Tidak selang waktu lama, orang yang menelpon Shaira tadi pun hadir kesana berjumlah 3 orang berbadan besar, tinggi dan kekar tampak menyeramkan khas seorang Bodyguard.
Shaira menyambutnya seraya langsung barther kunci kos-kostsan-nya dengan uang dalam jumlah besar didalam amplop berwarna coklat dari ketiga orang itu.
"Oke, Deal kita." Ucap Shaira tersenyum iblis. Sementara ketiga orang itupun saling senyum iblis nan tertawa-tawa seraya bersulang minuman beralkohol disana.
Tidak banyak menghabiskan waktu bersenang-senang, lantas ketiga orang itupun bergegas melanjutkan aksinya menuju kos-kosan milik Shaira.
Sesampainya di sana, lingkungan tampak sepi, mereka memakirkan kendaraan tepat di pinggir jalan, satu orang menunggu didalam mobil, sementara dua orang lainnya bergegas menuju kos-kosan Shaira. Perlahan namun pasti, mereka membuka pintu kost-san tersebut menggunakan kunci yang diperoleh langsung dari Shaira selaku penyewa kostsan itu.
Setelah berhasil masuk kedalamnya, mereka langsung menyiapkan obat bius yang di semprotkan kedalam kain tipis ditangan mereka. Setelahnya mereka mendekat ke arah 'barang' yang sudah mereka tukar dengan sejumlah uang kepada Shaira tadi.
Ya, 'Barang' yang dimaksudkan tersebut ialah Azenith.
Begitu memandangi tubuh Azenith yang kini masih terpejam di atas ranjang salahsatu dari mereka berkata, "Wah, sungguh menggairahkan nihan tubuh wanita ini, tampak Sexy dan muluss nihaaaan." Membasahi bawah bibir dengan lidahnya seolah ingin sekali mencicipinya.
"Jaga dulu pikiran kau, akupun tak tahan melihatnya. Tapi ingat wanita ini adalah pesanan bos kita. Bila nanti bos tidak sudi dengan wanita ini, barulah kita nikmati dia bersama-sama. Gangb'ng Braaaay"
"Sip, Setuju. Tak tahan aku lihatnya, Sexy Nihan wanita ini. Baiklah, ayo kita segera bawa dia" Pungkas salahsatu diantara mereka seraya menyiapkan kain yang sudah disemprot obat bius itu.
Mereka langsung membekap mulut beserta hidung Azenith yang posisinya masih tertidur nyenyak. Azenith terperangah dalam kejutan lantas membuka kedua matanya.
"Emmph ... emph ..." Berusaha sekuat tenaga hendak melepaskan tangan mereka, tetapi apalah daya kedua tangannya maupun sebagian tubuh lainnya telah di bekap sedemikian rupa oleh mereka, ia tidak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya tidak bisa lagi sadarkan diri.
Sukses membuat Azenith tidak berdaya, lantas dibopongnya tubuh Azenith, bergegas pergi dari sana.
___
"Aman, bro?" Bisik salahsatu dari mereka kala keluar dari pintu kostsan-melihat situasi.
"Aman" mengangkat ibu jari. Lantas mereka pun kembali ke arah mobilnya berada dalam kecepatan penuh namun sembari mengendap-endap tak lupa jua saling menoleh lingkungan sekitar untuk antisipasi bila hal-hal yang mereka takutkan terjadi.
Akhirnya berhasil sampai dimana mobilnya terparkir. Aksinya aman terkendali tidak diketahui oleh warga sekitar. Semua terjadi lantaran saat ini suasana disana sepi, cukup minim penerangan dan jua waktu yang sudah menginjak dini hari.
Selepas Azenith sudah mereka masukkan kedalam kendaraan, lantas mereka memacunya pergi dari sana dalam kecepatan penuh.
Bruum ... brum ...
Ngoeng ...
__
Mereka bergegas menuju langsung ketempat tujuan, yakni ke tempat bos-nya tinggal disalah satu hotel yang berada di kota itu.
Begitu sampai pada hotel yang dimaksud, bergegas membopong tubuh Azenith untuk diserahkan kepada bosnya.
Tepat didepan pintu kamar hotel, Mereka segera memencet bel kamarnya.
Ting ... tong ... ting ... tong ...
Bos-nya pun keluar lekas berkata, "Bawa dia masuk kedalam"
"Baik, bos" bergegas membawa Azenith nan menempatkannya di atas ranjang milik bos itu.
Perlahan bos itu melangkah mendekat untuk melihat hasil pesanannya. Begitu melihat keseluruhan fisik Azenith, tersenyum nan langsung memberikan upah sesuai yang sudah ia janjikan.
"Bagus, ini bayaran kalian. Bergegaslah kembali ke markas, esok kita kembali ke ibu kota." Pungkasnya.
"Baik, Bos" Jawab mereka singkat nan lekas hengkang dari sana.
__
Bos ini adalah seorang Mafia yang sedang menjalankan bisnis gelap di daerah sana. Ia berasal asli dari ibu kota Negri ini.
Dia seorang lelaki dewasa bernama Vegard Ricardo berparas tampan dan menawan berusia 28 tahun masih status lajang, putra tunggal dari seorang Mafioso yang terkenal dikalangan orang-orang dalam bidang itu.
Dalam kehidupan gelap seperti Vegard tak heran bila tidak pernah lepas dari segala perbuatan laknat layaknya bermain dengan wanita untuk memuaskan napsu birahinya.
Sementara untuk Shaira teman Azenith tadi adalah seorang mucikari berusia muda. Tak heran bila dia mudah dikenali oleh para anak buah Vegard dalam pencarian 'barang' seperti ini.
Tujuan awal Shaira memanggil Azenith di pinggir jalan raya sebelumnya adalah hendak mencari mangsa, tiada sangka mangsanya tersebut adalah teman sekolahnya sendiri.
Apapun itu dialah Shaira seorang mucikari muda yang tidak peduli apapun selain keuntungan untuk dirinya sendiri meski dengan cara keji seperti ini, yang tega menjual temannya sendiri demi mendapatkan uang.
Shaira memang sudah kerapkali melakukan hal ini, memanfaatkan kelemahan sesama perempuan untuk mengais mereka dalam bujuk sedemikian rupa apiknya kala mereka tengah depresi seperti yang dialami oleh Azenith.
Sementara untuk Azenith sendiri samasekali tidak terpikir yang tidak-tidak terhadap Shaira lantaran mereka memang sudah saling kenal sedari kecil dan jua karena mereka adalah tetangga meskipun jarang berjumpa apalagi kumpul bersama-sama.
__
#Next Story.
Selepas ketiga anak buahnya hengkang dari sana, Vegard bergegas melakukan aksinya kepada gadis malang yang kini terlentang di atas ranjang.
Tanpa buaian maupun sambutan lantaran si perempuan tidak dalam kesadaran, lantas Vegard tetap menggagahinya penuh kenikmatan dalam kurun waktu semalaman.
Pagi hari kemudian, Tepat pukul 05:20 am. Suasana masih cukup petang, Azenith kembali dalam kesadaran lantas terbukalah matanya walau tubuh masih terbaring di atas ranjang.
Perlahan-lahan walau kepala masih terasa berat, ia meluruskan pandang ke langit-langit. Di pikirnya masih didalam kostsan Shaira maka tidaklah ia merasa curiga.
Tetapi, sungguh terkejutnya ia kala menoleh ke arah sebelah ranjangnya.
'Ya Tuhan, apa yang terjadi. Oh Tidak! Si--siapa lelaki ini?' batinnya penuh tanya seraya mata membelalak ke arahnya. Lantas ia melihat ke arah sisi lain tubuhnya, maka lebih terkejutnya ia kala sudah melihatnya.
'Tidak, ya Tuhan, Tidak!!!'
Mendapati tubuhnya tertutup selimut tanpa sehelai busana yang melekat di tubuhnya,
Tak kuasa menahan pedih, berderailah air matanya, lantaran menyadari merasakan sensasi yang berbeda pada daerah kewanitaannya.
Bergegas turun dari atas ranjang itu lekas meraih kembali busana miliknya, kemudian dia pakai busana seraya mata tertuju ke arah lelaki itu.
'Bed'bah kau, manusia Lakn't!'
Isak tangis yang dirasakannya, membuatnya tidak bisa berpikir dengan sempurna. Namun, tak dapat ia utarakan langsung melalui lisan lantaran ia benar-benar dalam kebimbangan.