Episode 2

1001 Words
Dan benar saja, saat dirinya sudah menjelang sampai tampak kepulan asap tebal dari arah rumahnya serta terdengar suara gaduh para warga tengah berbondong-bondong hendak memadamkan kobaran api. "Tidak! Ini tidak mungkin! Ibu ... Ayah ..." Histeris seraya terus berlari hingga sampai di lingkungan rumahnya. "Azenith, hentikan jangan mendekat kesana!" Seru orang-orang yang disana sembari menghalangi Azenith kala dia hendak mendekat ke arah api yang sudah berkobar-kobar semakin besar itu. "Ayah ... Ibu ... Ayah dan ibuku mana, dimana dia! Katakan dimana mereka, Ayah ... Ibu ... " Teriaknya kala tangan ia dipegang oleh beberapa warga. Air mata sudah membanjiri kedua pipinya kala mata belum melihat dimana keberadaan orangtuanya. "Ayah ... Ibu ... Hiks, Hiks, Ayah ... Ibu," Orang-orang menahan tubuhnya sekuat tenaga kala ia masih terus berusaha untuk mendekat ke arah kobaran api itu. "Bapak-bapak sekalian, tolong segera panggilkan bapak Erwin dan Ibu Gina. Cepatlah" Perintah kepala desa setempat ditengah ramainya suasana disana. Erwin dan Gina adalah adik kandung dari Ayah-nya Azenith (Crisanto) jarak kediaman Erwin dengan kediaman Cristanto terbilang cukup jauh, kurang lebih 1 km. "Baik pak, kami akan segera kesana." Jawab beberapa Warga lekas bergegas menuju kesana menggunakan sepeda motor. Sementara Azenith yang masih dipegangi oleh para warga semakin histeris kala melihat kedua orangtuanya didalam rumah bambu itu dalam keadaan mengenaskan, yakni sedang di lahap oleh sijago merah. Begitu melihat kedua orangtuanya tertimpa serbihan kayu yang terbakar api, membuatnya semakin teriak histeris "Tidaaak! Ayah ...! Ibu ... !" Tidak ada warga yang berani menerobos kobaran api itu, Lantaran rumah bambu seperti ini memang lebih mudah terbakar dibanding rumah yang berdinding matrial semen dan batu bata. Maka tidak heran bila sijago merah sangat beringas kala melahap rumah itu. __ Tidak lama berselang, Erwin dan Gina sudah tiba dilokasi kejadian. Lantas Gina langsung memeluk Azenith. Sementara Erwin bergegas ikut serta mengambil air dari sumur tetangga bersama para warga hendak memadamkan kobaran api. Didalam desa tempat Azenith di lahirkan ini masuk dalam kategori sepi penduduk tetapi cukup ramai dan jauh dari ibu kota propinsi itu. Sehingga wajar saja bila tidak ada aparat kepolisian maupun pemadam kebakaran yang hadir. Terlebih lagi untuk rumah bambu seperti ini yang di pandang sebelah mata oleh para warga desa disana. Selepas api berhasil di padamkan, jasad kedua orangtua Azenith ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan, seluruh tubuh penuh luka bakar nyaris sudah tak berbentuk. Azenith semakin histeris "Ayah ... Ibu ... Hiks, hiks, hiks," "Sabar Nith, tenangkan dirimu sayang ..." Gina tak henti menenanangkannya seraya mengusap-usap punggung sang keponakan. Sementara para warga saling berbincang mengenai penyebab terjadinya peristiwa kebakaran ini. Dugaan sementara adalah akibat dari kebocoran gas LPG sehingga meledak membuat kebakaran ini terjadi. Tetapi tidak ada satupun warga yang mengetahui pasti tentang ini. Namun fakta yang terjadi benar adanya bahwa kebakaran ini terjadi akibat regulator terpasang tidak sempurna dari tabungnya sehingga menimbulkan ledakan dan juga penempatan jarak Gas dengan kompornya tidak begitu jauh. Usai kejadian ini, kedua jenazah orangtua Azenith dikebumikan langsung pada hari tersebut. ___ Selepas pemakaman usai, Azenith kini dibawa oleh Erwin dan Gina untuk tinggal bersama mereka. Satu minggu kemudian, Isak tangis Azenith masih terus membanjiri kedua pipinya, lantaran tidak habis kira bahwa kedua orangtuanya secepat itu meninggalkan dirinya didunia dalam tragedi yang sangat mengerikan. Duduk termenung dikursi sembari menyapu air mata dipipi, sontak terhenti kala tak sengaja mendengar percakapan antara om dan tantenya di ruang sebelah. Percakapan itu sungguh membuatnya penasaran lantas ia pun melangkah mendekat untuk memastikannya. "Mau gimana lagi Ma, Azenith kini sudah yatim piatu, bila bukan kita yang menampungnya, lalu mau siapa lagi ma hanya kita keluarga dia satu-satunya, tolong mengertilah." Ucap Erwin kala berseteru dengan Gina saat membicarakan seputar kematian Crisanto dan Zeni. "Aih, pokoknya aku tak mau tau, kau pun tau kek mana keuangan kita Bang. Untuk membiyayai sekolah Kristina aja masih nunggak beberapa bulan tak dibayar-bayar, Bang. Lelah aku bila harus ngutang melulu." Jawab Gina merasa berat hati bila Azenith tinggal bersama mereka lantaran mereka memang sulit dalam ekonomi. Perseteruan demi perseteruan kian menjadi-jadi, bukan hanya hari ini saja melainkan hari-hari berikutnya semasih Azenith tinggal bersama mereka. Azenith sering murung didalam kamar meratapi kesedihan yang masih ia rasakan ditinggal kedua orangtuanya ke sorga. Ditambah jua mendengar perseteruan om dan tantenya membuatnya sangat frustasi. __ Malam hari sekitar pukul 22:00 pm. Tumbuhlah suatu rencana didalam diri Azenith akan lebih baik bila ia pergi saja. Bagaimana tidak? belum genap satu bulan Azenith tinggal disana, setiap kali sedang menyuapkan nasi ke mulutnya, tantenya pasti berkata-kata dengan kalimat sindiran yang sangat menyesakkan dadanya. Selepas beberapa helai busana dia masukkan kedalam ransel, melangkah pelan cenderung mengendap-endap menuju pintu keluar rumah lantaran bila sampai aksinya diketahui oleh Erwin sang adik kandung ayahnya itu pastilah tak mungkin mengizinkannya pergi. Selepas berhasil keluar, dia melangkah kemanapun sesuai kakinya melangkah di sepanjang pinggir jalan. Kebetulan cuaca malam itu tidak bersahabat, hembusan angin yang cukup kencang menerpa tubuhnya, disertai kilat petir dan jua guntur teramat menggelegar pertanda akan turun hujan badai tidak ia pedulikan. Rasa dingin kala tubuh terhembus angin sangat menusuk tulang tak membuatnya pantang melangkah ke arah depan meskipun tiada tujuan. Rintik hujan kian berjatuhan, Azenith masih terus melangkah ke arah depan. Hingga beberapa menit kemudian kala hujan belum turun dalam volume sedang terdengar suara seorang perempuan dari arah belakang. "Hey, kamu tunggu!" Seru perempuan itu. Azenith pun menghentikan langkahnya sejenak kemudian menoleh. Tampak perempuan itu menggunakan sepeda motor, lengkap dengan penutup wajah beserta pelindung kepala, sehingga Azenith belum mengetahui siapakah gerangan perempuan tersebut. Jrug! Jrug! Jrug! Si perempuan menghentikan laju kendaraannya tepat di sampingnya. Azenith diam tak lepas pandang memperhatikan perempuan itu. Perlahan perempuan itu melepaskan pelindung kepala, membuat Azenith senyum saat melihatnya lantaran tak asing baginya. "Ka--kau?" terbata saat hendak menyebut namanya, begitupun dengan perempuan itu kala sudah melihat rupa Azenith. "Loh, bukankah loe Azenith ya ...?" Tanya dia lantaran semasih memanggil Azenith tadi, samasekali tidak mengetahui bahwa ini adalah Azenith. "Iya, Aku Azenith Ka-kau Shaira bukan?" menelunjuk jari setinggi bahu. "Astaga, loe beneran Azenith, gak habis kira gue, haha gue kira siapa. Iya gue Shaira, Nith." Jawabnya tersenyum hangat tampak gembira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD