Tempat selanjutnya,
Do hyun mengajak Aisya pergi ke pantai, di daerah busan yang jauhnya 325 km dari seoul, namun perjalanan sejauh itu ditempuh hanya dalam waktu 2 setengah jam dengan menggunakan kereta api cepat, yang memiliki kecepatan hingga 300 km/jam.
Sesampainya di pantai,
Aisya menarik nafas panjang,
“Sudah lama sekali aku tidak pergi ke pantai,”
“Benarkah?”
Aisya menganggukkan kepalanya,
“Selama disini, yang aku tau hanya asrama, tempatku bekerja, dan juga kampus,”
Do hyun terkekeh,
“Ternyata hidupmu seserius itu,”
“Jangan meledekku!”
“Aku harap, kau berubah pikiran dan akan tetap disini, untukku.”
Aisya memalingkan wajahnya ke arah lain, tanpa menjawab ucapan Do hyun,
“Ayo, kita beli es krim,” Ajak Aisya seraya menarik tangan Do hyun,
Do hyun pun mengangguk setuju,
Aisya dan Do hyun menikmati waktu mereka di pantai, bermain kejar kejaran hingga bermain pasir dan ombak,
Do hyun bahkan menuliskan nama mereka berdua diatas pasir pantai dengan simbol love, namun ombak menghapusnya, hingga berkali kali Do hyun menuliskannya sebanyak itu pula ombak laut menghapusnya,
“Aiishhh, menyebalkan!” Gerutu Do hyun yang mulai kesal,
Aisya pun menertawakan Do hyun yang marah marah pada ombak,
“Apa kau menertawakanku?” tanya Do hyun dengan wajah serius,
Aisya menggelengkan kepalanya,
“Awas ya!” Do hyun kemudian mengejar Aisya, Aisya pun berlari menghindari Do hyun,
Hari pun menjelang sore,
Mereka memutuskan untuk kembali ke seoul dengan menggunakan kereta,
***
Sesampainya di seoul,
“Aku ingin mengajakmu ke tempat yang terakhir,”
Aisya mengerutkan dahinya, “Kemana?”
“Sudah, ikut saja.”
Aisya pun mengikuti langkah Do hyun,
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah tempat yang sering Aisya kunjungi untuk menenangkan diri,
“Masjid ini?” Aisya menatap ke arah Do hyun,
“Mungkin, Aku bukan seorang hamba yang cukup baik untuk Tuhanku, tapi aku tau kau adalah seorang muslim yang baik, jika kau kesini suatu saat, Aku harap aku sudah mendapatkan hidayah itu agar aku bisa menjadi imammu, Tapi jika tidak, aku harap ada kehidupan kedua yang menakdirkan ku untuk bisa se amin denganmu,”
Aisya tersenyum tipis mendengar ucapan Do hyun,
Terdengar suara adzan berkumandang,
Aisya pun melangkah masuk kedalam masjid, sedangkan Do hyun hanya berdiri,
Aisya melihat ke arah belakang, menampakkan Do hyun yang hanya tersenyum menatapnya,
‘Maaf Aisya, Aku sudah berbuat banyak sekali kesalahan padamu, mungkin ini saatnya aku untuk merelakanmu.’ batin Do hyun.
Aisya membalas senyuman Do hyun dan kembali melangkah ke dalam masjid,
***
Do hyun dengan setia menunggu Aisya mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu sholat,
Tak lama kemudian, Aisya pun muncul dengan senyuman manisnya,
‘Ya Alloh, Do hyun adalah pria yang baik, meski terkadang dia melakukan sesuatu diluar akal sehatnya, tapi dia melakukan semua itu hanya karena ingin melindungiku, Bolehkah aku bersamanya saja?’ Batin Aisya berkata
Aisya melangkah mendekat ke arah Do hyun,
Seketika senyuman nya pun berubah saat ia melihat sosok Arsyla yang tiba tiba muncul di belakang Do hyun,
Do hyun yang menyadari perubahan raut wajah Aisya pun melihat ke arah belakang,
“Arsyla?”
Arsyla tersenyum sinis menatap mereka berdua,
“Jadi, rupanya kalian sedang bersama? Pantas saja kau tidak bisa dihubungi Do hyun,” Ujarnya
“Darimana kau tau aku ada disini?” Tanya Do hyun heran
“Itu hal mudah untukku, Aku hanya perlu sedikit bermain kasar dengan teman kecilmu, Kim Aera,”
“Apa kau menyakiti Aera?” Bentak Do hyun
Arsyla tersenyum sinis,
“Tidak, kau tenang saja. Aku hanya bertanya baik baik, tapi karena dia terlalu lambat memberi tahu, karena itu aku memakai cara yang sedikit cepat dengan memberinya cenderamata,”
Do hyun menarik baju Arsyla,
“Apa yang sudah kau lakukan pada Aera?”
“Tidak ada! Katakan padaku, Apa kalian masih berhubungan?”
Mereka pun terdiam,
“Katakan!” Desak Arsyla,
“Iya, Itu memang benar!” Jawab lantang Aisya,
Tiba tiba Arsyla mengeluarkan ponselnya, yang ternyata sudah terhubung dengan kedua orang tua Aisya,
“Apa Ayah dengar? Aisya mengakuinya dengan sangat lantang.” Arsyla menunjukkan senyuman di sudut bibirnya,
Aisya menggelengkan kepalanya cepat,
“Tidak, bukan begitu maksudku,” Aisya berlari menghampiri Arsyla dan mengambil ponselnya,
“Aisya, Kenapa kamu masih berhubungan dengan pria itu?” Ucap sang ayah dari seberang telpon,
“Enggak yah, Gak gitu maksud Aisya,” Bantah Aisya,
“Aisya jujur sama Ayah, Apa kamu benar benar cinta sama laki laki asing itu?” Desak sang ayah
Dengan derai air mata Aisya mengangguk, “Iya yah,”
“Aisya! Sadar nak! Dia berbeda dari kita, kamu tau itu! Dia gak bisa jadi imam kamu!”
“Tapi Do hyun pria yang baik yah, Dia bisa belajar dari nol untuk menjadi imam Aisya,”
“Itu bukan cinta sya! Itu egois namanya sya!”
Aisya menutup matanya sejenak, hingga air mata itu pun tidak mau berhenti mengalir,
‘Egois? Aku hanya merasa tidak berdaya melawan perasaanku sendiri ayah, Aku benar benar jatuh cinta padanya, Aku merasa tidak bisa bernafas jika tanpanya,’ Batin Aisya
Do hyun pun berdiri di depan Aisya dan menatap sendu Aisya,
“Kalau kamu bersikukuh seperti itu, jangan harap Ayah bakalan anggap kamu anak ayah lagi!”
Tut tut tut
Telepon dimatikan sepihak,
Arsyla mengambil kembali ponselnya dari genggaman Aisya,
prok prok prok
Arsyla bertepuk tangan untuk Aisya,
“Hebat! Seorang gadis yang cerdas, agamis, dan berhijab sepertimu, akhirnya dikalahkan oleh perasaan cinta yang menggebu gebu sesaat dan lebih memilih pria asing yang belum lama kau temui, Lalu.. Apa bedanya kau dan aku?” Tanya Arsyla,
Aisya terdiam,
“Ayo, kita pergi!” Arsyla menarik paksa Do hyun untuk ikut bersamanya dan meninggalkan Aisya sendirian.
“lepas!” Do hyun melepa paksa pegangan Arsyla,
Arsyla menatap tajam Do hyun,
“Apa kau ingin, Aisya dipenjarakan oleh Appa karena sudah mencoba mengajakmu masuk dalam agamanya secara paksa?”
“Apa?” Do Hyun mengerutkan dahinya,
Do hyun pun mengikuti langkah Arsyla,
Aisya terus menangis karena mendengar ucapan dari sang ayah, Ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang,
“Aisya?”
Aisya menatap ke arahnya,
“Aera?” Ia kemudian memeluk erat Aisya,
“Maaf,”
Aisya menangis tersedu sedu di pelukan Aera,
***
Beberapa hari berlalu, Aisya menetap di rumah Aera,
Aera hanya menghela nafas panjang, melihat Aisya yang terus mengurung diri di kamar,
“Bagaimana keadaan Aisya?” Tanya Do hyun lewat telepon
“Aisya masih mengurung diri di kamar, Aku khawatir dia akan melakukan hal yang aku takutkan, Apa kau tidak bisa kemari?”
“Appa mengurungku di rumah setelah kejadian tempo hari,”
“Wanita itu benar benar jahat, dia sangat licik, bahkan melebihi dariku,” Ucap kesal Aera
Do hyun menarik nafas kasar,
“Tolong jaga Aisya,”
Aera menganggukkan kepalanya, “baiklah, Jaga dirimu.”
Do hyun hanya mengangguk,
Telepon pun dimatikan,
“Aisya, Maaf.” Gumamnya,
Do hyun merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Aisya tempo hari, Hingga ia membuat sebuah keputusan terbesar dan sangat menyakitkan untuk dirinya,
“Aku harap, keputusan ini bisa membuat kehidupanmu menjadi lebih baik, meski tidak bersama,”
Do hyun pun menemui Appa yang berada di ruang kerja.
“Appa?” Panggilnya
“Ada apa?”