Bab 4 Ada yang Disembunyikan Rian
"Kita fokus aja kondisi jalanan di sana. Apa korban sudah dievakuasi? Mobilnya bagaimana?" Penyiar radio itu kembali bertanya.
"Sudah, Mas. Korban sudah dibawa ke Rumah sakit Citra Medika. Mobilnya sedang proses derek. Kondisi jalan ramai lancar arah sebaliknya. Sudah tidak ada yang berjalan perlahan untuk melihat."
"Baik, Pak Samuel. Terima kasih untuk laporan pandangan matanya." Sambungan telepon pun di putus dan berganti intro sebuah lagu.
"Para pendengar yang baik sambil menunggu laporan pandangan mata lainnya kita dengarkan dulu lagu yang akhir-akhir ini sedang viral. Lagu berjudul Berhak Bahagia ini dinyanyikan oleh Aurel. Semoga yang mendengarkan lagu ini bisa berbahagia karena kita semua memang layak bahagia." Suara sang penyiar pun menghilang digantikan suara merdu sang penyanyi.
"Ada kecelakaan lagi, ya? Kenapa banyak kejadian ya, hari ini?" Marisa bergumam. Rian tidak menanggapi pertanyaan yang diucapkan dengan lirih oleh Marisa. Dalam hati dia sedikit lega karena melihat sepupunya itu tidak menyadari pembicaraan di radio tadi.
"Kita langsung ke rumah sakit, kan?" tanya Rian. Dia ingin mengalihkan percakapan agar Marisa tidak kembali membahas berita di radio.
Marisa tidak menjawab dan hanya mengangguk. Matanya menatap ke luar. Dia melamun. Rian tahu apa yang dipikirkan oleh sepupunya itu, tetapi dia memilih membiarkannya saja. Rian hanya berharap semoga saja dengan cara itu mental Marisa lebih kuat menghadapi kenyataan yang beberapa saat lagi akan diketahuinya.
"Kenapa, Mas? Mengapa kamu menatapku seperti itu?" Marisa tiba-tiba menoleh dan melihat Rian. Matanya menelisik penampilannya saat ini. Saat tidak menemukan ada keanehan, Marisa menatap mata Rian. Namun, sepupunya itu justru membuang muka dengan berpura-pura kembali fokus menyetir mobil.
Tak lama kemudian mobil SUV hitam milik Rian memasuki halaman rumah sakit. Mata Rian mengerjap berulang kali ketika melewati lobi dia melihat beberapa orang berkerumun di sana. Rian membatalkan rencananya semula yang ingin menurunkan Marisa di lobi. Lelaki itu memilih langsung menuju tempat parkir.
"Kenapa aku nggak jadi turun di lobi, Mas?"
"Lobi terlalu ramai. Nanti saja kita barengan masuknya, Ris."
"Ya sudah cepetan kalau gitu, Mas. Aku sudah tidak sabar mengetahui kabar Mas Irawan."
Setelah memarkir mobil, Rian dan Marisa bergegas turun. Lalu, mereka melangkah cepat menuju pintu IGD yang berada disamping lobi. Ternyata ada juga sekelompok orang yang berdiri di jalan menuju pintu IGD. Ketika Marisa dan Rian melewati kelompok itu terdengar salah satunya berkata, "Sampai jam berapa ya kita nunggu istri Pak Irawan? Kalian tahu seperti apa wajahnya?"
"Aku belum nemu fotonya di google."
"Ada yang tahu akun medsosnya?"
Rasa dingin menjalari tengkuk Rian. Apa yang dia khawatirkan terjadi. "Sialan," umpatnya pelan.
"Mas … ada apa?" tanya Marisa yg merasakan ketegangan Rian.
"Tidak ada apa-apa. Terus jalan aja, Ris," jawab Rian. Tangannya merangkul bahu Marisa dan menggamitnya untuk berjalan cepat.
Meski merasa penasaran dengan sikap Rian yang berubah tegang dan gugup. Juga keheranan mendengar nama suaminya disebut-sebut oleh sekelompok orang tadi. Marisa menuruti permintaan Rian untuk melangkah lebih cepat. Lagi pula dia juga ingin secepatnya mendapat kejelasan tentang berita yang diperolehnya tadi pagi.
Marisa dan Rian masuk ke IGD dan segera mendekati meja perawat. "Maaf suster apa benar ada korban kecelakaan Tol SUMO yang dibawa ke mari? Namanya Irawan," tanya Rian.
"O iya benar. Tadi ada polisi yang menunggunya, tapi baru saja mereka kembali ke markas. Maaf bapak dan ibu ini siapa ya?"
"Saya kakak iparnya dan ini istrinya."
"O kalau begitu bapak bisa menghubungi nomor ini. Ini nomor Aiptu Rizal. Tadi beliau berpesan kalau istri dan keluarganya sudah datang diminta segera menghubungi nomornya ini."
"Baik, Suster." Rian mengambil kertas berisi nomor telepon yang disodorkan oleh salah satu perawat.
"Ja-jadi di mana suami saya, Suster? Ba-bagaimana kondisinya? Tolong jelaskan ke saya." Dengan suara bergetar Marisa yang dari tadi terdiam mulai bertanya.
Rian yang berdiri di samping Marisa menyadari sepupunya itu kembali merasa panik. Dia merangkul bahu Marisa dan mengelus perlahan punggungnya. "Tarik napas, Ris. Buang perlahan. Tenangkan dirimu."
"Iya, Bu. Ibu harus tenang. Nanti saya antar ke bilik suaminya," sahut salah satu perawat.
Marisa mengangguk dan menuruti perintah Rian. Dia menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Marisa melakukannya berulang kali hingga dirinya merasa tenang.
"Saya sudah tenang, Suster, tolong tunjukkan di mana suami saya.
"Ada di bilik paling ujung, Bu. Tapi kalau Ibu mau bertanya tentang kondisi suaminya mari saya antar menemui dokter terlebih dahulu."
Marisa mengangguk. Meskipun ingin segera bertemu suaminya, tetapi dia lebih ingin bertemu dokter dan meminta penjelasan mengenai kondisi suaminya. Jadi, salah satu perawat mengantarnya menemui dokter yang bertugas menjaga IGD.
"Silakan duduk, Bu." Marisa mengangguk dan duduk di kursi depan seorang dokter. Sementara itu Rian berdiri di sebelahnya. Salah satu tangan sepupunya itu diletakkan di bahunya.
"Saya Dokter Ahmad salah satu dokter jaga IGD hari ini. Pasien Irawan datang sekitar empat jam lalu dengan kondisi tidak sadar. Beberapa luka di tubuhnya sudah kami rawat. Pemeriksaan luka dalam juga sudah dilakukan. Tinggal menunggu hasilnya. Hasil itu yang akan menentukan langkah kami selanjutnya."
"Ja-jadi sampai sekarang suami saya belum sadar, Dok?"
"Iya, belum."
Air mata mulai menetes kembali di kedua pipi Marisa. Dia membuka mulut tetapi satu patah kata pun tidak ada yang keluar dari bibirnya. Marisa sudah tidak sanggup lagi menahan emosinya dan menangis sesenggukan. Tangan Rian yang menepuk bahunya dengan gerakan ritmis pun juga tidak berhasil membuatnya tenang.
Melihat Marisa terguncang, Rian ganti bertanya, "Kalau begitu Dek Irawan tidak bisa dibawa ke Surabaya?"
"Iya. Belum bisa. Selain belum sadar, kondisi vitalnya juga belum stabil. Jadi sangat berbahaya kalau dipindahkan."
"Apakah bisa diprediksi kapan adik ipar saya itu bisa sadar, Dok?"
"Maaf hal itu sulit dilakukan. Yang bisa kita lakukan hanya menunggu dan menjaga tanda vital Pak Irawan tetap stabil."
"Baik, Dok. Kalau begitu sekarang kami bisa melihat pasien, kan?"
"Silakan, tapi tolong diusahakan Ibu tidak histeris, ya. Meskipun Pak Irawan itu sedang tidak sadar tetapi tetap bisa menangkap suara orang-orang terdekatnya." Pesan dokter sambil melirik Marisa yang duduk sambil menangis.
Rian mengangguk mewakili Marisa yang masih syok. "Terima kasih, Dok. Mohon bantuannya untuk kesembuhan adik ipar saya."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Rian menggamit lengan Marissa dan membimbingnya menuju bilik paling pojok sebelah kanan yang ditunjukkan oleh perawat. Sesampainya di bilik yang ditutupi tirai pemisah dengan bilik di sebelahnya, Rian menahan lengan Marisa yang terburu-buru ingin masuk.
"Ingat pesan dokter tadi, tenangkan dirimu lebih dahulu demi kebaikan suamimu. Tarik napas panjang terus buang perlahan baru kamu masuk."