Mencari Pekerjaan

1918 Words
“Coloboma kongenital. Untuk kasus anak ibu, ini sudah sangat mengganggu penglihatannnya dan harus dilakukan transplantasi atau penggantian korneanya yang rusak.” Sonya melihat ke arah wajah anaknya dengan tatapan sendu. Bagaimana bisa anaknya yang masih berumur tiga tahun itu sudah harus melalui hal-hal berat seperti operasi transplantasi. “Kapan operasi transplantasinya bisa dilakukan, Dokter?” tanya Sonya pada Dokter Ricky. “Apa Dokter David sudah memberi tahu tentang donor mata untik Reyna?” “Sudah, Dokter.” Sonya menganggukkan kepalanya, “Donor itu masih tersedia untuk Reyna kan, Dokter?” Sonya menatap Dokter yang ada di depannya dengan serius. “Masih, Bu. Saya senang Reyna bisa berkonsultasi hari ini karena kita hanya diberi waktu dua hari untuk memastikan kebutuhan donor mata itu. Dan alhamdulillah umur donor ini sama dengan umru Reyna.” Dokter Ricky tersenyum ke arah Sonya. “Hari ini Reyna akan di periksa terlebih dahulu apakah ukuran kornea mata Reyna cocok dengan kornea mata yang akan di donorkan. Apakah Reyna punya alergi atau keluhan lain seputar matanya seperti pernah infeksi atau cedera?” “Tidak keduanya, Dokter.” “Baiklah. Kita segera ke ruangan pemeriksaan ya, Bu.” Sonya menggendong Reyna dan berjalan mengikuti perawat dan Dokter Ricky untuk melakukan pemeriksaan persiapan untuk transplantasi. “Alhamdulillah, sejauh ini semua cocok dan sehat. Besok kita bisa mulai operasi transplantasinya. Ibu bisa mengurus semua administrasinya hari ini,” ucap Dokter Ricky begitu selesai memeriksa mata Reyna. “Kisaran biayanya secara kesuluruhannya berapa ya, Dokter? Agar kami bisa mempersiapkan uangnya.” “Secara keseluruhan biayanya berkisar lima puluh juta rupiah, Bu. Itu jika tidak terjadi komplikasi selama atau pasca operasi,” jawab Dokter Ricky. “Baik, Dokter. Terima kasih atas bantuannya untuk anak saya.” Sonya menganggukkan kepanya. “Sama-sama, Bu. Semoga ikhtiar kita berhasil. Insyaallah.” Sonya pamit dan segera keluar dari ruangan Dokter Ricky. Dilangkahkan kakinya menuju ke sebuah kursi panjang yang ada di depan ruangan periksa tadi. Diambilnya ponsel dari dalam tasnya dan segera menekan tombil dial pada kontak suaminya. “Mas, aku harus mengurus administrasi Reyna. Operasi transplantasinya akan dilakukan besok. Tolong kirimkan uang biaya operasinya sekarang ya, Mas.” “Benar-benar menyusahkan. Berapa biayanya?” gerutu Andra. Sonya terdiam beberapa saat. dia tidak boleh mengatakan nominal yang pas seperti yang dikatakan oleh Dokter Ricky tadi. Jika nanti tiba-tiba Reyna membutuhkan biaya tambahan, suaminya pasti akan kembali bertingkah jika dimintai uang lagi. “Tak bisakah kamu lebih bicara lebih cepat, Sonya? Jangan menghabiskan waktu berhargaku dan Diana untuk hal tidak penting ini!” “Sekitar seratus juta, Mas,” jawab Sonya dengan suara bergetar. Selama dia menjadi seorang istri, baru kali ini dia berbohong pada suaminya. “Sebentar lagi aku transfer.” Andra menutup panggilan telepon itu. Sonya menghelakan napas. Dielusnya pelan kepala Reyna yang sedang tersenyum sendiri. Anak itu begitu kuat meski segala hal yang terlihat baginya hanya kegelapan. Netra Sonya kemudian mengedar ke sekitarnya, melihat pada perawat yang berlalu lalang mengerjakan tugasnya. Semua hal itu dulu merupakan rutinitas yang dia lakukan. Sebuah cita-cita yang di perjuangkannya dengan dorongan yang kuat dari ayahnya. Sonya berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati seorang perawat yang sedang berdiri di nurse station. “Ada yang bisa kami bantu, Bu?” tanya perawat itu begitu melihat Sonya datang mendekat. “Apakah rumah sakit ini masih membuka lowongan pekerjaan untuk perawat?” Sonya menatap ragu pada perawat yang berdiri di hadapannya itu. “Sepertinya belum, Bu. Tapi ibu bisa mengakses pengumuman itu di sosial media resmi rumah sakit, Bu. Semua hal tentang rumah sakit ini pasti akan diumumkan di sana,” “Apakah rumah sakit biasanya mau menerima lulusan diploma keperawatan di atas umur tiga puluhan?” Perawat itu menggelengkan kepalanya, “Kualifikasi umur yang diterima biasanya maksimal umur dua puluh lima tahun, Bu.” Sonya melemas, “Terima kasih.” “Sama-sama, Bu.” Perawat itu menganggukkan kepalanya. Sonya kembali ke tempat duduknya. Dihelakannya napasnya dengan berat. Tentu saja mencari pekerjaan di usia banyak seperti ini akan sangat sulit. Belum lagi perusahaan akan meragukan keterampilannya dalam bekerja jika mereka mengetahui bahwa Sonya telah bertahun-tahun tidak bekerja. Setiap perusahaan pasti menginginkan tenaga keerja yang cekatan dan terlatih, bukan janda beranak satu seperti Sonya. Tak lama kemudian sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Sonya tersadar dari lamunannya dan segera memeriksa pesan yang masuk itu. “Dia sudah mengirimkan uangnya,” gumam Sonya tersenyum lega membaca sms banking di ponselnya. Sonya menatap wajah polos anaknya yang sedang duduk di sampingnya, “Semiga ini jalan dari Tuhan agar kamu bisa melihat ya, Sayang.” Sonya segera menggendong Reyna dan dengan cepat berjalan menuju ke bagian administrasi rumah sakit itu untuk mengurus tindakan operasi Reyna besok. “Dia tadi mengatakan apa?” tanya David yang tiba-tiba berdiri di depan nurse station yang tadi sempat di singgahi oleh Sonya. “Dok-dokter?” ucap perawat itu gugup karena terkejut dengan kedatangan David yang tiba-tiba di hadapannya. “Wanita yang datang ke sini barusan tadi mengatakan hal apa, Suster?” David memperjelas pertanyaannya. “Maksud Dokter, ibu-ibu dengan lebam di wajah dan sedang menggendong anaknya tadi?” “Ya, itu.” “Ibu itu menanyakan lowongan pekerjaan perawat di rumah sakit ini, Pak,” jawab perawat itu. “Lowongan pekerjaan perawat?” David mengernyitkan keningnya. “Benar, Dokter. Tapi ibu itu mencari lowonngan perawat untuk usia tiga puluh tahunan.” David tertegun beberapa saat. “Untuk apa dia menanyakan lowongan pekerjaan? Apa dia dia sedang membutuhkan pekerjaan?” batin David. Sejak awal Sonya masuk ke ruangan Dokter Ricky tadi, David tidak langsung pergi ke ruangannya. Dia sengaja menunggu di sekitar ruangan praktek Dokter Ricky sampai Sonya keluar. Begitu melihat Sonya keluar dari ruangan Dokter Ricky, David segera membalikkan tubuhnya ke arah berlawanan agar Sonya tidak melihatnya. “Bisa saya minta tolong?” ucap David lagi pada perawat yang masih berdiri di depannya itu. “Boleh, Dokter.” Perawat itu menganggukkan kepalanya dengan hormat. “Bisa kamu temui lagi pasien itu dan katakan bahwa akan ada pembukaan lowongan perawat di rumah sakit ini. Minta dia untuk memasukkan lamaran pekerjaannya,” perintah David. “Tapi dia mencari lowongan pekerjaan untuk usia lebih dari 30 tahun, Dokter.” “Lakukan saja apa yang saya minta.” “Baik, Dokter.” Perawat itu segera berjalan cepat mencari keberadaan Sonya. Netra David meremang. “Seharusnya aku tidak peduli lagi padanya, tapi entah kenapa aku tidak bisa mengabaikannya.” “Ada apa dengan lebam di wajahnya? Kenapa dia tiba-tiba mencari lowongan pekerjaan lagi?” David menghelakan napasnya kemudian berjalan menuju ke ruangan praktek Dokter Ricky. Dia ingin menanyakan bagaimana hasil pemeriksaan Reyna hari ini sebelum dia disibukkan dengan pasiennya di waktu praktek nanti. *** David berjalan menuju ke ruangan prakteknya seusai berbicara dengan Dokter Ricky. Di hempaskan tubuhnya ke atas kursi kerjanya. Tangannya mulai membuka lembaran berkas rekam medis pasien yang akan di periksanya setengah jam lagi. “Astaga! Ada apa denganku?” David memejamkan matanya kemudian mengusapknya dengan kedua tangannya dengan kasar. “Baiklah. Ini terakhir kali aku peduli padanya. Setelah ini aku tidak akan memikirkan ataupun peduli lagi.” David menghelakan napasnya dengan kasar. David mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang kemudian menelponnya. Belum sampai dering pertama selesai, seseorang yang di telepon oleh David langsung mengangkat panggilan telepon itu. “Selamat siang, Pak Adam,” ucap David begitu panggilan telepon itu di angkat. “Selamat siang, Dokter David. Apa ada hal yang penting, Dokter? Tidak biasanya dokter menghubungi saya seperti ini,” jawab Adam, Kepada HRD Rumah Sakit tempat David bekerja, “Ini tentang undangan pernikahan? Wah, saya turut bahagia mendengar jabar ini, dokter.” David tertawa singkat mendengar seloroh yang di lontarkan oleh Adam. Hal ini sama sekali tidak mengganggu perasaan David karena seluruh pegawai di rumah sakit sudah sering bercanda seperti itu pada David. “Kalau soal undangan itu, pasti saya sendiri yang akan memberikannya pada bapak,” jawab David. “Lalu, apa yang bisa saya bantu, Dokter?” “Begini, Pak. Saya ingin merekomendasikan seorang perawat untuk bekerja di rumah sakit kita. Apa boleh?” tanya David dengan sopan. “Tentu saja, Dokter. Kalau boleh tahu apakah perawat ini masih adahubungan keluarga dengan dokter?” tanya Adam. “Tidak ada, Pak. Hanya saja saya tahu dia cukup qualified sebagai seorang perawat.” “Baiklah. Apakah berkas lamarannya sudah ada, Dokter? Saya akan menjemputnya ke ruangan praktek Dokter sekarang.” “Belum, Pak. Dia yang akan mengantarkannya ke rumah sakit. Saya akan mengirimkan informasi nama dan tanggal lahirnya pada bapak.” “Baik, Dokter. Saya akan langsung mengabari Dokter jika lamarannya sudah masuk,” jawab Adam. “Terima kasih, Pak Adam.” “Sama-sama, Dokter.” David menutup panggilan telepon itu dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya. “Oke, sekarang aku harus fokus pada pekerjaanku,” ucap David sambil membuka kembali berkas rekam medis yang ada di depannya. “Mas!” Tiba-tiba pintu ruangan praktek David dibuka oleh seseorang, membuat David spontan melihat ke arah pintu ruangannya. “Ada apa, Vi?” “Aku bawa ini. Kita makan bareng ya.” Viona mengangkat sebuah tas bekal yang ada di tangannya kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan praktek David. “Jam prakteknya lima belas menit lagi, Vi.” “Benarkah?” Viona melihat jam yang ada di pergelangan tangannya kemudian menghelakan napasnya dengan kesal, “Menyebalkan!” David tersenyum melihat ekspresi kesal di wajah Viona sambil mengelengkan kepalanya. “Tadi aku nelpon Mas tapi ponsel mas sibuk. Lagi teleponan dengan siapa sih?” Viona meletakkan tas bekal yang ada di tangannya ke atas meja praktek David. “Oh itu, tadi Mas nelpon Pak Adam.” “Pak Adam HRD?” David menganggukkan kepalanya, “Iya.” “Ngapain?” “Mas mau rekomendasi seorang perawat untuk bekerja di rumah sakit ini. Boleh kan?” David menatap Viona. “Tentu saja boleh. Tapi aneh. Baru kali ini Mas mau memasukkan orang bekerja di rumah sakit ini. Dia keluarga Mas?” “Tidak. Hanya kenalan lama.” “Perempuan?” tanya Viona lagi. “Perempuan, Vi.” Viona menghelakan napasnya, “Kita sudah terlalu banyak perawat perempuan,” ucap Viona asal. David mengernyitkan keningnya, “Apa masalahnya?” “Ya sudahlah. Ini untuk Mas. Dimakan ya. Aku sendiri itu yang buat.” Viona beranjak menuju ke pintu. “Vi,” panggil David. “Hmm?” Viona membalikkan tubuhnya kambali. “Kamu jadi ambil alih rumah sakit?” Viona menganggukkan kepalanya, “Mulai hari ini.” “Alhamdulillah. Kalau bukan kamu, siapa lagi, Vi.” David tersenyum ke arah Viona, “Mas yakin kamu bisa membuat kebijakan yang bisa membawa rumah sakit ini menjadi lebih baik lagi.” “Baru aja tadi pagi aku pecat tiga cleaning service karena ada debu di sudut paling atas kaca ruanganku. Terus aku mau setiap ruangan perawatan di cat jadi warna ungu dan aku mau setiap ruangan poli di letakkan sketsa foto aku. Terutama di ruangan ini, harus ada tiga.” Mulut David membulat sempurna, netranya menatap Viona tanpa berkedip. “Bukan kebijakan seperti itu maksudnya, Vi.” “Tapi itu juga penting, Mas.” Pintu ruangan David diketuk oleh seseorang. “Masuk!” perintah David. “Prakteknya sudah bisa dimulai, Dokter?” tanya seorang perawat yang berdiri di belakang pintu. “Ya, silahkan dimulai.” David menganggukkan kepalanya. “Baik, Dokter.” Perawat itu menundukkan kepalanya memberik hormat lalau kembali menutup pintu ruangan praktek David. “Aku kembali ke ruanganku ya, Mas,” ucap Viona. “Makasih makanannya, Vi.” “Dimakan! Awas aja kalau nggak!” “Iya.” Viona keluar dari dalam ruangan itu dan berjalan kembali ke ruangan kerjanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD