar terkejut, air matanya membanjir saat menatap Leon.
Mungkin Isabella sedang berbohong, bukan?
Ia dengan putus asa berharap Leon bisa memberitahunya bahwa ini semua hanyalah lelucon kejam, memberitahu bahwa perasaan padanya adalah hal yang nyata.
Ia menunggu penjelasannya, tapi yang ia dapatkan hanyalah tatapan jijik dari Leon.
"Jangan natep gue kek gitu. Gue muak," Leon berkata dengan dingin. "Beth betul. Gue nggak pernah suka lo. Hal yang gue lakuin semuanya buat Isabel. Lo nggak pernah tau rasa sakitnya waktu gue meluk lo sambil ngungkapin kata-kata manis?
Ia melanjutkan, "Sekarang, akhirnya gue bisa bebas. Kalo lo udah mati, semua aset bakal jadi miliki gue. Anak haram di perut lo juga harus mati. Kalo nggak, orang tua kolot di jajaran petinggi itu akan jadi pewaris dan gue nggak mau ambil risiko itu."
Dunia Aurelia hancur, air matanya mengalir dengan deras.
Ia mengira telah menemukan seorang lelaki yang tepat untuk dipercaya, tetapi semua hanyalah kebohongan yang dirancang secara teliti! Isabella telah menyiapkan perangkap untuk membalas dendam!
"Dia... Dia juga anak lo!" Aurelia berteriak dengan semua kekuatan yang tersisa.
Anak itu tak bersalah.
Tolong, biarkan ia hidup...
Matanya memohon, tetapi keputusasaannya dihadapkan dengan tawa kejam.
Isabella tertawa begitu keras sampai-sampai ia mengerang kesakitan. Perlahan, ia mendekati tempat tidur Aurelia dan membungkuk untuk berbisik di telinganya, "Satu rahasia lagi. Sembilan bulan yang lalu, waktu lo mabuk di Bleu, lo nggak tidur sama Leon. Lo tidur sama bapak-bapak tua!"
Tawanya semakin jahat. "Leon udah muak buat tidur sama lo. Gue ngebuat lo mabuk dan ngejual lo dengan bapak-bapak tua reot dengan bayaran sejuta!"
Wajah Aurelia memucat sampai mati saat perkataan Isabella mencapai kesadarannya.
Lemah dan tak berdaya, ia merasakan sesuatu yang sesak di dadanya dan membuatnya tak bisa bernapas. Tiba-tiba, ia duduk tegak, meludahkan darah.
"Sial, pasien terlalu terganggu dan mengalami syok! Bersiap untuk defibrilasi! Kita harus membuatnya tetap sadar..."
Suara dokter tersebut semakin jauh saat Aurelia kehilangan kesadarannya.
Setelah beberapa waktu, dalam keadaan setengah sadar, dengan samar ia mendengar suara halus. "Selamatkan, nggak peduli apa pun yang terjadi!"
Suara itu memerintah dan terdengar penuh otoritas.
Aurelia berusaha untuk membuka matanya dan mencoba melihat siapa yang berbicara.
Tapi tak peduli seberapa keras ia mencoba, penglihatannya tetap buram. Ia hanya bisa melihat sosok yang tinggi dan menakutkan, memancarkan aura bangsawan.
Terlalu lemah untuk tetap terjaga, ia pun jatuh pingsan.
Sebelum hanyut dalam kegelapan, ia mendengar respons hormat dari dokter tersebut, "Ya, Pak Chesterfield."