"Apa kabar kau Sha, lama nihan kita tak jumpa. Rupanya sudah sukses sekarang kau ya ..." Ucap Azenith seraya melihat fisik Shaira dari ujung kaki hingga kepala.
"Ya beginilah Nith, hehe. Oh, iya ngomong-ngomong loe darimana mau kemana malam-malam begini jalan sendirian? Dan ... bawa tas pula," Tanya balik Shaira tak ayal melihat fisik Azenith juga.
"Oh, ini--" Azenith terbata Shaira jua lekas memenggal kalimatnya "Duh, cuaca makin ekstrim nih Nith, mending loe naik gih ikut gue, nanti kita obrolin di kos-kosan gue, Kuy." Ajaknya.
"Tapi Sha," Azenith penuh keraguan.
"Udah, tidak ada tapi-tapian, buruan naik keburu basah baju kita" Antusias Shaira.
Azenith merasa sungkan. Tetapi akhirnya ia menurutinya lantaran Shaira ini adalah temannya saat mereka masih menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, meskipun dulu tidak begitu akrab.
__
Setelah mereka siap, Shaira beranjak memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh lantaran rintikan air hujan kian deras. Perjalanan mereka cukup panjang, kos-kosan yang Shaira ucapkan tersebut terletak di ibu kota dari propinsi itu. Disaat melintasi berbagai kecamatan, cuaca berbeda-beda. Kini tidak ada mendung maupun hujan.
"Sha, memangnya kau nge-kost dimana? kayaknya kita jalan udah sangat jauh dari desa kita." Tanya Azenith semasih didalam perjalanan.
"Gue ngekost di ibu kota Nith, sambil kerja juga disana" Jawab Shaira.
"Oh, pantas saja ini kayak jalan menuju ke ibu kota" Jawab Azenith seraya menoleh kanan dan kiri saat mereka sudah menjelang sampai di wilayah ibukota dari propinsi itu.
"Bentar lagi kita nyampe kok" Lanjut Shaira.
"Oke, tapi jangan terlalu ngebut-ngebut lagi Sha, ngeri."
"Hilih, apa loe takut Nith? Haha dasar Norak" celetuk Shaira mencandainya.
"Halah, abisnya kau seperti orang kesurupan nyetirnya Sha, ngeri nihah!" Celetuk Azenith.
"Haha, sue! Kalo tadi tidak ngebut, kita udah basah kuyup Nith" Pungkas Shaira lantas memacu kendaraannya semakin kencang yang membuat Azenith semakin teriak-teriak.
"Sha, pelanin Sha, Astaga Sha!"
"Hahaha berisik loe ah, bodo amat. Pegangan gih biar gak kabur tubuhmu," Shaira justru semakin terpacu kala Azenith berteriak. Lantaran dia memang usil sejak dulu, meskipun mereka sangat jarang kumpul bersama-sama.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di kos-kostan yang Shaira tinggali. Suasana lingkungan sana cukup nyaman sebab tetangga sesama kontrak tidaklah padat melainkan hanya dua pintu, yakni yang shaira tinggali dan hanya satu tetangga.
"Yep, sampai deh kita ..." Ucap Shaira kala mereka tiba tepat didepan kost. Lantas Azenith pun turun dari atas motor seraya menoleh kesana dan kemari.
"Kau nge-kost disini sudah berapa lama Sha? Tampaknya nyaman disini, tak terlalu padat penduduk." Azenith melihat keseluruh penjuru arah.
"Udah cukup lama sih, lagian Gue juga sering pindah-pindah Nith, udah yuk kita masuk dulu" Jawabnya seraya mengambil kunci kost didalam tas-nya. Azenith mengangguk lekas melangkah menyusul Shaira masuk kedalam ruang kost-nya.
Setelah sudah masuk didalam, Azenith masih berdiri sembari menoleh keseluruh ruang dalam kostsan itu. Disana hanya terdapat satu ruang dalam diameter yang cukup sedang, beserta satu kamar mandi.
"Wei, kenapa malah berdiri dan bengong disitu loe Nith, sini duduk." Ucap Shaira seraya membongkah kresek putih ditangannya lekas mengeluarkan isinya berupa beberapa cemilan dan makanan.
"Jujur Aku kagum sama kau Sha, kau bisa hidup mandiri seperti ini." Ucap Azenith seraya menghampirinya duduk di lantai beralaskan karpet berwarna orange.
"Hehe udah terbiasa Nith, oh iya ... Gue belum sempat nanya tadi. Loe tadi mau kemana malam-malam jalan sendirian?" Tanya-nya seraya menyodorkan minuman dingin. "Nih ambil"
"Oh, itu ... anu, Sha." Jawab Azenith seraya meraih minuman tersebut dari tangan Shaira lantas tampak sedih ekspresi wajahnya.
"Oke, oke, klo loe gak mau cerita ya gak papa Nith, intinya kalo loe ingin hidup mandiri kayak gue, loe boleh tinggal disini sama gue," Ucapnya.
Azenith memandangnya sedikit heran, lantaran Shaira begitu mudah mengucapkan kalimat tersebut. Tetapi, Azenith tidak berlarut dalam rasa heran itu, Lantaran secara pribadi dia tidak begitu memiliki pikiran curiga secara berlebihan kepada siapapun terlebih lagi kepada Shaira, tetangganya sendiri.
"Em ... Tapi Sha," Merasa sungkan bila langsung menerima tawaran tersebut.
"Udah santai ajalah Nith, nanti gue cariin kerjaan sekalian buat Elo, gimana?" Lanjut Shaira.
"Wah, kerja ... Beneran Sha? Kalau begitu aku mau deh, aku ingin bekerja Sha." Jawabnya tampak gembira, Lantaran tak ingin bila tinggal disana secara cuma-cuma.
__
Waktu sudah menempati pukul 01:00 am.
Mereka asik saling berbincang-bincang yang tidak berarti, hingga tidak menyadari kini waktu sudah lewat tengah malam. Tak lupa jua saat saling berbincang mereka berfoto bersama maupun Shaira memfoto Azenith seorang diri melalui ponselnya.
"Wah, sudah tengah malam rupanya, mata loe keliatan bengkak gitu Nith, sebaiknya loe istirahat duluan gih" Ucap Shaira seraya membereskan bungkus cemilan dan minuman yang usai mereka makan di lantai.
"Iya, Sha" Azenith beranjak berdiri sembari bengong melihat ke arah tempat tidur.
"Udah loe buruan istirahat dulu di kasur gue Nith, pakek aja" Ucap Shaira kala melihat ekspresi Azenith penuh keraguan.
"Ett … tapi Sha" lantaran tempat tidur yang tersedia disana berukuran kecil yakni hanya muat satu orang saja.
"Hilih, tapi, tapian melulu. Santai aja Loe pakek aja kasur gue." Lanjut Shaira seraya melangkah hendak menaruh bungkus kresek ke tong sampah.
Melihat Shaira tampak tulus Akhirnya Azenith pun lekas merebahkan badannya di atas kasur itu. Tak lama kemudian ia memejamkan mata, bablas tertidur lantaran kelelahan, baik tubuh maupun pikiran.
Sementra Shaira masih disibukkan dengan pekerjaan kecilnya yakni berbenah ruang kost-nya. Hingga saat dia melihat kembali ke arah Azenith, dia pun tersenyum penuh misteri.
Sesudahnya berbenah ruang kost-nya Shaira masih saja melanjutkan aktifitasnya, yakni membuka lemari pakaian nan melipat pakaian miliknya sedemikian rupa rapihnya kedalam ransel.
"Yosh, beres juga. Sip Lah ..."
Setelah apa yang sedang dikerjakannya usai. Lekas berbenah diri didepan kaca cermin, merias diri sedemikian rupa moleknya. Selesai merias diri nan berbusana rapi, lekas melangkah pergi tanpa Azenith ketahui sembari membawa ransel tersebut.
Shaira pergi menggunakan sepeda motor miliknya ke arah sesuai tujuannya. Tak lama kemudian, ia pun sampai di tempat tujuan itu yakni ke arah tempat hiburan malam yang terdapat di kota itu.
Sesampainya di tempat biasa ia memarkirkan kendaraan, melihat handphonenya sejenak lantaran berdering sejak masih didalam perjalanan tadi.
Bip!
Ia angkat panggilan itu, "Ya Halo," Ucapnya seraya menoleh kesana dan kemari.
"Apakah barangnya sudah ada sesuai yang kau janjikan?" Tanya seseorang yang sedang menelpon.
"Sudah ada, Sesuai foto yang gue kirim tadi." Jawab Shaira. Lantas orang yang menelpon itupun segera melihat sejenak kiriman Shaira tadi.
"Oke, kita bertemu di tempat biasa." Pungkas orang itu, mematikan sambungan telephonenya.
Bip!