Berusaha untuk tidak bergantung kepada siapa pun, agar hidup tetap berlanjut meski berpisah. Juga, agar kehidupan tidak terasa cacat walaupun tidak lagi bersama.
***
Sejak bertemu dengan Yusuf, Raina banyak merenung. Dia mencurahkan apa yang dia alami di setiap sepertiga malamnya kepada sang pencipta. Waktu di mana Allah SWT turun langsung ke bumi. Dia juga meminta nasihat para ustazah yang ada di An-Nisa. Namun, dia sengaja menyembunyikan hal ini dari anggota lain, termasuk Atika. Entah mengapa semua jawaban mengarah untuk megiyakan ajakan itu.
"Wahai Allah, jika memang dia untukku, jagakan hatiku untuk tak dia sakiti. Aku akan berusaha mencintainya. Dengan menyebut nama-Mu. Aku yakin tidak ada yang salah jika Engkau yang memilihkan."
Hari ini Raina akan melepas masa lajangnya, juga melepas harapannya kepada Rio. Pria yang selalu ada saat Raina mengalami kesulitan dan membutuhkan tenaga lelaki. Contoh saja sewaktu SMA, sepeda motor Raina bocor. Rio-lah yang mendorong sampai tukang tambal ban.
"Sejak kapan bocornya?"
"Gak tahu. Mungkin tadi pagi waktu berangkat, tapi takut telat makanya aku paksain sampe sekolah." Ini kali pertama Raina mendapat pengalaman ban bocor.
Rio geleng-geleng kepala. "Besok lagi jangan diulangin! Nanti bisa rusak bagian ininya." Nadanya menasihati sambil menunjuk bagian ban. Raina tidak tahu namanya apa.
Bibir bawah Raina manyun sambil merapikan poni. Mereka pun berada di tukang tambal ban sampai malam. Dia memang pulang lebih sore karena tadi sempat menghadiri kegiatan ekstrakurikulernya. Rio yang tahu Raina kedinginan, memberikan hoodie-nya lalu membelikan wedang jahe di penjual angkringan yang ada di dekat bengkel.
Usai itu, hujan turun sangat deras. Mereka mau menunggu sampai reda, tetapi kondisi sudah larut malam. Rio pun mengusulkan agar Raina pulang saja duluan dengan memakai jas hujannya, sedangkan dia akan menunggu hujan reda. Raina pun setuju. Namun, ternyata malam itu Rio justru menerabas hujan yang berakhir dengan mendapat omelan Raina. Sebab, paginya, flu dan demam menyerang Rio.
Panggilan masuk dari Nenek Karla menyadarkan Raina dari kenangan itu. Nenek terus menanyakan kabar cucunya. Apakah dia yakin dengan keputusannya? Sebab, terkadang manusia salah memilih pilihan dan berakhir dengan menyesal. Pilihan terlalu memusingkan. Seperti jalan yang tidak berdenah. Ini juga kali kesekian Raina meyakinkan Nenek kalau dia baik-baik saja.
"Nenek, tenang aja. Berdoa, ya, buat Raina. Semoga ini yang terbaik buat kita. Besok Raina bakal bawa suami ke rumah. Insyaallah Raina bahagia." Saat menutup panggilan, pesan Rio masuk.
Rio
Sore, Raina. Jangan lupa makan siang dan salat ashar. Biasanya kamu lupa makan.
Ketika jemari Raina ingin membalas, suara sang mama terdengar. "Raina, buka pintu! MUA-nya udah datang."
Bukannya membukakan pintu, Raina malah sibuk menyusuri masa lalunya lagi. Usianya masih enam tahun saat itu, dia pernah mengambil undangan bekas milik sang mama.
"Raina, nulis apa sih? Rio boleh lihat?" Kepala bocah lelaki itu condong ke samping.
"Ganti nama undangan," jawabnya masih sibuk mencoret-coret nama hingga tidak terbaca.
"Buat apa?" Dahi Rio mengerut. Yang dia tahu, undangan hanya diperuntukan orang dewasa yang akan menikah. Untuk apa sahabatnya mengganti nama?
"Buat mainan nikah-nikahan."
Tawa Rio mengejek. "Hahaha..., Raina pengen nikah."
"Rio!!! Pelan-pelan! Nanti orang denger. Aku malu." Raina memasang muka galak. Bibirnya maju tiga sentimeter.
"Kalau kamu menikah, nanti pisah seperti ayah dan bundaku. Raina mau?" Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Rio seolah sudah terdoktrin untuk membenci perceraian.
Raina geleng-geleng dengan mimik polos anak-anak.
"Namanya cerai. Kalau udah cerai gak boleh tidur bareng dan harus tinggal pisah rumah. Kayaknya ngobrol juga gak boleh, soalnya ayah bunda jarang banget ngomong." Sepolos itu Rio memaknai perceraian. "Memangnya Raina mau nikah sama siapa?"
Belum Raina menjawab, Rio berbicara lagi. "Sama Rio, mau?"
Raina diam.
"Mana lihat." Rio menarik paksa undangan. Jari Rio menunjuk simbol hati yang bertuliskan inisial RR. "Raina-Rio, tapi nanti kita bareng gini terus ya."
"Rainaaaaa!" Dan Raina harus berlari meninggalkan Rio karena mamanya memanggil. Kalau ketahuan main, dia akan dimarahi bahkan tidak segan memukulnya dengan sapu lidi.
Ketukan pintu membuat Raina menyudahi kesedihannya kala mengenang masa kecilnya bersama Rio itu.
"Bukain, Raina! Kamu jangan macam-macam! Awas kamu!" ancam sang mama.
Dulu, mamanya menghancurkan pernikahan khayalan milik Raina, dan sebentar lagi sang mama akan menghancurkan pernikahannya sungguhan.
Seiring Raina membukakan pintu, rasa tak mengenakan di d**a semakin membuncah. Rasanya dia ingin kabur, berlari kepada Rio. Namun, keinginan itu sebatas bayangan. Mamanya bisa marah besar. Ribuan harapan harus pupus mulai detik ini.
"Sudah siap, ya, Mbak?" Gadis berjilbab yang diamanahi merias Raina mempersiapkan lampu dan berbagai alat yang dia bawa untuk menyulap pengantin.
"A-ah, ya." Saat menjawab itu, hati Raina sangat berat. Bahkan, untuk mengatakan 'ya', dia harus menelan ludahnya yang terasa pahit.
"Saya mempersiapkan peralatan. Mbak Raina tolong memosisikan diri di depan meja rias. Tentang gaun, asisten saya akan membawanya ke sini. Kurang lebih satu jam lagi dia sampai."
"Oke," jawab Raina malas-malasan. Kakinya sungguh berat menuju kursi rias. Mata mamanya sampai melotot melihat ekspresi Raina yang tak mengenakan. Tentu saja mamanya ingin pernikahan ini terlihat natural atas dasar cinta. Padahal, Raina yakin, Yusuf pun menikahinya karena nafsu.
Raina membawa ponsel. Membuka tombol kunci guna membalas pesan Rio.
Raina
Hmmm... Lagi istirahat?
Rio
Mau briefing sama crew. Penerbangan selanjutnya Amsterdam-Paris.
Rasanya Raina ingin mengucapkan selamat tinggal, tapi lagi-lagi urung. Dia tidak siap jika Rio tahu.
Raina
Safe flight.
Rio
Thanks. Jaga kesehatan.
Jaga kesehatan. Kalimat peduli Rio terasa tidak nyaman di hati Raina. Apakah hanya Raina yang menyimpan rasa untuk Rio? Oke, Raina sadar, perhatian pria itu hanyalah sebatas rasa cinta seorang sahabat kepada sahabatnya. Atau memang Rio ada rasa, tetapi masih berjuang menghadapi trauma masa lalu? Entahlah.
Maaf, Rio, aku tidak lagi menunggu, batin Raina.
Raina
Kamu juga.
Tidak perlu ditanya bagaimana hati Raina. Berantakan, pasti. Semua rasa berkecamuk tanpa arah. Tak berdaya. Siapakah Yusuf itu? Apakah sifat dan sikapnya akan seperti Nabi Yusuf?
Oh, ya Allah, kenapa rasanya seberat ini?
Raina tidak b*******h melihat cermin. Tidak ada rasa penasaran seperti pengantin wanita saat wajahnya akan disulap dengan berbagai trik make up. Orang bilang, the power of make up.
***
Seorang lelaki bernama Abu Thalhah sangat sedih tatkala sang wanita idaman menolak lamarannya. Padahal, dia sudah menawarkan mahar fantastis, tapi Ummu Sulaim binti Mulhan tidak tertarik sedikit pun. Abu Thalhah nyaris tidak percaya kalau wanita itu bisa menolaknya. Tidak sampai di situ, Abu Thalhah datang lagi. Cinta tulus yang dimiliki tak mematahkan semangat. Dia menawarkan mahar lebih fantastis dari sebelumnya.
Dengan sopan, Ummu Sulaim menjawab, "Lelaki sepertimu tak patut ditolak oleh siapa pun. Tapi kau ini lelaki kafir, sementara aku wanita muslimah. Aku tak boleh menikah denganmu."
Dengan begitu, Abu Thalhah menuju Rasulullah SAW. Saat itu Nabi Muhammad tengah berkumpul bersama para sahabat. Abu Thalhah menyampaikan maksud lantas Rasulullah SAW menikahkannya dengan Ummu Sulaim dengan mahar keislaman Abu Thalhah.
Raina kagum dengan kemuliaan iman Ummu Sulaim. Dia selalu jujur terhadap Allah SWT, diri sendiri, dan sesama manusia. Pantas jika Ummu Sulaim menjadi teladan luhur wanita generasi berikutnya. Mahar yang diajukannya menjadi mahar paling mahal di dunia.
"Kamu cantik sekali, Raina," puji sang mama.
Raina menutup buku yang dia baca. "Ma...," rengek Raina.
Tidak ingin orang lain mendengar kegusaran anaknya, mama Raina meminta MUA keluar sebentar. "Jaga sikapmu, Raina. Jangan sampai ada orang yang mengira kamu tersiksa dengan pernikahan ini."
"Ma...," suara Raina bergetar, "Di sini Raina memohon sebagai anakmu. Sejak Raina kecil, Mama tidak pernah memandang Raina. Mama memperlakukan Raina seenak hati. Mama melakukan apa saja demi kebahagiaan mama. Raina dihujat, Raina dikucilkan, Raina kesepian, Raina gak punya teman. Apa Mama peduli? Kadang Raina berpikir, apakah menurut Mama, Raina adalah dagangan yang bisa diperjualbelikan? Mama itu kejam! Jangan jadikan Raina w************n. Cukup Mama saja yang murahan." Selama bertahun-tahun Raina hanya diam, dan hari ini dia meluapkan perasaannya. "Raina tidak mau menikah."
"RAINA! Pergilah jika tidak mau jadi anak Mama lagi!"
Tatapan dan ekpresi sang mama membuat Raina takut. Dia menahan mati-matian supaya air matanya tidak jatuh karena kini bendungan matanya seperti akan rapuh.
"Kamu gak perlu khawatir. Semua kebutuhanmu akan terpenuhi, bahkan lebih. Jangan berbuat macam-macam. Semua yang Mama lakukan untuk kebaikanmu. Kamu juga udah pernah ketemu dia, kan?"
Raina tidak butuh kata-kata itu. Dia butuh pelukan sang mama. Namun, jarak keduanya terlalu jauh. Memeluk saja rasanya sungkan.
Ya Allah, tidak pernah terpikirkan Raina akan menikah dengan pria yang tidak dia kenal kepribadiannya. Kepalanya menunduk, mulutnya tertutup rapat. Setelah tubuh mamanya ditelan pintu, MUA masuk membawa gaun akad nikah.
"Ada banyak pernikahan sukses tanpa mengenal terlebih dahulu, Raina. Cinta hanyalah soal waktu," gumamnya pelan kepada diri sendiri.
"Kita harus segera selesaikan, ya, Mbak. Sebentar lagi ada mobil yang akan menjemput Mbak Raina."
Dia tidak menjawab.
Empat puluh lima menit kemudian, Raina sudah rapi dengan balutan gaun. Jujur saja Raina mengakui kepiawaian MUA dan keindahan gaun, tetapi tetap saja hatinya sangat sedih harus meninggalkan Rio.
"Mbak Raina, saya keluar dulu mau ambil buket bunga," pamitnya. Sepeninggalan MUA, Raina mengambil secarik kertas dan pena.
Malam ini, kututup mimpi akan dirimu. Kuhentikan sajak bersamamu. Kehilangkan kamu pada urutan prioritasku. Meski begitu, ingatlah, malam ini, malam kemarin, dan malam selanjutnya, tangan ini tak henti menengadah untukmu. Bibir ini tak henti melantunkan doa untukmu. Telinga ini tak henti mendengar tawamu. Bibir ini tak henti tersenyum melihat senyummu.
Namun, Kakiku sudah berhenti mengejarmu. Hatiku sudah berhenti mengharapkanmu. Pikiranku berhenti berpikir tentangmu. Langkahku sudah berbeda arah denganmu. Aku dan kamu ada untuk tiada. Bertemu untuk berpisah. Beriringan hanya untuk berpapasan. Aku dan kamu ditakdirkan begini. Aku bukan untukmu dan kamu bukan untukku. Aku dan kamu, tak sama lagi seperti dulu.
Bayangan Rio sekarang tampak nyata. Mata Rio yang terpancar saat bermain dengannya. Lelucon Rio yang sering membuatnya tertawa. Sosok Rio yang selalu menjadi pelindungnya ketika banyak teman mencemooh.
Pria idaman itu akan menjauh darinya saat tahu Raina sudah menikah. Rio akan berhenti melindungi Raina. Semuanya sungguh menyesakkan d**a.
MUA yang tadi sempat keluar untuk mengambil buket bunga, cukup terkejut melihat Raina menangis. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum.
"Mbak Raina menangis? Pasti terharu sebentar lagi mau ganti status jadi istri, ya?" tebaknya salah besar. Dengan cekatan, petugas MUA itu merapikan sedikit dandanan makeup-nya. Setelah dirasa siap, dia menggandeng lengan Raina.
"Ayo, Mbak. Mobilnya sudah datang."
Tatapan Raina kosong selama kakinya dituntun menuju mobil. Selama perjalanan pun dia merasa tak punya gairah hidup. Suara mesin berbagai kendaraan ibu kota beserta klakson yang bersahutan semakin membuat pikirannya terasa kacau.
***
Bismillahirrahmanirrahim ...
Jangan lupa share perasaan dan pengalaman kalian di snapgram dan tag @mellyana.i :)
Enaknya update lagi hari apa ya?
Mel~