Pertemuan Pertama
Matahari pagi bersinar lembut, menerpa jalur setapak yang mengarah ke penginapan bergaya minimalis di tengah taman luas. Angin berembus tenang, membawa aroma segar dari pepohonan yang tertata rapi. Suasana begitu tenang, hanya terdengar suara burung berkicau di kejauhan dan desir langkah pertama seorang peserta yang baru tiba.
Di dalam ruang pertemuan utama, sofa berwarna krem telah ditata membentuk setengah lingkaran. Ada satu sofa panjang di tengah yang muat tiga orang, satu sofa tanpa sandaran di sisi kiri untuk dua orang, dan dua single sofa berbentuk bulat di kanan. Suasana masih kosong, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berhembus pelan.
Hari pertama telah dimulai….
Kedatangan Pertama
Mina menginjakkan kaki di dalam ruangan dengan langkah hati-hati. Matanya membesar takjub melihat interior yang elegan.
"Wow… jadi aku yang pertama?" batinnya sambil menatap ke sekeliling.
Dengan perasaan campur aduk, Mina melangkah menuju sofa panjang di tengah ruangan. Duduk di sana, ia mencoba mengatur napas, tetapi kegugupan tetap terasa. Jemarinya terus menggosok-gosok rok yang dipakainya, mencoba menghilangkan keringat di telapak tangan.
"Kenapa aku merasa gugup? Ini bukan pertama kalinya aku bertemu orang baru… Tapi tetap saja, rasanya aneh."
Tak ada suara lain selain detak jarum jam di dinding. Waktu berlalu dengan lambat.
Keceriaan yang Hadir
Pintu gerbang terbuka dengan sedikit keras, suara langkah seseorang terdengar semakin dekat.
"Wah, tempat ini cantik banget!" suara riang terdengar di depan pintu. "Tamannya luas, jalan setapaknya lucu."
Mina menoleh dan melihat seorang gadis berambut panjang dengan ekspresi cerah.
"Dia kelihatan ceria," pikir Mina.
Saat gadis itu membuka pintu penginapan, mata mereka bertemu, Mina segera berdiri dan tersenyum. Gadis itu juga membalas dengan senyum lebar, meskipun sedikit canggung.
"Hai!" sapanya penuh energi.
"Halo," Mina membalas, sedikit lebih pelan.
Gadis itu menatap sekeliling, matanya berhenti pada sofa yang tersedia.
"Kita peserta pertama?" tanyanya sambil menghitung jumlah tempat duduk. "Oh, jadi kita ada tujuh orang?"
Mina mengerutkan kening, "Benarkah? Aku bahkan tidak terpikir untuk menghitungnya."
Gadis itu tertawa kecil. "Ah, tidak. Itu cuma tebakan."
Setelah jeda singkat, gadis itu kembali menoleh ke Mina. "Apa kita boleh berkenalan?"
Mina sempat terdiam. "Apakah kita boleh? Atau ada aturan lain?" pikirnya.
Gadis itu juga terlihat ragu. "Kita belum boleh berbagi informasi pribadi, yah?"
Mina tersenyum mengerti. "Kurasa kalau hanya nama tidak masalah. Lagipula, nanti kita tetap harus saling mengenal."
Senyum gadis itu melebar. Ia mengulurkan tangan. "Hai, namaku Sera."
Mina menyambut uluran tangannya. "Aku Mina. Senang bertemu denganmu."
Kedatangan Jake
Beberapa menit berlalu dalam percakapan ringan, sebelum suara langkah lain terdengar dari luar.
Sera menoleh ke arah pintu gerbang. "Ada seseorang datang… Sepertinya pria."
Mina ikut menoleh. Suasana dalam ruangan mendadak terasa lebih tegang.
Pintu gerbang terbuka, seorang pria tinggi dengan wajah sedikit tegang masuk ke dalam. Ia melangkah perlahan, matanya menelusuri taman dengan ekspresi hati-hati.
"Wah… tamannya terlihat cantik dan rapi," katanya dengan suara canggung, terdengar seperti komentar yang dipaksakan untuk mengisi keheningan.
Sera menahan tawa kecil, Mina hanya tersenyum simpul mendengar komentar acak pria itu.
Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Pria itu membuka pintu penginapan dan menoleh ke arah Mina dan Sera dan memberi salam singkat, "Halo."
Mina dan Sera berdiri sopan.
"Halo," Mina menyapa dengan sedikit anggukan.
Sera juga tersenyum. "Silakan duduk."
Pria itu menatap sofa kosong. Setelah ragu beberapa detik, ia memilih duduk di sofa tanpa sandaran di sebelah kiri.
Setelah beberapa detik keheningan, ia mencoba membuka pembicaraan.
"Kalian sudah di sini dari tadi?"
Sera menjawab lebih dulu, "Kami datang berurutan. Dia datang lebih dulu." Sera menunjuk Mina dengan kedua tangan.
Mina tersenyum kecil. "Namaku Mina."
Sera melanjutkan, "Aku Sera."
Pria itu tersenyum, meskipun masih sedikit kaku. "Aku Jake."
Obrolan singkat terjadi, tetapi masih terasa kaku dan penuh jeda canggung. Mereka bertiga sesekali saling melirik, tetapi tak ada yang bisa langsung mencairkan suasana.
Damian dan Kegugupan yang Tak Terhindarkan
Suara langkah lain kembali terdengar.
Mina, Sera, dan Jake hampir serentak menoleh ke pintu gerbang.
Seorang pria tinggi dan tampak percaya diri melangkah masuk ke penginapan.
Sera berbisik pada Mina, "Sepertinya dia tipe yang tenang."
Mina dan Jake berdiri untuk menyambutnya, diikuti oleh Sera
"Selamat datang," Jake yang pertama berbicara. "Silakan duduk dengan nyaman."
Pria itu melirik sekeliling sebelum akhirnya memilih tempat duduk di samping Mina.
Reaksi Sera dan Jake? Mereka diam, tetapi ekspresi mereka berbicara, "Ohhh, ini menarik."
Mina, di sisi lain, langsung merasa lebih kaku. Ia duduk tegak, hampir tidak bergerak. Seolah ada dinding tak terlihat yang memisahkannya dari pria di sebelahnya.
"Kalau boleh tahu, namamu siapa?" Jake bertanya.
Pria itu sedikit terkejut, sepertinya tidak menyangka harus memperkenalkan diri langsung.
Sera segera menimpali, "Kami sudah bertukar nama sebelumnya."
Pria itu mengangguk paham. "Ah, baiklah. Aku Damian."
Sera tersenyum. "Sepertinya kita akan terus melakukan ini setiap kali ada peserta baru."
Mina terkekeh kecil. "Damian akan memulainya nanti kalau ada yang baru datang."
Damian tersenyum canggung. "Baiklah. Aku akan melakukannya dengan baik."
Jake ikut tersenyum. "Itu bukan kewajiban kok. Kita bisa melakukannya bersama nanti."
Obrolan ringan pun berlanjut. Meskipun sudah ada interaksi, tetap ada ketegangan halus yang terasa. Mereka semua menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar perkenalan biasa, ini adalah awal dari perjalanan panjang yang akan mereka lalui bersama.
Kedatangan Luna yang Mengejutkan
Tidak seperti peserta lain yang kehadirannya bisa dirasakan dari jauh, Luna muncul tanpa peringatan. Diam-diam, ia mengamati dari kejauhan. Lewat jendela besar transparan yang menjadi latar sofa panjang yang sudah penuh, Luna bisa melihat beberapa peserta sudah datang. Kepala mereka tampak bergerak-gerak, sibuk dengan obrolan masing-masing.
Dengan langkah ringan dan tanpa suara, Luna berjinjit mendekati pintu. Tidak ada reaksi, tidak ada sapaan seperti yang dilakukan peserta lain saat melewati taman dan jalan setapak. Saat ia sudah berada di depan pintu penginapan, Luna tiba-tiba mendorongnya lebar, hanya menyodorkan kepalanya ke dalam ruangan.
"Hai semuanya!" serunya lantang, dengan senyum lebar.
Sontak, beberapa peserta yang duduk di sofa terlonjak kaget. Ada yang langsung berdiri, ada yang hanya menoleh dengan ekspresi bingung. Luna, yang sadar telah membuat suasana jadi canggung, segera memperbaiki sikapnya. Langkahnya kini lebih anggun, seolah tadi bukan dia yang baru saja mengguncang atmosfer ruangan.
Damian, yang sejak awal menyadari bahwa ini tugasnya, segera mengambil alih situasi. "Selamat datang," katanya dengan nada ramah. "Silakan pilih tempat duduk yang nyaman."
Luna mengernyit. "Pilih? Tempat duduk?" tanyanya, tampak sedikit bingung.
Sera tersenyum kecil. "Bukan apa-apa. Duduk saja di mana pun kamu mau."
Luna akhirnya mengangguk paham. "Ahh, baiklah. Terima kasih."
Saat ia bergerak memilih tempat duduk, beberapa peserta lain diam-diam mengawasi keputusannya. Tanpa ragu, Luna berjalan santai ke kursi di dekat Jake.
"Sepertinya tinggal kursi ini yang tersisa," komentarnya, sebelum duduk dengan nyaman.
Mereka yang memperhatikannya saling bertukar senyum penuh arti. Jake, yang duduk di sampingnya, menoleh dan bertanya dengan nada akrab.
"Namaku Jake. Namamu…?" Ia mengisyaratkan pada Luna untuk memperkenalkan diri.
Luna tersenyum cerah. "Hai semuanya, namaku Luna."
Di sudut ruangan, Damian menghela napas kecil, sedikit merengut. Seolah berkata, bukankah aku yang seharusnya memperkenalkan peserta baru?
Namun, sebelum Damian bisa berkomentar, Luna tiba-tiba berdiri. Sekali lagi, peserta lain dibuat kaget dan bingung.
"Kenapa?" Sera bertanya hati-hati. "Ada apa?"
Luna tertawa kecil. "Bukan apa-apa. Aku hanya ingin berkenalan dengan pantas."
Ia menyodorkan tangannya ke Damian lebih dulu, bersalaman dengan sopan. Setelah itu, ia melanjutkan ke Mina, Sera, dan terakhir Jake.
Setelah kembali duduk, Luna melirik sekeliling dan bertanya, "Apa aku peserta terakhir?"
Mina menggeleng. "Sepertinya masih ada yang lain."
Luna tampak lebih bersemangat. "Benarkah? Jadi bukan aku yang terakhir?"
Sera menunjuk dua kursi kosong. "Masih ada dua tempat tersisa."
Luna mengikuti arah pandangnya, lalu mengangguk cepat.
Setelah beberapa menit keheningan menyelimuti ruangan, Luna kembali bersuara, "Apa sudah ada yang berkeliling rumah ini?"
Jake, yang secara tidak sengaja berbalik dan bertemu pandang dengannya, terkejut sesaat. Sedikit tersipu, ia menjawab, "Kami belum sempat berkeliling."
Damian menambahkan, "Apa ada yang kamu butuhkan?"
Mina dan Sera saling melirik, memperhatikan interaksi mereka dengan penasaran.
Luna tertawa kecil. "Karena terlalu antusias, aku butuh ke toilet. Ada yang mau ikut?"
Sera langsung menanggapi. "Baiklah, kita bertiga saja."
Mina, yang tampak sedikit tersentak, seolah ingin protes, tetapi akhirnya hanya mengangguk. "Apa aku juga harus ikut?" gumamnya pelan, tapi tetap mengikuti mereka.
Sebelum pergi, Luna menoleh pada Sera. "Apa kamu tahu di mana toiletnya?"
Sera tersenyum geli. "Tidak. Aku juga tidak tahu."
Mina tertawa. "Kalau begitu, mari ikuti Sera saja. Pasti ketemu."
Luna ikut tertawa. "Baiklah."
Begitu ketiga wanita itu pergi, Damian dan Jake saling bertukar pandang.
"Kenapa aku merasa tertinggal?" Damian menghela napas.
Jake mengangkat bahu. "Para wanita terlihat cepat akrab."
Mereka berdua hampir bersamaan menarik napas panjang, seolah merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Damian akhirnya berkomentar, "Peserta terakhir sebelum ini, Luna… punya kepribadian yang menarik."
Jake mengangguk. "Benar. Aku pikir Sera yang paling periang di antara kita."
Setelah menyadari makna tersirat dari ucapan mereka, keduanya langsung terdiam. Seolah ada sesuatu yang tak kasat mata telah dideklarasikan.
Kedatangan Peserta Berikutnya
Tak lama kemudian, pintu gerbang terbuka lagi. Seorang pria dengan langkah mantap dan percaya diri memasuki taman. Senyum lebarnya terlihat ceria, sesekali tangannya merapikan ujung rambutnya.
Damian dan Jake segera berdiri mendengar suara langkah pria itu. Pria itu membuka pintu dan melihat sekeliling, tanpa ragu, langsung duduk di satu-satunya single sofa yang kosong.
Damian dan Jake bertukar pandang. Bagaimana dia bisa langsung memilih kursi yang masih kosong begitu saja?
Pria itu bersandar santai. "Apa hanya para pria yang sudah datang?" tanyanya.
Damian menggeleng. "Tidak. Peserta wanita sedang ke toilet."
Jake menambahkan, "Sebentar lagi mereka kembali."
Pria itu mengangguk. "Aaah, baiklah. Aku kira baru kita bertiga yang datang."
Jake tersenyum kecil. "Nanti kamu bisa memperkenalkan diri saat mereka datang."
"Oke, oke." jawab pria itu