Pagi itu, kamar rias utama Ndalem Suryawinata terasa lebih dingin daripada biasanya, meskipun sinar matahari sudah menembus tirai sutra. Ruangan yang biasanya dipenuhi tawa dan perbincangan riang para dayang saat merias bangsawan, kini terasa sunyi mencekam. Gendis berdiri di depan meja rias besar, tangannya sedang mengurut kotak peralatan yang dipinjamkan oleh Ndalem Suryawinata. Alat-alat itu terlihat mahal dan modern, tetapi terasa asing di tangannya yang terbiasa dengan kuas sederhananya sendiri. Gusti Endah Suryawinata tampak duduk di sofa beludru, menghadap langsung ke cermin rias, matanya yang tajam mengawasi setiap gerakan Gendis. Di sebelahnya, Raden Ajeng Lintang Kinanti yang memang diundang untuk datang saat Gendis merias Bagas tampak duduk dengan kaki bersilang dan terseny

