Operasi Transplantasi

1114 Words
“Jangan lupa selesaikan semua poin yang aku minta semalam mulai hari ini, Mas. Aku ingin setelah Reyna pulang dari rumah sakit pasca operasinya, semua poin itu sudah kamu penuhi dan kami sudah pindah dari sini,” ucap Sonya sambil menggendong Reyna dan mendorong koper yang akan di bawanya ke rumah sakit. “Sepertinya kamu sudah sangat ingin pergi, Sonya.” Andra melirik tajam ke arah Sonya kemudian kembali berpura berkutat pada ponsel yang dari tadi di pegangnya. “Bukankah itu juga yang kalian inginkan? Sudahlah, kami pergi dulu.” Sonya mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Sonya benar-benar terlihat kerepotan menggendong Reyna sambil membawa sebuah koper dan sebuah shoulder bag yang berisi keperluan Reyna dan dirinya selama di rumah sakit nanti, namun Andra sama sekali tidak berinisiatif untuk membantunya. Dia hanya memandang Sonya dari dalam ruang tamu sampai akhirnya anak dan istrinya itu menghilang masuk ke dalam sebuah taksi. “Aku kira dia akan menurut setelah aku ancam dan usir kemarin, ternyata dia malah berani mengancamku balik. Sial!” Andra setengah melemparkan ponselnya ke atas meja dengan kesal. Andra beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke ruangan makan. Wajahnya bingung dan keningnya mengernyit begitu mendapati meja makan itu masih kosong dan bersih. “Mana sarapannya?” Andra memindai meja makan itu. Tangannya memegangi perutnya yang mulai keroncongan. Dilangkahkan kakinya menuju ke arah dapur, namun nihil. Tidak ada makanan apapun di dapur. Dapur itu begitu rapi dan bersih. “Sial! Sonya pergi tanpa memasak terlebih dahulu,” ucap Andra kesal. Dilangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya. Dilihatnya istri keduanya dari depan pintu masih bergulung dalam selimut dan menikmati mimpinya. “Aku harap dia segera memberikanku anak yang sempurna. Terlalu mahal harga yang harus aku korbankan untuk mempertahankan dia dan melepaskan Sonya,” batin Andra sambil mengepalkan tangaannya. “Aku harus segera mencari asisten rumah tangga sebelum rumah ini hancur lebur,” gumam Andra sambil menutup kembali pintu kamarnya. Andra kembali ke ruang tamu dan mengambil ponselnya dari atas meja. Jarinya mulai berselancar di layar ponselnya dan membuka sebuah aplikasi layanan pesan antar makanan. Perutnya sudah sangat perih jika harus menunggu Diana bangun dan memasak untuknya. *** Sonya menghelakan napasnya dengan berat. Hatinya terasa takut dan berdebar. Hari ini putri kesayangannya akan di operasi. Tidak ada seorangpun yang bisa di jadikannya tempat bersandar disaat berat seperti ini. “Rey anak baik kan?” tanya Sonya sambil mengelus kepala anaknya itu. “Ya, Mama,” jawab Reyna sambil menganggukkan kepalanya. “Nanti Rey nurut ya dengan pak dokter dan tante perawatnya. Gak boleh cengeng. Hari ini Rey mau di obatin biar bisa melihat lagi. Nanti Rey bisa melihat wajah mama, lihat kupu-kupu, semuanya. Oke sayang?” “Ya, Mama,” ucap Reyna dengan intonasi khas anak balita. “Anaknya lagi sakit ya, Bu?” tanay supir taksi yang dari tadi mendengar obrolan Sonya dan Reyna. Sonya dengan cepat menyeka air mata di pipinya. “Iya, Pak. Anak saya akan operasi transplantasi mata hari ini.” “Ya ampun, sekecil ini sudah harus merasakan operasi,” ucap supir taksi itu sambil melihat Sonya dan Reyna dari spion tengah mobilnya. “Iya, Pak. Kornea matanya rusak sejak lahir. Mohon doakan operasinya lancar ya, Pak.” “Pasti, Bu. Ibu juga jaga kesehatan. Menjaga anak yang lagi sakit itu gak gampang. Harus kuat.” “Terima kasih, Pak,” jawab Sonya sambil tersenyum. Apa yang diucapkan oleh supir taksi itu cukup membuatnya terhibur. Setidaknya masih ada orang yang memperhatikannya walau hanya sekedar. Sonya mencium kening kepalanya dengan sangat lama. Matanya terasa menghangat. Bulir bening itu tanpa terasa mengalir di pipi Sonya. Tak lama kemudian mereka tiba di depan lobby rumah sakit. Setelah membayar ongkos taksinya, Sonya segera keluar dari dalam taksi dan menunggu kopernya di keluarkan. “Terima kasih, Pak.” “Sama-sama, Bu. Semoga lancar operasinya ya, Bu,” ucap supir taksi itu lagi sambil memberikan koper yang baru dikeluarkannya dari dalam bagasi. “Terima kasih, Pak.” Supir taksi itu kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya pergi dari depan rumah sakit. Sonya berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu. setibanya di depan resepsionis, Sonya menghentikan langkahnya dan mengambil berkas lamaran pekerjaan yang sudah di persiapkannya tadi malam dari dalam shoulder bagnya. “Saya ingin memasukkan lamaran pekerjaan di Rumah Sakit ini,” ucap Sonya pada seorang resepsionis yang berdiri menyambutnya. “Oh, Ibu Sonya Fayola ya?” tanya Resepsionist itu spontan begitu mendengar ucapan Sonya. “Benar. Bagaimana anda tahu nama saya?” tanya Sonya kembali dengan bingung. “Lamaran anda sudah di tunggu Tim HRD, Bu.” Sonya bingung dengan apa yang di katakan oleh resepsionis itu barusan. Namun dia tidak mau ambil pusing. Dia harus bergegas bersiap untuk menemui dokter yang akan mengoperasi Reyna. “Terima kasih,” ucap Sonya sambil menganggukkan kepalanya. “Sama-sama, Bu.” Sonya segera melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan VIP yang sudah dipesannya kemarin dan meletakkan kopernya di ruangan itu. Setelah itu dia berjalan menuju ke ruangan Poli Mata untuk menemui Dokter Ricky sesuai dengan janji mereka kemarin. “Suster, Saya orangtua Reyna yang akan di operasi transplantasi kornea hari ini,” ucap Sonya pada suster yang ada di depan ruangan prakterk Dokter Ricky. “Baik, Bu. Dokter sudah menunggunya di dalam. Silahkan ibu.” Sonya membawa Reyna masuk ke ruanagn pemeriksaan Dokter Ricky bersama dengan perawat yang bertugas. Setelah melalui beberapa pemeriksaan pra operasi, Reyna siap untuk menjalani operasinya. Reyna terus menciumi seluruh wajah anaknya itu. Berat rasanya harus melihat Reyna masuk ke dalam ruangan operasi namun Sonya harus melawan rasa takutnya itu demi kebaikan Reyna. Sonya duduk di sebuah kursi yang ada di depan ruangan operasi. Tangannya setrus saling meremas. Tak bisa dibayangkannya apa yang dilalui putrinya di dalam. Sonya hanya bisa terus berdoa sampai pintu ruangan operasi itu terbuka. Kurang lebih satu jam sampai akhirnya pintu ruangan operasi itu terbuka. Dengan rasa berdebar, Sonya segera melangkahkan kakinya menuju ke depan pintu ruangan itu. Dokter Ricky keluar dari dalam dengan masih memakai baju operasinya. “Ba-bagaimana operasi Reyna, Dokter?” tanya Sonya terbata karena jantungnya yang begitu berdebar. “Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar, Bu. Reyna sedang di observasi sekitar lima belas menit di dalam. Setelah ini dia akan di bawa keluar menuju ke ruangannya. Tidak ada hal yang perlu di khawatirkan, Bu.” “Alhamdulillah,” ucap Sonya sambil memejamkan matanya yang basah seketika mendengar ucapan dari Dokter Ricky. “Terima kasih banyak, Dokter.” “Sama-sama, Bu. Itu berkat kuasa Tuhan dan kekuatan doa ibu juga,” ucap Dokter Ricky sambil tersenyum, “Setelah Reyna dibawa ke ruangannya, saya akan kesana untuk memberikan penjelasan tentang apa yang harus ibu dan Reyna lakukan pasca Reyna operasi.” “Baik, Dokter.” Sonya segera menganggukkan kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD