Bab 3 Betulkah itu Suamiku?

1033 Words
Rian terkesiap mendengar jawaban Marisa. Dia kemudian bertanya kembali, "Jadi … kecelakaannya di Tol SUMO, ya? Kecelakaannya karena apa? Dia sendirian atau bareng orang lain?" "Iya di Tol SUMO. Risa enggak tahu gimana bisa terjadi kecelakaan itu, Mas. Polisi belum menjelaskan. Cuma harusnya dia sendirian, Mas. Memangnya kenapa kok Mas Rian tanya seperti itu?" Kening Marisa mengernyit mendengar pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh kakak sepupunya. "Gak ada apa-apa. Cuma heran aja kok di radio beritanya seperti itu." "Seperti itu bagaimana, Mas?" tukas Marisa. "Eh anu … gak apa-apa Ris. Sudahlah gak perlu dibahas. Sekarang aku jemput kamu di mana?" Marisa tahu Rian mengelak menjawab pertanyaannya, tetapi dia tidak mau mendesaknya lagi. Fokusnya saat ini adalah bisa segera sampai di Mojokerto dan mencari tahu kebenaran tentang suaminya. "Di mana lagi. Jam segini pasti aku ada di sekolah tempatku mengajar!" "Ya sudah kamu tunggu. Sekitar tiga puluh menit lagi aku sampai di sana." Marisa menutup telepon dari Rian, sepupu yang selama ini dekat dengannya. "Saya … saya mau minta izin kepala sekolah, Bu." Marisa berdiri dan tangannya meraih tas. "Perlu saya antar, Bu Marisa?" "Tidak perlu, Bu. Saya sudah kuat, kok. Terima kasih Bu Aisyah sudah menemani saya dari tadi." "Sama-sama. Memang tugas saya hari ini jadi guru piket UKS. Semoga urusannya dimudahkan Allah ya, Bu." Bu Aisyah tersenyum menguatkan dan dibalas anggukan pelan Marisa. Tiga puluh menit kemudian Marisa melihat SUV hitam milik Rian memasuki halaman sekolahan. Dia segera menghampiri dan membuka pintu penumpang di sebelah Rian. Sementara itu sepupunya hanya melihat dan tidak turun dari mobil untuk membantunya. "Jadi, kita ke mana dulu? Ke rumah orang tuamu atau mertua kamu dulu?" "Tidak, kita langsung ke Mojokerto." Marisa menjawab cepat sambil memasang sabuk pengamannya. "Kamu sudah cerita ke ibumu atau ke mertuamu tentang kabar ini?" Rian mengemudikan mobil meninggalkan sekolah Marisa. "Aku belum cerita apa pun ke mereka. Aku mau mastikan dulu, Mas. Sebagian hatiku berharap berita itu tidak benar dan tiba-tiba Mas Irawan menelepon mengabarkan sudah sampai …." Marisa tidak melanjutkan ucapannya karena air mata kembali membanjiri pipinya. Rian menatap prihatin ke arah Marisa. Meski sepupunya itu lebih tua tiga tahun dibanding dirinya, tetapi kedudukannya sebagai anak dari kakak lelaki ayah marisa membuatnya dipanggil Mas. Selain itu almarhum Om Ridwan, ayah marisa hanya mempunyai dua anak perempuan sehingga dia merasa harus melindungi adik-adik perempuannya itu. "Ini. Hapus air matamu." Rian menyodorkan beberapa lembar tisu kepada Marisa. Marisa menerima tisu itu lalu mengusap air mata yang membasahi pipi. Lantas, tangannya terulur ke dashboard mobil. Dia ingin mendengarkan channel radio yang biasanya sering mengabarkan tentang peristiwa kecelakaan. Tangannya sedikit gemetar karena biasanya dia mendengar kecelakaan yang menimpa orang lain, tetapi kali ini dia mencari tahu tentang kecelakaan yang mungkin menimpa suaminya. Namun, sebelum sempat menyalakan radio tangannya ditepis oleh Rian. "Aduh!" jerit Marisa. "Kok Mas Rian mukul tanganku. Aku mau nyalakan radio," protesnya. "Jangan! Kamu tidur saja!" bentak Rian. "Mas Rian apa-apaan, sih! Aku nggak mau tidur!" Marisa balas membentak. Dia merasa kesal dengan ulah Rian yang absurd. Tangannya sampai memerah karena ditepis tangan Rian yang besar. Marisa juga kesal karena selain harus menerima ulah kasar Rian, dis juga masih harus menerima bentakan. "Maaf Risa tadi itu spontan." "Memangnya kenapa kalau ada suara radio di mobil? Biar nggak sepi, Mas. Pikiranku sekarang ini lagi sumpek, jadi pengen dengar lagu-lagu gitu." "Cuma dengar lagu, kan? Bisa dengerin lewat HP. Mau Mas pinjemin ponsel Mas? Koleksi lagunya banyak dan bagus-bagus," bujuk Rian. "Gak cuma lagu, sih. Risa juga mau dengerin berita. Biasanya kan di E-100 ada berita macam itu." "Sudahlah Risa. Lebih baik kamu tidur. Pulihkan dulu kondisi mental kamu. Perjalanan masih jauh. Kalau bisa istirahat, kamu akan lebih tenang." Marisa terdiam mendengar perkataan kakak sepupunya itu. Dia menoleh dan menatap sepupunya dari samping. Lelaki itu tampak serius dengan permintaannya. "Iya kamu benar, Mas. Lebih baik aku tidur. Lumayan bisa satu jam." Rian mengangguk. "Katakan ke mana tujuan kita di Mojokerto. Nanti kalau sudah dekat aku bangunkan kalau kamu masih tidur." Marisa menyebutkan nama Rumah sakit Citra Medika beserta alamatnya yang sudah dia cari lewat google. Kemudian tangannya meraih tuas dan mengubah posisi kursi agar tubuhnya bisa direbahkan dengan nyaman. Rian menoleh ke samping. Dia menatap Marisa yang sudah memejamkan matanya dengan perasaan prihatin. "Kasihan sekali kamu. Belum lama menikmati bahagia, tapi sudah mengalami hal traumatis seperti ini." Tangan Rian kemudian menyibak rambut yang jatuh menutupi wajah Marisa. Dia menyisipkan rambut itu ke belakang telinga Marisa. "Jangan takut. Ada aku di sini. Aku akan selalu melindungimu. Andai saja waktu itu aku lebih berani mengungkapkan …." "Mas Irawan …." Marisa tiba-tiba menggerakkan tubuhnya dan menyebut nama suaminya. Gerakannya itu membuat Rian sadar dan segera menarik tangannya. "Sial! Aku ini mikir apa, sih!" Mata Rian kemudian kembali terarah ke depan. Dia kembali fokus menyetir. Lelaki itu tidak mau terjadi hal yang tak diinginkan karena kelengahannya ketika melewati jalan Tol SUMO ini. Mobil Rian melaju lambat ketika mendekati exit gerbang tol Mojokerto. Matanya terfokus ke mobil yang melaju di depannya hingga terlihat gerakan dari kursi di sebelahnya. Marisa mengangkat kedua tangannya melewati kepala kursi. Dia meregangkan tubuhnya hingga terdengar bunyi kretek lalu bertanya dengan mata masih setengah menutup. "Kenapa berhenti? Sudah sampai, ya?" "Kamu sudah bangun, Ris? Belum sampai, kok. Ini masih di antrian exit gerbang tol." "Oo kukira kita sudah sampai." Marisa kemudian duduk dan menegakkan sandaran kursinya kembali. "Syukurlah kamu kelihatan segar kembali. Itulah gunanya tidur meski sebentar." "Iya, Mas Rian benar. Sekarang aku boleh dong setel radio kan sudah segar." Rian tercenung. Wajahnya tampak bimbang, tapi dia tahu tidak ada alasan lagi mencegah Marisa menyalakan radio. Toh, sebentar lagi mereka sampai ke tujuan. Dia hanya bisa berharap berita di radio bukan seputar kecelakaan suami sepupunya itu. Melihat Rian mengangguk, Marisa pun segera menyalakan radio. Tangannya mencari channel yang dia cari. Setelah menemukannya dia pun membesarkan volumenya. "Ooo … jadi itu bukan sepasang suami istri, ya?" Terdengar suara bariton penyiar radio tersebut. Wajah Rian memucat. Dia tidak berani melirik wanita yang duduk di sampingnya. "Bukan, Mas Dedi. Perempuannya itu penyanyi kafe. Dia sering ikut audisi nyanyi tapi tidak lolos. Kalau yang pria itu kabarnya pengusaha terkenal namanya …." "Maaf, Pak saya potong. Kalau diteruskan nanti radio ini jadi radio gosip." Penyiar itu tertawa lepas. Rian mengembuskan napas lega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD