Tak pernah masuk dalam list hidup Rane melakukan honeymoon di Maldives apalagi terbang dengan menggunakan sebuah private jet. Dan sekarang pria itu–Jeonnel— membawanya honeymoon di Maldives, menyewa sebuah private villa dan mereka menaiki sebuah private jet.
Gila bukan?!
Rane dengan segala kemiskinannya tentu saja dibuat terperangah dengan kekayaan pria yang berstatus suaminya itu. Ingin rasanya Rane mencuri kartu hitam dalam genggaman pria itu lalu berlari ke sebuah ATM machine untuk sekedar melihat isi didalamnya, Ia sungguh penasaran dengan nominal angka disana. Hahaha.
Setelah sampai di kawasan villa, mata cantik Rane segera bersinar saat melihat indahnya pantai. Dia bahkan melompat saat keluar dari dalam mobil.
“hei! ” panggil Jeonnel mencoba menghentikan Rane yang berlarian ke tepi laut seperti anak kecil. Ia pun meminta seseorang untuk mengantar barang milik mereka ke villa, agar ia bisa menyusul istrinya itu.
Dari kejauhan, Jeonnel dapat melihat betapa bersemangatnya Rane. Ia menggeleng pelan seraya tersenyum tipis melihat kelakuan Rane.
“Jeonnel, kemari!! ” panggil Rane.
Jeonnel mendekat, Rane memeluk lengan pria itu. “lihat lihat! Airnya sangat lucu!” ungkap Rane menunjuk air laut.
Alis Jeonnel menukik. Dimana lucunya sebuah air?
“kau suka? ” tanya Jeonnel.
Rane menoleh lalu mengangguk semangat. “Sangat! Terima kasih.” ungkapnya.
Jeonnel tersenyum lalu sedikit berjongkok untuk manyamai tinggi mereka. “apa saja untuk kebahagianmu.” ucapnya manis.
Rane mengatup bibirnya, pipinya terasa sangat panas. Sekarang ia sangat malu, kenapa Jeonnel dengan segala kemanisannya selalu membuat Rane hampir mencair, sih?
“lihat! ” alih Rane mengangkat tangannya menampilkan sesuatu yang melingkar dijarinya.
“itu...dari mana kau menemukannya? ” tanya Jeonnel.
Rane tersenyum. “aku menemukannya di ruang ganti. Sekretaris Taylor bilang ini cincin favoritmu.” cerita Rane.
Jeonnel mengangguk. “karena itu favoritku bisa kau kembalikan kepadaku? ” mintanya.
Rane menggeleng untuk menolak. “tidak mau! ” tolaknya dengan suara manja.
“tapi, itu terlalu besar di jari - jari kecilmu.” Ungkap Jeonnel.
“tidak masalah, aku menyukainya.” sahut Rane.
“aku akan membelikan yang lebih bagus, dan mahal, yang pastinya muat dijarimu, sayang.” bujuk Jeonnel.
“ini juga bagus, aku ingin yang ini Presiden Dexter. Apa ini memiliki makna khusus? ” tanya Rane.
Sebenarnya tidak ada yang spesial dari cincin itu, Jeonnel hanya menyukainya, tak masalah jika Rane sangat menginginkannya, tetapi cincin itu terlihat sangat longgar dijari Rane yang mungil, itu masalahnya, dan juga, hal ini membuat Dexter tersadar seharusnya Ia sudah menautkan cincin disalah satu jari Rane sejak sebulan yang lalu, kemana saja Jeonnel selama ini.
“Tidak ada. Gunakan saja, tetapi jangan menolak jika aku membelikan yang lain.”
Jeonnel teringat saat Ia memesan pakaian untuk memenuhi lemari milik Rane, tetapi wanita itu menentangnya dengan keras meminta agar Ia tak melakukannya, dan berakhir dengan Jeonnel yang mengalah.
“Tidak akan, terlebih kau membelikan berlian dengan harga jutaan dollar.” ucap Rane asal lalu berlarian dengan semangat.
“jika itu maumu..” gumam Jeonnel memandangi punggung Rane yang menjauh.
Jeonnel pun memutuskan duduk di bangku yang ada ditepi pantai seraya memantau kegiatan Rane yang terlihat sangat bahagia sekarang. Penerbangan yang memakan waktu 8 jam itu tentu sangat melelahkan, apalagi Jeonnel harus bekerja lembur agar bisa menikmati harinya disini, tetapi semua lelahnya tergantikan saat memandangi wajah bahagia Rane.
Semudah itu?
Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat karena tingkah Rane.
Sibuk memandangi Rane, Jeonnel hingga tak sadar hari sudah mulai gelap. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu berdiri, melangkah mendekati wanita cantik dengan gaun putih panjang, berwarna senada dengan yang Ia kenakan sekarang, jangan tanya ide siapa untuk mengenakan baju berwarna sama, karena itu tentu saja bukan Jeonnel.
Jeonnel mendekati Rane yang tengah berjalan mundur dengan tangan yang menggenggam ponselnya, sepertinya merekam aksi sunset dari Maldives.
Grab!
“perhatikan langkahmu, Nona.” Jeonnel menangkap Rane yang hampir saja terjatuh kedalam lubang, sepertinya lubang pasir yang anak - anak buat.
Rane terdiam dengan posisi tubuh melengkung, satu tangan Jeonnel berada di punggungnya. Sedangkan, satu tangan lagi sepertinya tak ikut bergerak.
Seberapa kuat Jeonnel sehingga bisa dengan mudah menahan tubuh Rane dengan satu tangan? Atau Rane yang terlalu kurus?
Hei! 47 kg itu berat tau!
Jeonnel memandangi Rane. Angin berhembus meniup rambut panjang Rane. “kau cantik dengan gaun.” puji Jeonnel spontan.
Rane bangkit untuk memperbaiki posisinya. “ekhm.” deham Rane canggung. “terima kasih... Kau juga.” ucapnya.
“te–” ucap dia tertahan.
“cantik.” Tambah Rane dengan tiba – tiba.
Jeonnel menatap Rane tak percaya. Tetapi, mau bagaimana lagi, Jeonnel benar-benar cantik dengan rambut panjangnya. Rane tertawa puas setelah mengerjai Jeonnel.
Setelah puas tertawa, Rane meraih tangan Jeonnel lalu menggenggam tangan besar itu.
Mereka melangkah sambil menggenggam tangan.
“aku lapar, ayo kembali ke villa.” ungkap Rane menatap Jeonnel dengan bibir mengerucut.
“kalau begitu seharusnya kita pergi kearah berlawanan.”ucap Jeonnel.
Rane menghentikan langkahnya lalu menatap Jeonnel kesal. “kenapa tidak mengatakannya daritadi?! ” sungut Rane.
“aku pikir kau masih ingin berjalan-jalan.” jawab Jeonnel.
Rane melongos, yang Jeonnel katakan tentu benar. Ia tak tahu harus melampiaskan kekesalannya kepada siapa sekarang. Wajah pria itu datar sekali. Rane bahkan tak bisa membedakan apakah pria itu tengah bercanda atau serius.
“kita sudah jalan sejauh ini, dan kau..aku lapar!! ” rengek Rane. “aku lebih baik makan pasir saja, dibanding harus kembali berjalan.” tambah Rane mendramatisir.
Jeonnel membungkuk di depan Rane. “cepat naik.” suruhnya.
Rane tersenyum licik. “tapi, itu sangat jauh..” dia berpura – pura.
“naik atau tidak sama sekali! ” tegas pria itu.
Rane tersenyum. “baiklah-baiklah jika kau memaksa.” gumamnya. Dia naik keatas punggung Jeonnel lalu memeluk pria itu.
“kau tak tahu berapa wanita yang ingin berada diposisimu sekarang? ” ucap Jeonnel sombong.
Tunggu, ternyata pria Dexter itu punya jiwa narsis juga!
“Ck, kau tak tahu berapa pria yang ingin berada diposisimi sekarang? ” sahut Rane tak kalah.
Jeonnel menyeringai seperti yang ia duga, Rane orang yang cukup kompetitif.
Sunset di Maldives sangatlah indah, dan berada dipunggung pria itu merupakan sebuah kehangatan untuk Rane. Bibir wanita itu terangkat membentuk sebuah senyuman, ia sangat bersyukur bisa menikmati ini semua, terlebih kehadiran Jeonnel membuat kesan sempurna baginya.
* * *
Terhitung dua jam setelah Jeonnel dan Rane menyelesaikan sesi makan mereka di dalam villa tempat mereka akan tinggal selama berlibur. Saat tiba di villa itu Rane tak bisa berhenti untuk jatuh cinta dengan villa kecil namun nyaman dan menyuguhkan pemandangan Maldives yang sangat luar biasa indahnya.
Rane berbaring disatu - satunya ranjang yang ada disana, Ia telah selesai mandi, dan Dexter yang tadi menghabiskan waktunya untuk berenang sambil menikmati wine dibawah langit malam kini sudah berada dikamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Berbaring dengan anggun pikiran Rane kembali ke beberapa hari yang lalu saat ia menghabiskan waktunya bersama sang kakak, Amy. Saat itu Rane membicarakan banyak hal salah satunya hubungan dengan Jeonnel, dan juga tentang Jeonnel yang belum pernah menyentuhnya. Amy terkejut sekaligus memuji alasan pria Dexter itu tak menyentuh Rane. Rane juga meminta saran kepada Amy tentang apa yang harus ia persiapkan untuk masa depan dari hubungan mereka, dan untungnya kakaknya itu banyak membantu dan memberikan saran yang bermanfaat.
Rane melihat pintu kamar mandi yang baru saja terbuka, tak lama keluarlah Jeonnel yang mengenakan sebuah jubah berwarna hitam.
“belum tidur..” tanya pria itu lebih seperti gumaman.
“em.” jawab Rane menganggukkan kepalanya.
“aku akan mematikan lampu.” ucap Jeonnel.
Pria itu melangkah untuk mematikan lampu kamar itu, dan Rane menyalakan lampu tidur. Setelah itu Jeonnel mengambil tempatnya di sebelah Rane. Rane melirik Jeonnel. Apa dia tak menarik?
“se—” ucap pria itu tertahan.
“apa aku tidak menarik untukmu? ” potong Rane menatap Jeonnel serius.
Jeonnel lantas menoleh dengan alis terangkat. “apa yang kau maksud? ” tanya Dexter kembali.
“Tidak, aku mengenakan gaun tidur, dan kau sama sekali tak memujiku! ” keluh Rane.
Jeonnel terkekeh mendengar ucapan wanita itu. “baiklah, kau cantik dengan gaun itu. Sekarang pergilah tidur! ” ucap Jeonnel lalu menaikkan selimut itu hingga dadanya.
“tak romantis! ” cibir Rane.
Rane mengikis jarak diantara mereka lalu memeluk tangan Jeonnel.
Jeonnel menarik tangannya yang Rane peluk lalu beralih berbaring menyamping. Tangannya terulur untuk merapikan rambut-rambut Rane.
“kau tak ingin melakukannya? ” tanya Rane pelan. Tetapi, pria itu tak kunjung menjawab. “apa aku benar-benar tak menarik untukmu atau kau memiliki yang lain? ” tanya Rane kembali kecewa dengan reaksi Jeonnel.
“apa yang kau bicarakan, kau tahu aku hanya memiliki satu wanita.” pria itu berucap lembut bahkan sedikit emosi pun tak ada dalam nada bicaranya.
“lalu? ” tanya Rane.
“aku hanya tak ingin melukaimu.” Jawab pria itu dengan nada pelan.
“Itu tidak seperti aku akan terbunuh, Jeonnel! ” sungut Rane terheran dengan perkataan Jeonnel.
Jeonnel sedikit terkejut dengan reaksi Rane. “apa kau ingin melakukannya denganku? ” tanya Jeonnel terkesan polos.
“memangnya kau ingin aku melakukannya dengan siapa? Bukankah kau suamiku? ” ucap Rane.
Jeonnel tersenyum lalu mencium kening Rane. “kita lakukan lain kali, ya. ” ucapnya setelah melepas ciumannya.
Rane menatap Jeonnel penuh tanya. “memangnya kenapa dengan saat ini? ” tanya Rane.
“em-aku tak menyiapkan apapun saat ini. Maksudku, aku tak memiliki pengaman.” jelas Jeonnel. Karena ini adalah pengalaman pertama untuknya, tentu Ia tak ingin mengambil resiko.
Rane tersenyum membuat Jeonnel merasa aneh. “aku menelan pill.” ungkap Rane. “Jangan salah paham! itu karena aku seorang artis, aku butuh itu untuk mencegah datang bulan.” jelasnya.
Jeonnel terdiam untuk beberapa saat. “apa kau yakin? ” tanya Dexter menatap Rane serius.
Rane mengangguk. “kau yakin aku tidak akan melukaimu? ” tanya Dexter sekali lagi.
“a-aku tak tahu, lakukan saja, jika memang terluka kau harus mengobatinya! ” ucap Rane.
Seharusnya Rane mendaftarkan asuransi khusus untuk ini, agar jika Ia memang dibuat terluka karena Jeonnel maka ia akan meminta jutaan dollar untuk kompensansinya. Toh, pria itu sangat kaya.
“apa kau sangat ingin melakukannya? ” tanya Jeonnel.
Rane menatap Jeonnel kesal. Kenapa malah seperti Rane yang sangat ingin disentuh. Pria aneh. “Lup–”
Jeonnel memotong ucapan Rane. “baiklah, aku akan melakukannya. Katakan berhenti jika itu sakit, hmm? ” ingat Jeonnel.
Rane mendengus lalu mengangguk patuh. Jeonnel mendekatkan wajah mereka, lalu dengan lembut bibir pria itu menyentuh bibir Rane, melumat bibir tebal Rane dengan hati - hati. Rane pun membuka bibirnya memberi akses untuk pria itu.
Saat masa sekolah dulu Rane tentu tak melewatkan s****l education. Sayangnya, ia tak pernah mempraktekannya, walaupun ia besar di negara bebas, masa kecilnya dihabiskan menjadi anak yang takut akan Tuhan, saat beranjak dewasa ia harus pergi ke Amber untuk mengejar mimpinya, menjadi trainer dengan kontrak dilarang berkencan tentu membuatnya semakin menjauh dari kata s*ks, setelah debut pun tak membuatnya mudah, mereka harus menjaga jarak dengan idola pria demi menghormati aturan, dan penggemar.
Sedangkan Jeonnel, Ia adalah seorang maniak kerja, kehidupan percintaannya tentu tak pernah Ia rasakan apalagi s*ks. Dexter tentu pria normal, hanya saja Ia tak pernah melakukan itu, tidak pernah terpikir, Ia juga menolak untuk membahas perihal itu, semacam pria polos yang suci.
Ah, sepertinya setelah malam ini mereka akan menjadi dua orang yang berbeda.
Ada yang bilang bahwa s*ks itu adalah insting alamiah tak ada istilah teori disana. Mari kita lihat.
Ciuman diantara dua insan itu tak terlepas. Tangan Rane bergerak melepas tali pada jubuh Jeonnel, sesaat setelah terlepas ia menahan d**a Jeonnel karena pria itu bergerak hampir menindihnya. Rane bisa merasakan debaran pada jantung pria itu, hal itu membuatnya senang ternyata bukan Ia satu-satunya yang berdebar disini.
Semuanya berjalan dengan mulus, hingga pada titik dimana Rane menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Jeonnel, suaminya.
Malam itu berlangsung panas diantara mereka, ini bukan tentang sekedar gairah, tetapi menandakan bahwa mereka telah jatuh ditempat yang sama yaitu, cinta.
Pada hari - hari berikutnya kedua pasangan itu tak bisa melepaskan sorot mata penuh cinta yang membahagiakan, tak ada ungkapan cinta dari bibir sang pria maupun sang wanita, hanya tatapan penuh cinta dan damba membuat mereka yakin bahwa perasaan mereka telah tumbuh dengan kuat.
Bulan madu di Maldives akan menjadi kenangan tak terlupakan sepanjang hidup Rane maupun Jeonnel.
Jeonnel tak pernah membayangkan bahwa bulan madu mereka membuahkan sesuatu perasaan yang sangat manis dan menghangatkan jiwa, Dexter merasa bahwa ia menemukan sebuah kebahagian dalam hidupnya yaitu, Rane. Ia ingin membahagiakan Rane sepanjang hidupnya itu adalah janjinya kepada dirinya.
Begitu juga dengan Rane, dia berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Jeonnel, si pria kaku.
To Be Continued