Bab 2 Sebuah Telepon Misterius

1123 Words
"A-aku di mana?" Mata Marisa mengerjap berulang kali. Sesekali dia memicing ketika cahaya lampu masuk ke dalam matanya dan membuatnya silau. "Ibu Marisa sudah sadar? Tadi ibu pingsan di dalam kelas?" sebuah suara menjawab pertanyaannya. Marisa menoleh ke kanan dan melihat seorang perempuan berseragam sama seperti dirinya mendekat. "Saya? Pingsan?" tanya Marisa dengan nada tak percaya. "Iya betul, Bu. Lantas Ibu di bawa kemari oleh murid-murid Ibu. Sekarang Ibu ada di UKS," jawab perempuan tadi yang rupanya adalah guru piket UKS. Setelah melihat guru perempuan yang berdiri di samping ranjang UKS, ingatan Marisa kembali ke beberapa saat lalu. Terakhir dia menerima telepon dari seseorang yang mengatasnamakan Kepolisian Mojokerto. Anehnya orang tersebut menggunakan ponsel Irawan, suaminya. "Mas Irawan … Mas Irawan," Marisa menyebut nama suaminya lirih. Lalu tangisnya meledak tanpa bisa ditahan. "Lho … Bu Risa kenapa?" Melihat tangis Marisa yang semakin kencang, rekan gurunya itu semakin kebingungan. Dia mengguncang lengan Marisa beberapa kali dan kemudian memeluknya erat sampai tangis Marisa mereda. "Istighfar, Bu." Guru itu menghibur sambil mengelus rambut hitam Marisa. "Saya ambilkan minum, ya?" Beberapa saat kemudian guru wanita yang sudah setengah baya itu mengangsurkan segelas teh manis hangat kepada Marisa. "Minumlah selagi hangat, Bu Marisa. Semoga bisa meredakan rasa gundah Ibu. Setelah itu kalau Ibu mau cerita masalahnya ke saya juga boleh. Barangkali dengan bercerita bisa melegakan hati Ibu." Guru yang biasa dipanggil Ibu Aisyah itu membantu Marisa duduk di pinggir kasur dan meminum teh. "Terima kasih Bu Aisyah," ucap Marisa. Meski lelehan air mata masih mengalir di pipinya, tetapi dia sudah tidak menangis histeris seperti tadi. Setelah meneguk separuh isinya, Marisa mengangsurkan gelas ke Bu Aisyah kembali. "Saya sudah lebih tenang sekarang." Ibu Aisyah menerima gelas sambil menatap Marisa. "Syukur Alhamdulillah. Omong-omong kenapa kok Ibu tadi sampai pingsan dan menangis? Kalau Ibu Marisa mau cerita, saya siap mendengarkan." "Ta-tadi saya terima telpon dari polisi, Bu. Anehnya dia menggunakan nomor ponsel suami saya. Katanya … katanya … suami saya kecelakaan di tol SUMO. Itu nggak mungkin karena suami saya dinasnya ke Malang. Kira-kira apa itu penipuan ya, Bu?" "Wah saya kurang tahu juga, Bu. Apa coba ditelpon saja? Barangkali bisa dapat kepastian." "Ibu benar. Ponsel saya di kelas." "Tidak, kok. Tas dan ponsel Bu Marisa tadi dibawakan ke sini. Itu di meja samping kasur." Marisa menengok ke balik punggungnya. Tangannya meraih tas dan merogoh mencari ponsel. Setelah ditemukan, jarinya segera memencet tombol panggilan cepat ke nomor suaminya. "Tidak tersambung," ucap Marisa lirih dan kembali mengulangi menekan nomor yang sama. Dia baru berhenti mencoba setelah menelepon tiga kali dan tidak tersambung. "Tadi Bu Marisa bilang dari kepolisian mana? Coba saya bantu carikan nomor telpon kantornya. Penelepon sebut nama atau tidak?" "Saya ingat-ingat dulu, Bu." Kening Marisa berkerut-kerut memikirkan kejadian sebelum dia mengalami pingsan. "Kalau tidak salah namanya Aiptu Rizal." "Oke, Bu Marisa. Coba Ibu telpon nomor ini. Saya dapat dari teman polisi yang dinas di Jombang." Bu Aisyah menunjukkan sederet nomor yang ada di ponselnya. Tanpa menunggu lama Marisa segera menghubungi nomor kantor kepolisian Mojokerto. Dia bercerita tentang telepon yang tadi pagi dia dapat dan meminta disambungkan dengan Aiptu Rizal. "Jadi beliau sedang di luar kantor? Kira-kira kembali pukul berapa ya?" desak Marisa. "Sebentar, Bu." Marisa mendengar orang yang menerima teleponnya bertanya kepada seseorang. Lalu dia berkata kembali ke Marisa. "Aiptu Rizal sedang menangani kasus kecelakaan di Tol SUMO, Bu. Jadi tidak bisa dipastikan kapan kembali ke kantor." "Ja-jadi me-memang ada kecelakaan di Tol SUMO?" Tubuh Marisa gemetar. Dia bertanya dengan terbata-bata. "Ada Bu. Korbannya sudah dibawa ke Rumah Sakit Citra Medika Mojokerto." Telepon digenggaman Marisa luruh. Dia bahkan belum menutup telepon dan mengucapkan terima kasih saat menerima informasi itu. Tangisnya kembali pecah dan lebih kencang dibanding sebelumnya. "Lho … lho ada apa Bu Marisa? Tenang … tenang, Bu." Rekan guru Marisa kembali mendekat dan menenangkannya. Marisa tidak menjawab pertanyaan rekannya. Sambil berurai air mata dia meraup ponselnya yang tergeletak di kasur dan melemparkannya ke dalam tas. Suara sesenggukannya makin kencang ketika dia turun dari kasur dan bersiap segera beranjak. "Mau kemana, Bu?" cegah Bu Aisyah. "Saya mau ke Mojokerto, Bu. Kecelakaan itu benar-benar terjadi dan saya ingin memastikan korbannya bukan suami saya." "Tapi tidak bisa begitu, Bu." Bu Aisyah menahan lengan Marisa. "Kenapa tidak bisa?" Mata Marisa melotot marah ke arah rekan gurunya itu. "Bu Marisa tidak bisa pergi dalam kondisi syok begini! Lihat kaki Ibu! Bahkan Ibu tidak mengenakan sepatu karena masih terguncang. Sebaiknya ibu menghubungi keluarga dan meminta mereka mengantar Ibu. Bahaya kalau Ibu pergi sendirian." Marisa terdiam mendengar ucapan rekannya itu. "Bu Aisyah ada benarnya," batin Marisa. Jadi, dia berusaha keras menguasai dirinya dengan menarik napas dan mengembuskannya perlahan-lahan. Perempuan itu juga menurut ketika Bu Aisyah membimbingnya duduk di sofa di ruang UKS. "Ibu mau memastikan korban kecelakaan Tol SUMO ke mana? Apa Bu Marisa sudah tahu tujuannya di Mojokerto?" tanya Bu Aisyah sambil mengelus pelan lengan Marisa. "Sudah, Bu. Saya mau ke Rumah Sakit Citra Medika Mojokerto. Polisi yang menelepon saya tadi pagi bilang kalau korban dibawa ke sana." "Kalau sudah jelas alamat yang dituju, Bu Marisa bisa hubungi saudara atau kerabat. Minta bantuan mereka untuk mengantar. Ibu jangan pergi sendiri, ya." Bu Aisyah menasihati sambil terus mengelus lengan Marisa. Bagaimanapun juga kondisi emosional rekannya yang belum stabil itu membuatnya prihatin. Marisa hanya mengangguk mendengar saran dari Bu Aisyah. Dia membuka tas yang ada di pangkuannya dan merogoh mencari ponsel. Jari lentiknya menggulir layar dan mencari sebuah nomor kontak. Setelah menemukannya dia segera menekan tombol hijau. Mulut mungil Marisa mengeluarkan gumaman tak jelas ketika panggilannya tidak segera diangkat sampai nada dering habis. Dengan sedikit kasar dia menutup panggilan dan menekan tombol panggil kembali. Ketika nada dering hampir habis panggilannya diterima. "Ke mana aja, sih, Mas. Aku hubungi kok tidak diangkat terus!" cerca Marisa. "Mana yang tidak diangkat terus? Kamu kan baru dua kali telepon? Jangan suka lebay, ah." "Jangan bercanda, Mas. Ini tuh kondisinya sudah gawat!" Marisa sedikit berteriak dengan suara serak bekas menangis. "Lho memangnya ada apa kok gawat?" Orang yang dipanggil Mas oleh Marisa itu mulai mengubah nada bicaranya menjadi lebih serius. Saat itulah dia menyadari nada suara adik sepupunya yang tidak seperti biasanya. "Kamu menangis, Risa?" tanya lelaki lawan bicara Marisa di telepon. "Siapa yang tidak menangis, Mas kalau polisi bilang Mas Irawan kecelakaan?" Marisa menjawab lalu kembali menangis sesenggukan. "Hah? Irawan kecelakaan? Kapan?" "Tadi pagi ada orang dari kepolisian menghubungiku. Katanya Mas Irawan kecelakaan. Aku diminta datang untuk melihat langsung kondisinya. Tolong temani aku ya. Mas Rian bisa, kan?" "Datang? Ke mana? Kamu yakin berita itu benar? Jangan-jangan ada yang mau mencoba menipu kamu?" Lelaki yang dipanggil Mas Rian itu mencecar Marisa dengan pertanyaannya. "Enggak, Mas Rian. Aku sudah cek. Kecelakaan itu benar-benar terjadi. Cuma aku tuh bingungnya Mas Irawan itu dinas ke Malang, tapi kok polisi bilang kecelakaan terjadi di Tol SUMO."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD