Mulai Menduga-duga

1308 Words
Tuduhan di Malam Pertama Bab 10 : Mulai Menduga-duga “Janinnya sehat, ya, Bu, usianya 28 minggu. Panjangnya 40cm dengan berat satu kilo gram. Posisi kepala juga udah di bawah, udah bagus ini. HPLnya tanggal 10 Agustus, bisa maju dan bisa mundur,” jelas sang dokter yang kemungkinan besar adalah selingkuhan Mas Yuta itu. “Jenis kelaminnya, Dok?” tanya Kak Zaki dengan mata menatap layar monitor di sebelahku. “Hmm ... jenis kelaminnya perempun, Pak,” jawab Dokter itu lagi. “Alhamdulillah, anak kita perempuan nanti, Dek. Jadi kita mesti siapin yang serba pink ini.” Senyum Kak Zaki semakin mengembang saja. Aku hanya melengos kesal, apalagi saat melihat penampakanan bayi manusia di dalam layar monitor dengan metode USG 4 dimensi itu. Ternyata dia bukan anak setan yang tak berwujud, aku semakin sakit hati akan pemilik benih sialan ini. Agghh ... kutepis tangan dokter itu dan menatapnya berang. “Maaf, Dokter, mungkin istri saya geli kena alat itu .... “ Kak Zaki melototiku dan menatap tak enak sang dokter. “Iya, tidak apa-apa. Usgnya juga sudah selesai, Ibu Vaulina boleh bangun. Ayo, Suster, dibantu!” Sang dokter bertubuh tinggi semampai itu kembali ke depan mejanya. Aku bergegas bangun dan menepis tangan perawat yang sok baik, yang pura-pura menolong itu. “Bu, lain kali ... kalau mau bangun itu, miringkan dulu tubuhnya baru bangun!” jelas sang perawat. “Dasar cerewet, suka-suka saya dong!” Kutatap geram dia, bersiap menyakarnya kalau berani sok bijak lagi kepadaku. “Dek, nggak boleh gitu! Maaf, ya, suster, istri saya ini emosinya sedang labil!” Kak Zaki kembali meminta maaf dan meringis tak enak hati. Biar saja, pokoknya aku mau marah dengan semua orang. Tanpa banyak bicara, ketika kami menghampiri meja sang dokter, dia langsung mengulurkan foto hasil usg juga resep untuk vitamin. “Terima kasih, Dokter, kami permisi,” ujar Kak Zaki. “Maafkan sikap istri saya, emosinya sedang tidak terkontrol, bawaannya mau marah saja,” sambungnya sambil tersenyum tak enak. “Iya, Pak, tidak apa-apa,” jawab sang dokter sok baik itu, dengan papan nama bertuliskan ‘Dr. Caroline, Sp. OG.’ Di hadapannya. Setelah basa-basi bikin yang gerah itu, Kak Zaki membuka pintu untuk keluar. Eh, kami malah berpapasan dengan pria yang mungkin seorang dokter juga sebab mengenakan jas putih, dia hendak masuk dengan membawa seorang pasien wanita hamil juga. “Itu mantan istrinya Yuta?” “Iya, sstttt!” Begitulah bisik-bisik yang kudengar, maklum semenjak hamil anak setan ini pendengaranku semakin tajam saja. “Kita ambil resep obat dulu, Dek!” ujar Kak Zaki sambil menarik tanganku ke apotek yang terjadi juga terletak di bangunan ini. Dengan tampang jutek, aku menunggunya. “Udah selesai, ayo pulang!” Kak Zaki menggandeng tanganku menuju parkiran. Aduhh ... napasku jadi ngos-ngosan kalau terlalu jauh jalan, eh ... di depan kami malah terlihat pria yang kubenci. “Kak, itu Mas Yuta. Kamu kok ngajakin aku ke klinik di mana-mana banyak orang yang kubenci sih, Kak?” Aku semakin kesal saja. “Kakak nggak tahu kalau Yuta juga buka praktek di sini, kirain cuma praktek di rumah sakit saja. Ya udah, anggap aja nggak kenal!” Kak Zaki mengeratkan genggaman tangannya. Aku menarik napas panjang dan tak mau menoleh saat berpapasan dengannya di korodor klinik dua lantai itu. “Dasar, pasangan menjijikan!” Aku mendengar kata-kata menyebalkan itu keluar dari mulut Mas Yuta, apa maksudnya coba? Kak Zaki melepaskan genggaman tangannya dan hendak berbalik kepada pria berjas putih. “Jangan, Kak, anggap aja suara setan lewat!” ujarku kepadanya. Kak Zaki terdengar menghela napas panjang lalu menggandengku menuju parkiran. *** “Kak, gimana perkembangan kamera CCTV yang sedangkan Kakak selidiki?” tanyaku kepada Kak Zaki saat kami berhenti di sebuah restoran bebek bakar sebab aku lagi pengen makan yang pedas-pedas biar janin setan ini kepedasan, aku jengkel sekali melihat ekspresi sok imutnya saat diusg tadi. “Nggak ada hasilnya, Dek, nggak ada yang aneh dari rekaman CCTV itu. Tak ada orang asing yang masuk rumah kita atau juga kamarmu,” jawab Kak Zaki dengan menggelengkan kepalanya, raut wajahnya terlihat kesal. Aku menggigit bibir dan menghentikan aktivitasku yang sedang menikmati dua potong bebek bakar super pedas, semua ini semakin tak masuk akal saja, apalagi saat pertemuanku dengan Mas Yuta dengan Dokter Caroline itu. Apalagi kayaknya tadi dia tahu kalau aku ini adalah wanita yang dicampakkan Mas Yuta tepat di malam pernikahan kami. Temannya yang dokter pria itu juga tahu, apa Dokter gila perawan itu telah mengobral kisah kami? d**a jadi semakin sesak saja mengingatnya, aku tak menyangka dia kayak gitu. “Kak, aku jadi menduga ... kalau kehamilan aneh ini adalah ulah Mas Yuta, dokter konyol itu .... “ ujarku tiba-tiba. “Bisa jadi sih, semua ini hanya akal-akalan dia aja .... “ Kak Zaki mengiyakan dugaanku. “Kak, aku pernah dengar istilah hamil lewat suntikan. Mungkin gak sih kalau Mas Yuta menyuntikan sesuatu kepadaku sehingga bisa hamil tanpa dibuahi ini, terus ... keperawananku ... dia sendiri yang membobolnya, soalnya pas udah tahu aku hamil pun ... dia tetap mengambil haknya!” Aku mencucupi jari dengan menahan rasa pedas di mulut, bebek bakar ini sangat enak walau rasanya membuat perutku panas. Biar saja bayi setan itu kepedasan di dalam sana. Rasakan siksaanku! “Mungkin maksudmu inseminasi buatan, Dek? Tapi ... nggak bisa sembarang suntik juga, misalnya di tangan, di p****t atau di jari gitu. Suntikannya tetap ke dalam rahim si wanita, prosesnya juga nggak segampang yang kamu bayangkan. Kakak malah mengiranya ... kamu itu disabotase ketika tak sadar. Coba ingat-ingat ... pernah gak ketika kamu jalan sama dia, terus kamu pingsan atau apa kek?” Kak Zaki menyudahi makannya dengan dahinya yang bertaut menghadap ke arahku. “Kayaknya nggak pernah, Kak, soalnya kami ketemu ‘kan jarang. Udah gitu ... kalau jalan sama dia, Cuma makan aja, terus pulang.” Aku masih berusaha mengingat semua kejadian ini. Kak Zaki juga terlihat berpikir keras, kehamilan tanpa sadar kapan dibuahi ini memang aneh. Aku juga tak habis pikir sampai hari ini dan hasil USG tadi juga sudah menegaskan kalo aku hamil anak manusia dan bukannya anak setan. “Mau tak mau, kita tetap harus menunggu bayi ini lahir, baru deh kita lakukan test DNA untuk mencari siapa ayahnya. Kamu sabar saja, tinggal dua bulan kok.” Kak Zaki mengemaskan ponselku yang tergeletak di atas meja dan memasukkannya ke dalam tasku. “Terus ... aku akan melahirkan anak tanpa ayah ini, Kak?!” Aku kembali kesal. “Kita berdua yang akan menjadi orangtua bayi ini, dia tak bersalah, hanya ayahnya saja yang pengecut.” Kak Zaki mengusap perutku. Aku berdecak kesal dan rasanya jengkel saja melihat perutku semakin membesar ini, apalagi dua bulan lagi dia akan terlahir dari rahimku. Rasanya tak ikhlas melihatnya hidup di dalam diriku ini. “Kak Zaki akan menyelidiki Yuta dan Dokter wanita itu, kalau mereka bersekongkol atas semua yang menimpamu ini, maka Kakak akan membuat perhitungan dengan mereka. Kakak janji akan tetap mengusut semua ini, tapi kamu nggak boleh benci dengan calon bayimu. Besok kita beli baju juga perlengkapan lainnya untuk dia, ya?” ujarnya dengan tangan tetap mengusap perut buncit ini. “Nggak mau, dia tak boleh dikasih baju yang bagus-bagus, bungkus pakai kertas koran saja!” ketusku. “Ya Allah, nggak boleh ngomong kayak gitu, Dek. Ya sudah, ayo pulang! Kakak bayar dulu, ya.” Kak Zaki melangkah menuju meja kasir. Aku tak mau mengangguk, hanya mendelik kesal. “Ayo pulang!” Kak Zaki menggandengku keluar dari restoran. Wuaah ... misteri hamil tanpa sadar kapan dibuahi ini sungguh membuatku hampir gila dan takkan bisa dipikirkan dengan akal sehat. Apalagi rekaman CCTV rumah tak menemukan titik terang juga, terpaksa deh ... aku harus menunggu dua bulan lagi, menunggu dia lahir dan setelah itu penyiksaan nyata akan kupraktekan kepadanya. Jangan pikir aku akan mau menjadi ibumu, wahai bayi setan? Tak akan pernah! Bersenang-senanglah dahulu di dalam sana, siksaan dunia sedang menantimu. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD