Gudang belakang Ndalem adalah tempat yang jarang dikunjungi, terletak di ujung lorong dapur yang lembap. Tempat itu berbau apek, campuran debu, ramuan kuno yang disimpan, dan kayu lapuk. Lampu minyak di sana hanya bersinar remang-remang, menciptakan bayangan panjang dan menakutkan di dinding batu. Gendis bergegas melangkah masuk ke dalam gudang, menutup pintu kayu di belakangnya, sementara abdi dalem yang mengantarnya telah pergi meninggalkan gadis itu. Di tengah gudang dia melihat Karto, pria tua itu berdiri di tengah ruangan, punggungnya tegak, meskipun wajahnya tampak pucat dan lelah. “Kamu datang, Abdi Dalem,” sapa Karto, suaranya kering dan dingin, tanpa nada basa-basi. Gendis menunduk dalam-dalam. “Hamba datang sesuai perintah Gusti Putri Endah, Lik Karto.” “Bagus dan aku di si

