Bersama Untuk Berpisah

3020 Words
Sekarang aku dan kamu ada untuk tiada. Bertemu untuk berpisah. Beriringan hanya untuk berpapasan. Namun, aku harap, di jalan selanjutnya kita bisa bergandengan tangan penuh impian dan melangkah menuju Surga-Nya. *** Hiasan bintang di langit-langit kamar tampak bercahaya ketika lampu dimatikan. Raina duduk di kasur memangku guling bermotif bunga. Suhu AC disetel 20 derajat, cukup untuk mendinginkan udara malam yang panas. Mungkin hujan akan segera turun. Teori Nenek Karla, jika suhu mendadak panas, tandanya akan hujan lebat. Benar atau tidak, dia tidak pernah menanyakan pihak BMKG. Dia bukan siapa-siapa. Dia bukan siapa-siapa. Dia bukan siapa-siapa. Perkataan Rio menjadi faktor pendorong bibir Raina membentuk satu garis lurus. Sesekali dia menutup wajah dengan guling dan memeluknya. Begitu saja sudah bisa membuatnya bahagia. Bagaimana kalau Rio mengucapkan, "Maukah kamu menikah denganku?" Ah, sudah pasti Raina sangat bersyukur. Kebahagiaan akan datang untuk orang-orang yang sabar. Maka Raina akan sabar menunggu Rio sembuh dari kenangan masa lalu. Usia dan finansial tidak cukup menjadi modal. Riana tidak pernah minder kena bully teman majelis akibat melajang, yang lebih dia takutkan kena bully setelah kegagalan pernikahan. Walau sahabatnya tidak pernah secara gamblang mengatakan akan menikahinya, tak tahu kenapa keyakinan di dalam hati Raina begitu kuat. Yakin mereka akan hidup saling melengkapi, menerima, dan berproses bersama. Tidak ingin terlambat tahajut nanti, Raina memutuskan untuk menyudahi lamuannya. Dia mengirim pesan kepada Rio berisi ucapan doa agar saling bermimpi indah. Tidak lupa dia memakai toner dan krim malam. Dari cermin Raina bisa melihat wajah cantik pemberian Allah. Baru menarik selimut, seseorang mengetuk pintu. Tok. Tok. Tok. Raina menghela napas. Tubuhnya beranjak menuju jendela. Dia bisa melihat siapa yang datang. Sesuai dugaan, mamanya pulang diantar seorang pria memakai kemeja putih yang sudah lusuh. Raina harus membukakan pintu. Meski mamanya membawa kunci cadangan, saat mabuk dia pasti lupa di mana meletakkan kunci. Racauan sang mama yang mabuk berat terdengar jelas. "Raina..., satu dua..., Dasar anak haram! Bukain..., pintu buat mamamu yang b***t ini, hahahaha. Mama mau masuk." Suara ketukan semakin kuat. "Iya, sabar, Ma," jawab Raina. "Raina..., hahaha anak gak..., terima..., hahaha..., besok ketemu, hahaha...." Mata Raina terbelalak saat melihat siapa pria yang mengantar ibunya. Namun, pria itu tampak biasa saja. "Pak Yusuf! Kok bisa?" Kalau tidak disadarkan rancauan sang mama, pasti Raina masih mematung. Dia tidak menyangka pria itu bisa bersama dengan mamanya. Dengan sigap, dia meraih tubuh mamanya yang masih terus meracau. Setelah menidurkan mamanya di sofa, Raina kembali ke mulut pintu. Siap menginterogasi Yusuf. "Kenapa bisa sama Bapak?" "Mama-mu mabuk di kafe langgananku." Bagi Yusuf tidak penting menjelaskan banyak, dia tidak peduli penilaian Raina tentang dirinya. "Terus kenapa Bapak yang antar? Kenal sama Mama?" Raina tidak terlalu malu pria itu pada akhirnya kini tahu latar belakangnya. Toh, sepertinya Yusuf ada di dunia yang sama dengan sang mama. Alih-alih menjawab, Yusuf malah menuju mobil. Raina kini tahu sisi lain dari pria itu. di balik sikap dinginnya, ternyata dia pandai merayu wanita tanpa padang usia. Tubuh Yusuf berbalik saat Raina hendak menutup pintu. "Wanita itu melelangmu di meja perjudian." Mendengar informasi konyol itu, Raina mendekati Yusuf. Dia membaca mimik wajah Yusuf yang begitu santai mengabarkan berita buruk. "Apa?" Helaan napas Yusuf terdengar. Dia tidak ingin mengulang informasinya. Raina terkekeh, berusaha berpikir positif kalau yang dikatakan pria di depannya hanya bualan. "Tolong, ya, Pak Yusuf, jangan ngawur. Satu lagi, tolong pisahkan urusan pribadi ini dengan bisnis bunga." Yusuf membalas Raina dengan senyum sinis. Tanpa berkata apa pun, dia berbalik menuju mobil mewah miliknya. Dia ingin minum alkohol sampai mabuk, melewati hari berat dengan anggur terbaik yang diekspor dari Amerika langsung. Begitu mobil Yusuf benar-benar pergi dari halaman rumahnya, Raina kembali masuk ke dalam rumah. Dia sudah melupakan kalimat yang tadi Yusuf sampaikan. Masih ada mamanya yang kini harus dia urus. Napas Raina naik turun ketika melihat sang mama masih mengigau tidak jelas. Setiap pohon, bukankah harus tumbuh sehat dan berusaha menompang buah-buahnya agar berkembang dengan baik? Menjaga dari kerasnya angin, panas, dan hujan. Harusnya, ibunya ibarat pohon dan Raina adalah buahnya. Namun, tak sekali pun dia mendapatkan siraman hati supaya tumbuh dengan baik di kemudian hari. Selama ini, Raina berusaha untuk tetap mampu menjadi buah saat dilepas oleh pohonnya. Buah itu akan tumbuh sendiri, berkembang lebih baik dari induknya. "Mama, please, berhenti dari kebiasaan ini." Raina melepas high heels mamanya, membalut tubuh sang mama dengan selimut yang baru saja dia ambil dari kamar. Kemudian, wanita itu memastikan semua jendela dan pintu terkunci. Tak lupa, dia juga mengunci ruangan supaya sang mama tidak keluar rumah tanpa sepengetahuannya. Raina duduk di tempat tidur secara kasar. Dia memijat pelipis. Matanya beralih menatap foto masa kecilnya yang berdiri berdampingan dengan seorang anak laki-laki. Pikirannya menjadi lebih rileks ketika mengenang masa kecilnya yang cukup indah. Bagian bawah pada foto itu tertulis Raina dan Rio. Semasa kecil, keduanya selalu bersama. Dulu, Raina kerap kali menangis saat kelelahan mengejar Rio yang tidak bosan berlari sambil memainkan pesawat terbangnya. "Rio, kenapa cepet banget larinya? Aku capek." "Hahaha.... Ayo, kejar aku, Raina! Aku-lah Rio Adara Saputra, si pilot andal. Wussssss!!!" Rio meniru suara pesawat dari bibir mungilnya. "Semakin aku mengejar, kamu semakin jauh." "Wusss! Pesawat Rio terbang ke arah Raina." Tawa keduanya pecah di tengah taman dekat rumah Rio saat bocah lelaki itu menabrakkan mainannya di bahu Raina. "Hei, Raina," panggil temannya yang lain. "Kenapa?" tanya Raina dengan wajah polos. "Anak haram hahaha.... Kata mamaku, kamu anak haram." Raina berdiri, mendekati bocah lelaki itu dan dua temannya yang lain. Sebelum Raina sampai di depan mereka, Rio berlari. "Kenapa kalian mengganggu temanku?" "Kita gak mengganggu." "Aku bukan anak haram. Aku punya papa kok," kata Raina membela diri. Tangan Rio terlentang. Menghadang ketiga teman yang ingin mendekati Raina. "Raina bukan anak haram! Dia itu gadis cantik. Kata Mama, apa pun yang diciptakan Allah adalah ciptaan terbaik. Pergi kalian! Aku adalah prajurit Raina. Kalau kalian jahat sama Raina, aku bakalan nyerang kalian dengan pesawat tempur," ucapnya dengan nada galak. Daripada kena serang Rio, mereka pun memilih pergi. "Dasar penakut." Raina berjongkok seraya menutup wajahnya. Rio memperhatikannya. Dia adalah prajurit Raina, seorang prajurit akan bersedih ketika ratunya menangis, tapi kesedihannya tak boleh nampak. Dia harus bisa menghiburnya sehingga negara dongeng mereka dapat kembali berwarna. Sebab, ratunya memiliki senyuman indah nan menawan. "Ratu Raina, lihat pesawat ini. Suatu saat aku akan membawamu terbang." Raina mengusap air mata, penasaran dengan kalimat Rio. Cita-citanya memang ingin terbang. Saat melihat burung, dia berpikir bahwa terbang akan membuatnya melihat keindahan dari ketinggian. "Kamu jangan sedih lagi." "Beneran kamu mau ajak aku terbang?" "Iya." "Janji?" Jari kelingking Raina diarahkan kepada Rio. "Janji." Dia mengganguk mengiyakan seraya mengaitkan jari kelingkingnya. "Prajurit siap mengantar Ratu, ke mana pun Ratu mau pergi." Kebersamaan mereka pernah terjeda saat Rio harus pindah rumah dan sekolah karena perceraian abi-uminya. Raina tahu saat itu Rio sangat terpukul. Hal yang membuat Raina menyesal adalah sang ratu tidak bisa menghibur prajuritnya. Terlalu lama mengenang masa kecilnya, tak terasa jam di ponsel Raina sudah menunjukkan pukul satu malam. Raina beranjak untuk mengambil air wudu, berniat salat witir. *** Setelah salat subuh, Raina membaca surah Al-waqiah. Dia memang sedang menghafal beberapa surat. Kalau dipikir-pikir, jika sehari saja menghapal satu ayat, dalam waktu kurang lebih tujuh belas tahun tujuh bulan sembilan hari, sudah bisa mengkhatamkan tiga puluh juz. Tatkali bibir Raina melafazkan ayat kedua puluh, ketukan keras pintu kamar membuatnya terkejut. "Raina, buka!" seru sang mama tanpa salam. "Raina! Cepet bukain! cepet!" Raina menghela napas, menutup mushaf, dan menciumnya. "Iya, Ma. Sebentar." Dilipatnya sajadah secara cepat lalu diletakkan begitu saja di atas tempat tidur. Kenop pintu diputar oleh sang mama. "Cepet!" Kalau Raina tidak cepat, bisa-bisa kenop pintu itu rusak. "Pakai baju ini. Kita harus bertemu orang penting." Begitu pintu dibuka, sang mama langsung menyerahkan dress belah samping yang akan mengekspos pahanya, kepada Raina. Manik-maniknya berkilau ketika terkena cahaya. "Raina udah gak pake pakaian kayak gini, Ma. Gak nutup aurat. Sampai mati Raina akan menjaga hijab ini." Mama Raina memutar bola mata. "Kamu harus nurut sama Mama!" "Enggak. Raina udah teguh sama prinsip ini." Hidup ini penuh dengan pilihan dan suara. Satu mengatakan A, lainnya mengatakan B. Kalau tidak punya pendirian, siap-siap saja menjadi seperti bambu yang terhanyut di sungai. Malas berbasa-basi, wanita paruh baya itu mengatakan yang sebenarnya. "Kamu harus bertemu calon suami-mu. Jadi, tampillah yang terbaik," ucapnya dengan nada penuh penekanan dengan wajah tersenyum. "Maksud Mama apa? Calon suami?" Mama Raina mengganguk cepat, senyumnya merekah. "Iya, kamu harus menikah." Sorot mata Raina memandang mamanya protes, dahinya berkerut, dan kedua alisnya hampir tertaut. Tiba-tiba dia kembali teringat omongan Yusuf semalam, mengenai mamanya yang melelang dirinya. "Jadi benar Mama menjual Raina? Ini hidup Raina, Ma. Raina berhak mengatur hidup Raina sendiri." "Ini demi kebaikan masa depan kita, Raina." Kepala Raina ingin pecah menghadapi sang mama. "Istigfar, Ma. Mama udah gila sama harta." Darah Raina semakin mendidih. "Kalau kamu mau Mama berhenti jadi PSK, kamu harus nurut sama Mama. Mama janji akan berubah." Kali ini mama Raina menggunakan dalih ingin berubah. Pintar sekali mengambil peluang dari keinginan terbesar sang anak. "Maaa...," tangis Riana pecah. Kakinya mendadak lemas merasa sangat frustrasi. Seiring kepergian sang mama dari hadapannya, tangisnya semakin menjadi. Dia sangat ingin mamanya berhenti dari pekerjaan haram, tetapi tidak dengan cara seperti ini. Cobaan apa lagi ini? Raina ingat kajian salah satu ustaz saat dia mengikuti jamaah subuh. Allah SWT akan selalu memberikan cobaan kepada semua makhluknya. Tipe manusia dibagi menjadi dua pengibaratan. Kayu dan emas. Kayu adalah ibarat manusia yang tidak sabar menghadapi ujian. Ketika cobaan yang dianalogikan api membakarnya, dia akan menjadi abu. Emas adalah pengibaratan manusia yang sabar saat diberi cobaan. Ketika dia dibakar, dia bukan menjadi abu tak berharga, melainkan semakin mengilat dan harganya pun semakin bernilai. Kini, rasanya Raina akan menjadi kayu. Sulit sekali seperti emas. Mata Raina hanya melirik sekilas baju pemberian mamanya. Ke mana dia harus berlari? Kepada siapa dia harus berlindung? Apakah ini mimpi? Dijual oleh orangtua satu-satunya yang dia punya? Buah harus melepaskan diri dari pohonnya agar terbebas. Dia tidak bisa menurut kemauan mamanya. Ketika kaki Raina beranjak pergi, sekelebat kata-kata mamanya teringat oleh Raina. "Kalau kamu mau Mama berhenti jadi PSK, kamu harus nurut sama Mama. Mama janji akan berubah." Pekerjaan bertahun-tahun yang dijalani mamanya akan ditinggalkan, kalau Raina menurut. Dia pun mematung di tempat. Apa yang harus dia lakukan? Tampaknya semua jalan seperti buntu. Tertutup dan terkunci rapat. Kalau pun terbuka, Raina takut memasukinya karena setelah pintu masuk, banyak lubang-lubang menjebak. Pasukan oksigen melimpah di kamar seolah tak mampu membantunya mencairkan pikiran yang ingin pecah. Sebaik-baik tempat curhat dan pelindung adalah Allah SWT. Maka dia memutuskan untuk menghadap-Nya saja. *** "Raina! Ngapain aja sih?! Lama banget!" omel sang mama sambil berkacak pinggang di mulut pintu. "Buruan lepas mukenamu!" Baru saja Raina selesai melaksanakan salat dan berdoa, mamanya sudah kembali dengan wajah marahnya. Dengan berat hati, Raina menurut. Baiklah, dia harus menyelesaikan persoalan ini sendiri. Bertemu dengan pria yang merelakan uang demi mendapatkan dirinya ini. "Ma..," panggil Raina memohon belas kasihan. "Kamu bersedia atau gak, Mama gak mau tahu. Pokoknya kamu harus menikah kalau kamu memang berniat mengubah Mama," ucap sang mama. Sungguh Raina dirundung kebimbangan. Sudah lama dia ingin mamanya meninggalkan dunia kelamnya, bahkan sejak dia masih kecil. Saat anak seusianya menciptakan kebahagiaan dengan bermain, Raina sudah berpikir keras agar mamanya berhenti dari pekerjaan hina itu. Raina pernah mogok makan, tapi itu tidak membuahkan hasil. Mamanya beralasan bahwa apa yang dia lakukan adalah wujud tanggung jawabnya sebagai ibu. Dengan bekerja sebagai PSK, mereka bisa bertahan hidup dan bisa membiayai sekolah Raina. Saat itu Raina memang belum mengenal agama dengan baik. Dia hanya berusaha menutup telinga dengan kedua tangan yang dia miliki dari ocehan tetangga. Namun, saat ini dia tidak bisa membiarkan itu. Dia tidak mau mamanya terjerumus semakin dalam pada dunia kelam. "Kasih alamatnya aja, Ma. Raina mau nemuin dia sendiri." Mamanya pun setuju dan melenggang keluar kamar Raina. Bersamaan dengan itu, Rio menghubunginya. Besok, pria itu akan bertugas kembali. Setahu Raina, Rio akan terbang ke Eropa. Sempat Raina berpikiran untuk meminta dinikahi Rio saja, tetapi urung dia lakukan. Tidak hanya sekali dia mengode pria itu untuk melangkah bersama ke pelaminan, tapi nyatanya hanya jawaban hampa yang dia dapat. Jadi, rasanya, menyembunyikan masalah ini dari Rio akan lebih baik. Tepat pukul delapan pagi, usai salat dhuha, Raina bergegas pergi. Aneh. Bukannya mengajak bertemu di kafe atau rumah, pria yang ingin menikahinya ini justru memintanya bertemu di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Apakah dia pegawai di sana? Pukul sembilan, Raina melewati pemeriksaan keamanan. Dari pesan yang dikirim, pria itu telah menunggu di ruang terbuka antara pendopo dan gedung baru. Sejak diresmikan, Raina baru kali ini masuk ke dalam Perpusnas. Dia sempat terkagum-kagum dengan isi pendopo. Dia tidak menyangka Indonesia yang terkenal dengan minat bacanya yang rendah, ternyata memiliki gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Bahkan, mengalahkan Shanghai Library Institute. Perpustakaan tidak terlalu ramai, mungkin karena jam kerja dan sekolah. Raina hanya melihat seorang pria duduk menyilangkan kaki sambil membaca buku. Dia tarik napas panjang dan membuangnya kasar sebelum menghampiri. Raina melangkah dengan perasaan gusar. Semakin dekat, semakin dia yakin kalau pria itu adalah... "Pak Yusuf?" Penilaian Raina mulanya tidak terlalu buruk. Yusuf sopan saat di kebun bunga. Namun, pertemuannya sekarang benar-benar mengubah caranya memandang pria itu. Jadi, pria inilah yang memenangkan lelang dirinya semalam? Pantas saja dia yang mengantarkan mamanya pulang ke rumah. Yusuf menutup buku. "Kita batalkan rencana gila ini." Raina langsung terus terang. Bahkan, dia tidak perlu repot-repot duduk. "Aku akan ganti uang yang sudah dibayarkan." "Satu M." Yusuf membuka buku lagi. Tidak tertarik melihat wajah Raina yang penuh kemarahan. Raina kaget bukan main. Dia tidak yakin bisa mengganti uang sebanyak itu. "Lebih baik jadi istri saya daripada p*****r saya, kan?" Pria di hadapannya ini benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang dia temui saat di kebun Nenek Karla. Dari cara bicaranya saja sudah tidak sopan sepertimu. Raina tak mampu menahan tatapan sinisnya kepada Yusuf. "Sebenarnya, apa rencanamu?" "Saya hanya ingin menyelamatkanmu." "Aku bisa laporin ini ke polisi. Ini sama aja kayak perdagangan manusia." Yusuf mendengkus. "Jadi, kamu mau lihat ibumu dipenjara?" Raina kalah bicara. Rasanya dia ingin gila menghadapi Yusuf dan mamanya. Yusuf tersenyum sambil memainkan bukunya. "Anggap aja saya niat nikah. Usia kita udah matang. Anggap juga satu milyar itu sedekah buat mamamu." Sesekali tangannya memegang daun telinga. "Nikah biar apa?" "Menghindari zina," jawab Yusuf. Setelah mendengar jawaban pria di hadapannya, Raina merasa tergelitik. "Kalau menikah hanya untuk menghindari zina saja, itu nggak cukup. Kamu harus mapan secara agama, akhlak, tanggung jawab, dan pemikiran. Apalagi, aku sedang dalam proses berhijrah. Mimpi aku cuma satu, menikah dengan pria saleh yang dapat menjadi imamku kelak. Menikah denganmu? Tidak semudah itu." "Kenapa gak kita coba berproses bersama?" Yusuf terus mendesak. Tentu saja demi mencapai tujuan yang dia inginkan. Raina geleng-geleng saking tidak paham dengan apa yang ada di pikiran pria berkulit sawo matang itu. Daripada semakin hilang kewarasan bicara dengan Yusuf, Raina memilih pergi. Yusuf tidak berbohong. Begitu melihat wanita berwajah oval itu untuk pertama kalinya, dia langsung terpukau dengan kecantikannya. Cantik yang alami tanpa polesan makeup tebal. Sambil menatap kepergian Raina, Yusuf membatin, meskipun kamu cantik. Berpindah ke lain hati memang tidak mudah. Aku akan menikahimu, tapi setelah itu akan akan menceraikanmu. *** "Raina," panggil Rio seraya berlari dari pintu mobil. Setiap langkahnya mengeluarkan aura kharismatik. Belum lagi tatanan rapinya yang terlihat sederhana tapi classy. Raina yang baru saja turun dari mobilnya, menekan tombol untuk mengunci mobil. Dia tersenyum kepada Rio, dengan senyum yang sangat berbeda dari biasanya. "Barengan kita. Jodoh kali ya." Rio memang sering mengeluarkan celotehan seperti itu. Biasanya, hati Raina akan bereaksi, tetapi kali ini malah semakin membuat bibirnya berhenti tersenyum. Pikirannya mulai berkelana ke permasalahan perjodohannya dengan Yusuf. Sampai akhirnya, tangan Rio melambai tepat di depan wajahnya, membuatnya tersadar dari lamunan. "Malah ngelamun. Ngelamun itu gak baik loh." "Iya, iyaaa. Mau masuk gak?" Sore ini mereka memang membuat janji untuk bertemu di kafe tempat mereka biasa berkunjung. "Kamu duluan aja. Aku ambil uang di ATM dulu." "Oke. Mau pesan apa?" Supaya tidak membuang waktu, Raina berniat memesan makanan terlebih dahulu. "Pesan bidadari dari surga aja." Rio semakin menggoda. "Aku serius, Rio!" Suaranya cukup keras hingga dua orang sejoli yang tengah memakirkan sepeda motor menatapnya. "Duarius." Jari telenjuk dan tengah lelaki itu membentuk huruf V. "RIO!!!" "Lagi PMS, Bu?" "RIOOO!!!" Nada Raina semakin meninggi. Hampir saja tas yang dia tenteng memukul bahu lelaki itu. Namun, pria itu hanya terkekeh. "Terserah! Males banget!" Raina berjalan masuk ke kafe dengan wajah yang perlu disetrika, sementara Rio masih berdiri menunggu jalanan sepi seraya menertawakan gadis itu. Setelah cukup longgar, kakinya melangkah menuju mesin ATM di seberang jalan. Ketika Raina duduk di kursi, dia melihat Yusuf. Raina berdecak kesal. Apa jangan-jangan pria itu sedang membuntutinya? Namun, sepertinya pria itu tidak menyadari keberadaan Raina. Beberapa detik dia melongo menyaksikan kegiatan yang tidak biasa. Pria itu belanja banyak makanan mahal untuk dibagikan ke pengamen dan pengemis yang ada di persimpangan jalan. Meskipun terlihat tidak berperasaan, ternyata pria itu masih memiliki sifat peduli. "Mukanya serius amat," tegur Rio yang muncul tanpa permisi. Dia ikut-ikutan melihat apa yang sahabatnya lihat. Raina terkejut. "Hih, kayak setan aja. Ngagetin." "Sahabat sendiri dibilang setan." Begitu keduanya duduk, Raina menatap Rio serius. Hatinya terasa teriris. Dalam diamnya, Raina membatin, Rio, mungkin ini kali terakhir kita bersama. Aku tidak menyangka kalau kebersamaan kita tidak akan sampai menua. Semoga kamu bahagia dengan wanita pilihanmu kelak. "Kenapa, sih, ngelihatinnya kayak gitu? Aku terlalu tampan, ya?" Rio memasang wajah sok tampan. Raina memutar bola mata malas. "Kamu tahu dia siapa?" tanya Raina sambil mengaduk minuman dengan sedotan. Matanya tertuju pada sosok Yusuf. "Yusuf Mandala, kan? Salah satu investor market place online yang lagi booming di Indonesia. Sekaligus pengusaha yang dikenal dermawan." "Bisa aja pencitraan," tebak Raina sengit. "Kamu kok tahu tentang dia?" "Salah satu temanku juga pengusaha. Dia kayak jadiin Yusuf role model. Sering bikin story juga, jadi secara gak langsung tahu dari dia. Walaupun namanya baru melambung, prestasi Yusuf udah lumayan." Tidak ingin membahas Yusuf lebih lanjut, Raina mengawali obrolan serius. "Menurut kamu, kalau orang yang kita sayang mau berubah tapi kita harus mengorbankan sesuatu yang sebenarnya kita gak mau, kamu akan berbuat apa?" Melihat Raina serius, Rio pun menanggapinya. "Segala sesuatu butuh pengorbanan. Siapa tahu kalau kita melakukan itu, ke depannya keadaan akan membaik. Kenapa tidak melakukannya?" Raina bungkam. Dia mencoba merenungi masalah yang dia hadapi dengan berbagai konflik yang mungkin akan terjadi. "Ada apa sih?" tanya Rio. Dia mulai mencium ada hal yang tidak beres. Sejak awal bertemu dengannya tadi, Raina terlihat begitu gelisah. Seperti ada sesuatu yang menggelayut di pikirannya. "Gak apa-apa." "Cewek gitu ya. Ada apa-apa bilangnya gak apa-apa. Kalau gak nanya, dikira gak peduli," keluh Rio lalu meminum jus yang dipesankan sang sahabat. Padahal, besar harapannya Raina mau bercerita. "Besok berangkat jam berapa?" Pria itu menjawab malas, sadar betul Raina hanya mengalihkan pembicaraan. "Jam empat pagi." Makanan datang. Rio yang sudah lapar langsung melahapnya. Raina diam-diam menatap dalam saat pria itu sibuk memasukkan makanan ke dalam mulut. Dalam hatinya, dia seperti berpuisi. Rio, siapa yang tak inginkan kamu? Senja mau. Fajar mau. Ratu pun mungkin tertarik padamu. Lantas, bagaimana dengan aku?. Berada di dekatmu saja aku berdebar. Tubuhku bergetar, tapi hatiku gentar. Aku tak mungkin denganmu. Itu saja sudah cukup menyakitkan. Cukup melumpuhkan harapan dalam kehidupan. Di sisi lain, Raina ingin menceritakan kejadian semalam kepada Rio. Namun, dia tidak berdaya. Raina tahu Rio belum siap menikah. Dia tidak mau kalau pria itu tahu masalahnya, dan mengorbankan psikisnya dengan menikahi Raina. *** AUTHOR NOTE Assalamualaikum ... Ini udah 3000 kata loh. Masih kurang panjang gak?  BTW dapat salam dari Yusuf, mau menyapa kalian. Tonton videonya ya :)     BOOM VOTE KOMEN KALAU MAU LANJUT YA Mel~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD