bc

Tasbihku dan Rosariomu

book_age18+
517
FOLLOW
2.6K
READ
fated
drama
like
intro-logo
Blurb

Pertemuan tak disengaja antara Aisya Zara dan Kim Do Hyun di bandara Incheon membuat hubungan mereka perlahan semakin dekat, Apalagi mereka ternyata kuliah di universitas yang sama, pertemuan mereka pun semakin intens, perbedaan keduanya tidak menjadi halangan untuk mereka saling membantu, Do Hyun sering menolong Aisya selama di kota Seoul, karena Do Hyun merasa memiliki hutang budi padanya saat kejadian di bandara, Kedekatan diantara mereka membuat benih benih cinta itu pun mulai tumbuh.

Aisya yang awalnya berpegang teguh untuk tidak menanggapi ungkapan cinta dari Do Hyun pun mulai luluh karena perhatian Do Hyun padanya.

Hubungan mereka tentu saja mendapat penolakan keras dari keluarga Aisya.

Aisya mencoba untuk membicarakan secara baik baik pada ayahnya melalui panggilan telepon.

"Ayah menyekolahkanmu jauh-jauh ke negeri orang, untuk mencari wawasan yang lebih luas, agar cita citamu tercapai!" Teriak sang ayah.

"Iya Ayah, Aisya Tau! Tapi Do Hyun adalah pemuda yang baik, Dia sangat menyayangi Aisya, Dan kami akan menjalani hubungan yang lebih serius, Aisya yakin, Do Hyun bisa mempelajari semuanya dari nol! Dan Aisya bisa membantu Do Hyun untuk mempelajari nya!" Jelas panjang lebar Aisya.

"Apa kamu pikir, Do Hyun mau melakukan semua itu?"

Untuk sesaat Aisya terdiam, menarik nafas dan menjawab dengan penuh keyakinan pertanyaan dari sang ayah.

"Aisya yakin Do Hyun akan mau melakukan semuanya, karena dia sangat menyayangi Aisya,"

"Itu bukan Cinta, Sya! Itu artinya, Kamu Egois!"

'Degh'

Aisya tergelak lemah mendengar perkataan dari sang Ayah, Matanya menatap sendu Do Hyun yang kini berada di hadapannya. Seorang Ayah yang selalu didefinisikan sebagai cinta pertama bagi seorang anak perempuan, dan akan selalu mengutamakan kebahagiaan setiap anak nya, hal itu tidak ia rasakan saat mendengar kata kata yang dilontarkan oleh sang Ayah.

'Egois? Apa aku salah memilih untuk kebahagiaanku sendiri?' Batinnya bergemuruh.

Panggilan pun dimatikan sepihak.

Ia menyadari jika jalan yang ia pilih saat ini bukan lah jalan yang mudah, namun Aisya seolah tak berdaya dengan perasaannya.

chap-preview
Free preview
Si bocil Aisya
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan di SMA Bakti Insani, Seorang gadis yang memakai baju putih hitam dengan hijab berwarna putih sedang menunggu pengumuman tersebut dengan perasaan cemas, ia takut jika dirinya tidak lulus. Lamunannya pun buyar oleh suara dering ponselnya yang berbunyi membuat gadis berparas manis bernama Aisya ini mengerjap karena terkejut. Aisya pun meraih ponselnya dan menatap layar ponselnya, "Arsyla?" Gumamnya. Aisya pun mengangkat telpon dari sahabatnya tersebut. In Call, "Assalamu'alaikum?" "Wa'alaikum salam, Aisya Apa kamu sudah mendapatkan pengumuman kelulusannya?" Tanya Arsyila langsung. "Emm belum, Aku sedang menunggunya," "Tidak perlu khawatir, insya Allah kamu pasti lulus!" Ucap yakin sahabatnya itu. Aisya pun mengukir senyuman "Aamiin," "Ya sudah, nanti beri kabar jika kamu sudah menerima berita pengumuman itu, Ya?" Pinta Arsyila. "Insya Allah," "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikum salam." Panggilan pun berakhir, Aisya yang hendak mematikan ponselnya, namun jarinya terhenti saat pandangannya membaca pesan singkat yang baru saja masuk. Raut wajah senang Aisya terlihat setelah membaca pesan itu, Aisya melompat lompat kegirangan. "Alhamdulilah!!" Teriak Aisya yang membuat Fatimah ibu Aisya menghampirinya karena mendengar teriakan Aisya, Ia merasa khawatir jika sesuatu terjadi. "Ada apa nak?" Dengan raut wajah panik Fatimah mencoba bertanya pada putrinya yang sedang melompat kegirangan tersebut. Aisya tersenyum lebar melihat sang ibu, meraih tangannya dan kembali melompat lompat kegirangan. "Alhamdulilah, Aisya lulus bu!" Ucap Aisya senang. Sang ibu pun langsung memeluk Aisya karena merasa bahagia mendengar berita tersebut hingga buliran bening itu pun ikut menetes bersamaan dengan senyum bahagia sang ibu. *** Hari ini, Aisya sedang berkumpul bersama sanak saudaranya untuk merayakan hari besar yang hanya dirayakan setahun sekali. Di idul fitri kali ini, Aisya sudah resmi terlepas dari predikat 'bocil' yang sering didengarnya dari paman dan bibinya. Aisya, kerap dipanggil 'bocil' oleh kedua pamannya dan juga bibinya, meski Aisya berusaha untuk menentangnya, mereka tetap saja memanggil Aisya seperti itu. Aisya yang tidak terima dan sering protes, selalu diberi pengertian oleh sang ibu jika itu hanyalah panggilan kesayangan dari sang paman. "Hei bocil, setelah lulus sekolah rencananya kamu mau kuliah atau bekerja?" Tanya Dudi sang paman. Aisya pun menatap ke arah sang paman dengan raut wajah kesalnya "Aisya berencana untuk kuliah dengan jalur beasiswa, rencananya Aisya ingin kuliah di luar negri." Terang Aisya dengan senyum yang dipaksakan. "Waa, itu rencana yang sangat bagus!" Sahut Rudy paman kedua nya. Namun, ditengah obrolan mereka terlihat salah satu bibi Aisya yang tidak menyukai jawaban dari Aisya. "Wanita itu tidak perlu sekolah terlalu tinggi! Karena pasti berujung di dapur, kasur dan sumur! Untuk apa buang buang uang? Iya kalau dapat beasiswa kalau tidak, nanti hanya menyusahkan orang tua!" cibir sang Bibi kedua yang bernama Lela. Aisya yang merasa tidak terima dengan cibiran sang bibi pun hendak melawan perkataan beliau, namun sang ibu menggenggam tangannya erat dan menggeleng pelan. "Iya, kau memang benar! Wanita kodratnya memang di dapur, di sumur dan di kasur Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba! Jangan sampai kita menyerah sebelum berperang bukan? Lagipula, usia Aisya masih muda, biarkan dia mengejar mimpinya terlebih dahulu sebelum ia akhirnya harus menjalani kodrat yang sebenarnya," Lawan Fatimah. Sang bibi pun mendecih mendengar jawaban dari fatimah. "Cih, Jawabanmu terlalu percaya diri Fatimah!" Fatimah pun hanya tersenyum lembut mendengarnya. Sedangkan Aisya hanya menatap tajam sang Bibi. *** Hari berganti Seperti biasa Aisya sudah terbangun sebelum waktu subuh tiba, ia selalu membaca Alquran sambil menunggu adzan subuh berkumandang. Selesai melaksanakan kegiatannya setiap subuh, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Aisya. "Tok tok tok." Aisya pun bergegas membuka pintu kamarnya, nampak raut wajah sang Ibu yang selalu menjadi orang pertama yang Aisya jumpai dengan senyumannya yang hangat "Nak, Hari ini kamu ke sekolah kan?" Tanya Fatimah. Aisya pun mengangguk pelan. "Ya sudah, sarapan dulu.. Setelah itu persiapkan diri kamu untuk pergi ke acara perpisahan sekolah," "Iya bu." Setelah Fatimah pergi, Aisya pun bergegas untuk membersihkan kamarnya dan membersihkan dirinya ke kamar mandi. *** Di sekolah Aisya dikenal sebagai pribadi yang ramah dan sopan, ia memang tidak terlalu pandai dalam bersosialisasi dengan sekitarnya, tetapi Aisya selalu berusaha untuk bisa berbaur dengan yang lain. Aisya tiba di sekolah ditemani oleh kedua orang tuanya, karena sekolah mengadakan acara sungkeman karena itu orang tuanya diwajibkan untuk hadir. Acara perpisahan pun berlangsung haru, Aisya bersama teman temannya pun saling memaafkan dan saling berpamitan. *** 2 minggu setelah acara perpisahan, Aisya pun mendapatkan sepucuk surat dari sebuah universitas tempat Aisya mengikuti test. Aisya melompat kegirangan setelah membaca isi surat yang menyatakan jika Aisya lulus dalam mengikuti tes tahap pertama dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa belajar di universitas seoul, Korea selatan. Awalnya, kedua orang tua Aisya tidak menyetujui keinginan Aisya untuk melanjutkan pendidikannya di luar negri, terlebih keluarga Aisya yang merasa tidak mampu untuk membiayai Aisya selama disana, Aisya pun meyakinkan kedua orang tuanya jika ia akan mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai kehidupan sehari harinya. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya kedua orang tua Aisya pun menyetujui keinginan Aisya. Aisya begitu bahagia mendengar keputusan kedua orang tuanya yang mengizinkan ia menempuh pendidikan di universitas tersebut. *** Hari demi hari pun berganti, Tibalah hari dimana Aisya harus berangkat ke universitas seoul korea selatan untuk mengikuti tes tingkat selanjutnya. Aisya tengah bersiap untuk berangkat, kedua orang tuanya pun mengantarkannya ke bandara "Aisya, baik baik disana ya?" Ucap Fatimah mengelus lembut wajah Aisya. "Iya bu, Aisya akan hidup sebaik mungkin disana." Jawab Aisya Aisya pun memeluk erat sang ibu, hingga tetesan air mata itu tak terasa mengalir begitu saja. Aisya pun melangkah pergi menuju pesawatnya. *** Setelah menempuh perjalanan lebih dari 4 jam, Aisya pun tiba di bandara incheon, korea selatan. Senyum pun terukir di wajah Aisya sambil menarik nafas panjang, gadis manis ini pun mengucapkan rasa syukur dalam hatinya. 'Alhamdulilah, akhirnya aku sampai!' Batin Aisya. Aisya pun melanjutkan langkahnya menuju ke sebuah bis yang terparkir di luar area bandara, Namun belum sampai kakinya melangkah perhatiannya pun teralihkan oleh sebuah keributan yang sedang terjadi di hadapannya. Seorang pria dihajar oleh seorang penumpang asing yang berasal dari eropa, namun tidak ada yang berani ikut campur dan melerai mereka, para penumpang yang lain hanya menonton dan menunggu pihak keamanan bandara turun tangan. Aisya yang memang tidak menyukai kekerasan pun merangsek masuk ke dalam kerumunan tersebut dan mencoba untuk melerai mereka. "Tolong, Hentikan Tuan!" Ucap keras Aisya Namun, pria asing itu tidak mendengarkan ucapan Aisya dan terus saja menghajarnya, tanpa sengaja Aisya yang terus mencoba untuk melerai pun terkena pukulan mentah dari pria asing tersebut hingga Aisya jatuh tersungkur di atas lantai, dengan pelipisnya mengeluarkan darah. "Aww!" Ringis Aisya Pemuda yang ia tolong itu pun merasa syok melihat Aisya yang terluka, hingga ia berteriak "Stoop!!" Pukulan itu pun seketika berhenti, dan pemuda itu mencoba menjelaskan secara perlahan pada turis asing tersebut. "Saya tidak pernah mencuri dompet anda Tuan! Jika anda tidak percaya, anda bisa memeriksa CCTV bandara!" Petugas keamanan pun datang, dan membawa mereka berdua ke kantor keamanan. Aisya yang merasa persoalan sudah selesai pun bergegas untuk melangkah pergi menggunakan taksi. Sedangkan pemuda yang ia tolong mencoba untuk mengejarnya sekedar untuk mengucapkan terima kasih padanya dan memastikan jika lukanya tidak parah, namun Aisya sudah berlalu pergi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook