9. Hargai Diri Sendiri

1205 Words
Rasanya benar-benar seperti mimpi! Aku bisa saling menatap dengan Dennis dan memiliki percakapan dengannya. Hal yang semula tak terpikirkan akan terjadi di dalam hidupku. Aku bisa lebih dekat dengan pria itu. Ini sebuah imajinasi yang berubah menjadi nyata! Termasuk saat ini. Aku kembali berada di samping Dennis. Dia kembali sedang tertidur tepat di sebelahku. Aku sedang membaca buku di perpustakaan dan ternyata aku kembali menemukan pria itu di sini. Aku merasa upaya kebohonganku tidaklah sia-sia. Sebenarnya aku pura-pura sakit dan minta ijin beristirahat di ruang UKS tadi ke guru. Aku tidak sakit. Aku sehat. Aku hanya sedang mencari-cari alasan agar bisa keluar kelas dan memiliki kesempatan berdekatan dengan Dennis. Ternyata dugaanku benar, dia sedang tertidur di perpustakaan. Aku tadi langsung mengambil buku, lalu berakting sedang membaca, padahal tidak. Bagaimana bisa aku sibuk menghayati susunan kata di lembaran buku yang kini ada ditanganku? Jantungku saja sedang berdebar begitu hebat hingga aku kesulitan menenangkannya. Namun aku tak mau terlihat gugup, apalagi di depan Dennis. Aku melirik sekali lagi ke arah samping. Pria itu masih tertidur pulas. Secara refleks aku menatapnya sambil tersenyum. Aku mengagumi setiap lekuk wajahnya dengan mata yang masih terpejam. Di mataku, dia tampan, bahkan dalam posisi tidurnya. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku ketika menyadari Dennis mulai membuka matanya. Aku tak ingin dia memergokiku sedang mengaguminya. Aku kembali berpura-pura sedang fokus membaca. Berusaha menampilkan betapa seriusnya aku mendalami setiap kata yang sedang dibaca. "Lo baca apaan sih? Serius amat." Dennis merampas buku yang sedang aku pegang. Kemudian melihat judul buku itu. "Lima sekawan? Udah kayak bacaan bocah aja." Aku merebut kembali buku itu dari tangan Dennis. "Biarin! Ini seru tau!" "Gue pikir lo lagi baca buku ensiklopedia, makanya tuh muka serius amat. Eh, gak taunya malah buku fiksi anak bocah." Dennis geleng-geleng kepala dan menatap heran ke arahku. Aku merengut kesal. Aku jadi menyesal tadi mengambil buku secara asal. Aku tidak menyadari bila telah menarik buku bacaan anak-anak dari rak. Aku terlalu semangat untuk segera duduk di sebelah Dennis dan luput memperhatikan judul buku yang sedang aku pegang saat ini. "Emang lo suka baca buku apaan sih? Genre apa?" tanyaku, penasaran. "Gue gak suka baca buku. Gue lebih suka nonton." "Nonton apa?" "Paling action. Kalo lo?" tanya Dennis balik. "Ehmm... romance," jawabku. "Kok mikir sih jawabnya. Itu pertanyan sederhana padahal." "Gue takut lo bakalan ngeledekin gue." "Lho, kenapa gitu?" tanya Dennis, bingung. "Gue suka genre romance, tapi gak punya pengalaman pacaran. Biasanya gue pasti diledek setiap kali bilang kalo suka genre itu." Kepalaku tertunduk dengan raut wajah sedih. Tiba-tiba ingatan tentang bully-an itu terngiang di kepala. Bak sebuah adegan film yang terasa nyata di depan mata. "Diledek gimana? Masa cuma gara-gara selera film doang, lo sampe diledek sih. Aneh orang-orang." Aku menghela nafas. Nyatanya memang begitu. Setiap gerakan dan perkataanku memang serba salah. Bila aku mengungkapkan apa yang sedang aku gemari, pasti itu akan jadi bahan untuk sebuah lelucon yang terdengar seperti penghinaan di telingaku. "Woy! Kok ngelamun sih?" Pertanyaan Dennis tadi. Aku terlalu tenggelam dalam pikiran dan kesedihanku. "Sorry... ya gitu. Anak-anak pasti bakalan ngeledek gue. Apapun yang gue lakukan pasti dijadikan bahan lawakan. Kalo mereka tau gue suka film romance, pasti itu juga bakalan diketawain. Mereka bakalan ngeledek gue demen ngehalu. Bisanya cuma ngekhayal doang. Pacaran aja gak pernah." "Yaudah. Pacaran aja." Aku melirik kesal ke arah Dennis. "Lo lagi ngajak bercanda?" "Hah? Enggak. Gue serius." "Kalo gitu lo jahat sama gue." "Hah? Maksudnya?" Dennis benar-benar kebingungan. Aku mendengus kesal dengan tatapan sedih. "Mana ada sih cowok yang mau sama gue." "Kok gitu?" Aku menghela nafas, lalu menatap Dennis. "Lo gak liat bentuk tubuh gue? Menurut lo, gue menarik di mata cowok? Enggak, Den. Gue bahkan gak dianggap wanita. Mereka cuma ngeliat lemak tubuh gue. Gak ada yang tertarik liat kepribadian dan kebaikan gue. Gak mungkin ada yang mau sama gue." "Kalo lo sendiri aja mandang diri lo kayak gitu... gimana orang lain? Gak akan ada yang ngehargain diri lo, kalo lo sendiri aja gak mandang diri lo itu berharga. Iya, gak akan ada cowok yang mau sama lo... kalo pikiran lo aja kayak gitu." Aku tertohok mendengar perkataan Dennis. Aku hanya bisa diam sambil menahan air mata. Terkadang kebenaran dan kejujuran memang terasa menyakitkan. Aku tak bisa membela diri atau menyanggah ucapan Dennis itu. "Sebelum lo minta dihargai sebagai wanita oleh seorang pria... coba lo hargai diri lo sebagai wanita. Semua yang lo sebutin tadi itu cuma berbau fisik. Itu bisa berubah. Kalo lo niat buat berubah." Aku masih terdiam. Aku masih tak tau harus berkata apa. Setiap kalimat yang ku dengar itu benar. Aku memang selama ini tak menghargai diriku sendiri. Aku memandang diriku rendah sama seperti cara orang lain memandang diriku. Aku mengeluhkan perlakuan jahat orang lain padaku, padahal aku sendiri pun jahat pada diriku sendiri. "Kesalahan lo adalah membiarkan orang lain memperlakukan lo seenaknya. Dari sekarang, coba belajar kasih tau apa yang lo rasa. Kalo gak nyaman, ya ngomong. Kalo gak suka terima perkataan atau perlakuan seseorang ke lo... ya bilang kalo lo gak suka. Jangan diem aja." "Iya. Lo bener. Semua omongan lo bener. Cuma gak segampang itu. Gue selalu takut buat ngomong atau nunjukin apa yang gue rasa. Mulut mereka terlalu kejam buat gue. Kadang gue gak sanggup buat bales." Dennis tersenyum. "Gak papa. Coba aja pelan-pelan. Gak ada yang langsung jago komunikasi. Setidaknya lo berusaha jadi lebih baik setiap harinya." Aku membalas senyuman Dennis dan menatapnya dengan lekat. Aku sungguh berterima kasih dengan kehadiran dan nasehatnya. Dia ternyata lebih baik dari yang aku pikir. Tidak ada yang menegur dan memberikan saran padaku dengan cara yang baik. Walau tidak bisa dibilang lembut, tapi cara penyampaian Dennis tidaklah kasar dan tajam. Tidak seperti Renata yang seringkali menasehatiku dengan bahasa yang sangat keras. "Balik yuk. Kayaknya gue mau ke kelas deh." "Kenapa? Bukannya lo udah biasa bolos?" tanyaku. "Yah gak seharian juga bolosnya, Bon. Mending gue tidur di rumah dah daripada ke sekolah. Balik yuk." Aku mengangguk setuju. Kemudian bangkit berdiri dan mengikuti langkah kaki Dennis dari belakang. Diam-diam aku tersenyum senang. Aku merasa seperti memiliki seorang teman baru yang peduli padaku. Rasanya benar-benar menyenangkan. Bahkan walau Dennis tak berakhir menjadi kekasihku, itu mungkin tidak apa-apa. Asalkan dia tetap selamanya berada di sampingku seperti tadi. CONTINUED ****************** Makasih ya buat yang udah ikutin cerita ini. Buat vote dan komen yang nyemangatin aku buat nulis. Maaf aku baru bisa update. :( Kayaknya tiap kali aku up bab baru, author note-nya selalu ada kata permintaan maaf ya... terus bilang bakalan usaha update lebih cepet. Nyatanya... ya sama aja. Aku selalu butuh minimal satu minggu buat update satu bab. Terkadang dua minggu malah. Terlalu memang. Terkadang harapan dan ekspektasi tidak selalu terjadi. Selalu ada-ada aja yang terjadi di real life yang bikin mood nulis gak bagus. Bahkan minggu kemarin rekan kerjaku baru aja wafat. Mood langsung drop. Sampai sekarang bahkan masih suka nangis diem-diem. Karena itu, sekarang-sekarang ini lagi sulit update cepet. Bila kalian masih nunggu buat update-nya cerita ini... aku berterima kasih. Kalo tidak, aku memahami. ^^ Aku gak akan bilang kalo bakalan usaha update lebih cepet lagi. Aku gak mau ngucapin sesuatu yang aku sendiri gak yakin bakalan bisa menepatinya. Jadi doain aja. Semoga, lebih cepet. Salam, Penulis amatir yang lagi hobi main stickers :p
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD