2. Heart Beat

1439 Words
Anindira menatap wajah CEO itu. Tidak mungkin baginya melupakan wajah itu. Wajah yang pernah ia lukai dulu. Wajah itu pula yang menghantuinya selama ini. Anindira menggigit bibir bawahnya. Pikirannya melayang pada masa bertahun-tahun silam. Ada ribuan kata maaf yang ingin ia ucapkan, namun lidahnya mendadak kelu. Kenan yang ada di hadapannya kini bukan Kenan yang dulu. Wajah lugu dan polos yang Kenan miliki dulu tak terlihat lagi sekarang. Yang berdiri di hadapannya kini adalah seorang pria dewasa yang tampan dan penuh kuasa. "Ken ...," ucap Anindira lirih. Ia tidak sanggup untuk menyebut nama sang CEO. "Apa kabar, Nindi?" sapa Kenan. Ia menarik kedua ujung bibirnya yang seksi membentuk senyuman. Anindira menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa semakin kering dan jantungnya berdenyut sangat cepat hingga hampir meledak. Udara dingin mulai menyelimuti sekujur tubuhnya dan membuatnya sedikit gemetar. "Apa kabar?" Kenan mengulang pertanyaannya dengan sangat sopan. Anindira bergeming. Bibirnya masih mengatup rapat. Insting flight or fight-nya belum memutuskan. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk fight. Setidaknya sampai ia bisa mengungkapkan yang selama ini mengganjal di hatinya, pikirnya. "Nindi, are you okay?" Anindira terkesiap dan menjawab dengan gugup. "Oh, iya. Iya, aku baik-baik saja.” Anindira tidak bisa memalingkan pandangannya dari Kenan. Tatapan pria itu seakan menguncinya dengan rasa bersalah. Bayangan semua tindakannya yang sangat memalukan, bodoh, dan tak berkeprimanusiaan kembali bergelung di benaknya. Wajah pria muda yang dijebloskan ke balik jeruji besi oleh orangtuanya karena fitnah yang ia ciptakan kembali memenuhi ingatannya. Dadanya terasa sesak mengingat kejadian delapan tahun silam yang kelam itu. “Mau minum apa?” pertanyaan Kenan membuyarkan lamunan Anindira. Anindira tidak mempunyai pilihan untuk menjawab selain keinginan terbesarnya selama ini yaitu untuk meminta maaf pada Kenan. “Kau mau minum kopi atau teh?” tanya Kenan sekali lagi. Anindira menarik napas panjang mengumpulkan keberanian sebelum  berkata, “Sebaiknya kita tidak perlu berakting seolah-olah kita teman lama, Kenan. Kita tidak pernah menjadi teman, bukan?” Kenan berdiri. Pria bertubuh tinggi itu berjalan mengitari mejanya mendekati Anindira. “Kalau kita bukan teman, lantas kita apa? Musuh?” Anindira menunduk. Seharusnya ia senang bertemu dengan Kenan karena ia bisa meminta maaf padanya, pikirnya.  Namun, entah kenapa kata-kata itu terasa begitu sulit keluar dari mulutnya. “Kenan—“ “Jika kau berniat untuk meminta maaf sekarang, aku tidak akan menerima permintaan maafmu.” Kenan memotong dengan nada tegas. Anindira mengangkat wajahnya, sedikit mendongak. Iris cokelatnya menembus tatapan hijau Kenan. Seketika wajahnya berubah muram. Lalu, Kenan tersenyum dan membuat Anindira semakin terperangkap dalam kebingungan. “Aku tidak akan menerima permintaan maafmu karena aku sudah memaafkanmu sejak lama.” Anindira mengangkat sebelah alisnya. Kenan menangkap keraguan Anindira karena reaksi wanita itu. Kenan mengulangi ucapannya. “Benar. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Aku punya alasan untuk itu.” “Benarkah? Apa semudah itu kau memaafkan aku?” tanya Anindira pelan. “Sulit untuk memaafkanmu, tapi aku tidak bisa selamanya menyimpan dendam. Dendam itu menyiksa, memaafkan lebih baik,” balas Kenan bijak. “Ken—“ “Aku sudah melupakannya. Aku harap kau tidak mengingatkanku lagi.” “Kenan, aku pernah mengacaukan hidupmu. Membuatmu dan keluargamu menderita. Apakah aku pantas untuk dimaafkan?” Kenan bersedekap lalu mendesah, “Baiklah. Jika kau masih ragu aku sudah memaafkanmu atau hanya berpura-pura, terimalah pekerjaan ini. Bantu aku di sini. Kau akan tahu apa yang kauragukan itu tidak pernah ada.” Anindira tak bisa menolak lagi tawaran Kenan, selain itu Anindira memang sedang membutuhkan pekerjaan. Anindira mengangguk patuh, namun gugup. Ia tidak pernah menganggap Kenan sebagai teman, tapi Kenan berbicara seolah-olah ia dan Anindira berteman. Tidak lama kemudian Kenan memanggil manajer keuangan yang bernama Radith, lalu memberitahukannya bahwa Anindira akan bergabung bersamanya di departemen keuangan. *** Anindira melewati bulan pertamanya sebagai staf keuangan dengan baik. Entah gosip dari mana yang mengatakan bahwa ia dan bos mereka adalah teman lama, hampir seluruh staf keuangan membicarakan hal itu setiap hari. Namun, semua itu tak memengaruhi etos kerja Anindira. Wanita berhidung mancung itu tak memedulikannya. Malam itu Anindira dan beberapa staf terpaksa melembur untuk membuat laporan. Semua staf bekerja sesuai dengan bagiannya. Anindira melirik arlojinya sambil sedikit mengeluh, "Sudah jam sembilan tapi belum beres juga." "Bu Nindi, kami pulang duluan, ya." Beberapa staf yang sudah menyelesaikan tugasnya pulang bersama-sama. "Iya. Hati-hati di jalan, ya," balas Anindira. "Pak Min, udah mau pulang juga?" tanya Anindira pada seorang office boy yang masih membereskan gelas-gelas kopi para staf di ruangan itu. "Kalau Bu Nindi mau ditungguin sama saya, saya tunggu, Bu," ucap OB yang biasa dipanggil Pak Min itu. "Tidak usah, Pak Min. Pak Min pulang saja. Ada Pak Satpam di depan," “Baik, Bu.” Pak Min pun meninggalkan Anindira. Jarum jam berputar begitu cepat. Saat Anindira sudah membereskan semua pekerjaannya, ia baru menyadari bahwa ia berada di kantor tersebut sampai hampir tengah malam. Semua ruangan sudah gelap, hanya lampu di atas meja Anindira yang masih menyala. Anindira membereskan tasnya dan segera keluar dari ruangannya. Ditemani cahaya lampu yang minim, wanita itu berjalan menyusuri lorong menuju elevator. Perasaan takut mulai merayap ke punggung dan seluruh tubuhnya. Tak ada seorang pun di lantai ini. Remang-remang lagi. Mana Pak Satpamnya, ya? Kok, tidak ada satu pun? Ya, ampun, aku jadi takut sendiri. Anindira mempercepat langkahnya. Dia berlari menuju elevator yang jaraknya hanya beberapa meter, namun tiba-tiba tubuhnya menabrak sesuatu yang keras. Bukan sesuatu, tapi tubuh dengan otot kuat. Buuuk! Anindira pun terjatuh di lantai.”Auw!!!” "Maaf, maaf, kamu belum pulang?" suara bas yang sampai ke pendengaran Anindira itu membuatnya menegang. "Aah ... be-lum. Aduh! Kakiku." Pria itu menyelusupkan tangannya di antara paha dan betis Anindira lalu menggendongnya. "Hei, mau apa kamu?!" teriak Anindira. Pria berpostur tinggi itu membopong Anindira menuju ruangan yang terletak di ujung lorong lantai. Karena pandangan yang samar dan sedikit ketakutan, Anindira tak memperhatikan ke mana pria itu membawanya. Pria itu mendudukan Anindira di atas sebuah sofa sesaat setelah mereka memasuki ruangan, lalu dia berjalan menjauh dari Anindira dan tiba-tiba lampu di ruangan itu menyala sangat terang. Anindira menutup matanya dengan tangan karena cahaya yang tiba-tiba menembus retina matanya. Anindira menurunkan tangannya perlahan, ia melihat Kenan berdiri di hadapannya. "Kenan?" Anindira mengerjap-ngerjap mencoba membiasakan matanya dengan cahaya ruangan yang terang. "Kakimu masih sakit?" "Iya," balas Anindira sambil memegang pergelangan kaki kanannya. "Sini, aku lihat." Kenan mendekat lalu memosisikan dirinya sejajar dengan Anindira. "Tidak usah. Nanti juga sembuh sendiri, kok." Anindira berusaha menolak bantuan Kenan. Kenan mengangkat alis tebalnya. "Kamu itu lucu. Kaki terkilir itu tidak bisa sembuh sendiri, harus dipijat sama ahlinya.” "Memangnya kau, maaf, Bapak bisa memijat?" "Kau bilang apa tadi?" Kenan menatap heran Anindira. Anindira terdiam saat pandangan mata mereka beradu. Ada perasaan aneh yang menyelinap diam-diam ke hatinya. "Mmh ... aku bilang... mmh... apa Bapak bisa memi-jat?" jawab Anindira gugup. "Bapak? Hahaha." Kenan tertawa lebar. Dia ganteng juga kalau sedang tertawa begitu, pikir Anindira. "Memangnya aku terlihat seperti bapak-bapak, ya?" Kenan masih terkekeh. "Kalo di kantor kan aku harus memanggilmu "Bapak"." Anindira menggigit bibir bawahnya. "Ini sudah di luar jam kerja, jadi kau tidak perlu memanggilku “Bapak”." Kenan membuka sepatu Anindira. "Kamu tahan sedikit, ya, rasanya akan sedikit sakit." Saat jari-jari Kenan mulai menyentuh kakinya, Anindira merasakan sensasi menggelenyar ke sekujur tubuhnya. Sensasi yang tidak pernah ia rasakan selama tahun-tahun terakhir. Setelah lulus SMA dan setelah cintanya pada Raihan pupus, ia tak pernah menambatkan hatinya pada pria mana pun. Tapi, saat ini, bersama Kenan dia merasakan hal lain. Kenan mulai menekan dan membenarkan posisi kaki Anindira yang terkilir dengan pijatannya. Sumpah demi arwah ayahnya di surga, Anindira ingin menjerit sekencang-kencangnya menahan sakit. "Auw!" Refleks, Anindira memeluk Kenan. Kenan tersentak dengan pelukan Anindira. Pria berambut cokelat gelap itu merasakan detak jantungnya kian melonjak. Dia tak menduga rasa yang pernah hadir bertahun-tahun lalu akan kembali datang. Sadar berada dalam pelukan Kenan, Anindira segera mendorong tubuhnya menjauh dari Kenan. Ia terisak. Air matanya membasahi pipi mulusnya. "Kamu menangis?" Kenan membingkai kedua sisi wajah Anindira yang basah oleh air mata. "Sakit banget," balas Anindira lirih. Ia menunduk. Rasa sakit di kakinya, panas di wajahnya, dan perasaan-perasaan lainnya bercampur aduk saat ini. Kenan mengangkat wajah Anindira, lalu menyapu air matanya dengan jemarinya. "Jangan cengeng. Sekarang coba kamu jalan," pinta Kenan. Anindira mengangkat tubuhnya untuk berdiri lalu mencoba melangkah. Ternyata Kenan memang ahli pijat. Terbukti, Anindira langsung bisa melangkah dengan lincah. "Terima kasih, ya. Aku harus pulang sekarang. Sudah larut malam. Mama pasti menungguku." Anindira mengambil tasnya . "Kamu pulang pakai apa?" "Taksi, mungkin. Bus kan sudah tidak ada." "Aku akan mengantarmu." Kenan langsung berdiri dan mengambil kunci mobilnya dari atas nakas di samping sofa. "Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Aku tidak mau merepotkanmu." "Ayo!" Kenan menarik pelan tangan Anindira. ===== Sambung lagi besok, yak. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD