8. Kita Berteman?

1486 Words
Bu Dita, guru matematika, tak bisa mengajar karna sedang sakit. Jam pelajaran berlangsung tanpa guru. Aku pun telah menyelesaikan tugas matematika yang diberikan. Seperti biasa, aku memang tak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan tugas itu. Karena itu, aku memiliki waktu bebas yang cukup banyak sebelum pelajaran berikutnya dimulai. Aku lalu mengambil ponsel dan earphone dari dalam tas. Kemudian berjalan pelan keluar kelas. Aku ingin menyendiri. Apalagi setelah insiden kemarin dimana Marco mempermalukanku di kelas. Aku masih tak nyaman berada di sana. Mungkin ini hanya pikiranku yang berlebihan. Karena tampak'nya teman-teman sekelasku sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka asik sendiri dengan kumpulan pertemanan mereka dan mulai mengabaikanku kembali. Marco, laki-laki itu mengacuhkanku. Dia selalu menatapku sinis setiap kali berpapasan. Sesekali dia meledek diriku dengan sindiran. Aku hanya pura-pura tak mendengar ucapannya. Aku berlindung di balik earphone yang terpasang di telingaku. Bersandiwara seolah aku sedang mendengarkan musik. Padahal aku mendengar setiap kata ledekan yang dilontarkan laki-laki itu. Karena itu, saat ini aku lebih nyaman menghabiskan waktu di luar kelas. Langkah kakiku saat ini berjalan menuju rooftop sekolah. Tempat dimana jarang ada orang di sana, apalagi saat jam pelajaran berlangsung. Aku ingin menyendiri sambil mendengarkan lagu dan menikmati angin sepoi-sepoi. Sejenak menikmati udara bebas. Seperti dugaanku, rooftop benar-benar sepi. Aku memilih duduk lesehan di salah satu sudut sambil bersandar di dinding. Aku lalu mulai mendengarkan musik lewat aplikasi video youtube. Rasanya aku ingin mendengarkan lagu-lagu Tulus. Nuansa musiknya cocok dengan suasanaku saat ini. Ingin bersantai dengan nuansa sendu. Tanpa sadar, aku mulai bersenandung. Aku ikut bersenandung. Menyanyikan lirik lagu Tulus yang sedang ku dengarkan dengan asiknya. Aku tenggelam dengan ponselku dan lantunan musik, seolah hanya aku di tempat ini. "Aish!" Aku secara refleks langsung melepaskan earphone ketika mendengar ada suara laki-laki. Aku merasa tak ada orang lain di sini. Namun aku bisa mendengar suara itu meski mengenakan earphone. Volume suara ponselku tidak aku buat maksimum. Karena itu aku yakin baru saja mendengar suara seseorang. Mataku terbelalak dengan raut wajah penuh keterkejutan ketika melihat Dennis tiba-tiba muncul dihadapanku. Laki-laki itu sepertinya baru saja bangun dari tidurnya. Dia menggosok matanya sambil menguap. Rambutnya tampak acak-acakan. Aku menebak dia baru saja tidur dibalik dinding gudang rooftop. Aku menarik nafas secara refleks ketika Dennis menatapku, lalu berjalan ke arahku. Jantungku berdebar begitu keras saat menyadari langkah kaki laki-laki itu semakin mendekat. Rasanya tak percaya, Dennis, laki-laki yang aku suka secara diam-diam, kini berjalan menghampiriku. Kenyataan ini seperti terasa tak nyata bagiku. "Lo lagi... lagi-lagi lo ganggu tidur gue!" ucap Dennis dengan nada penuh penekanan. Mendengar keluhan Dennis itu aku langsung bangkit berdiri. Walau begitu gugup, aku berusaha menatap matanya. "Ehmmm...." Aku hanya mampu bergumam sambil menggigit bibir. Aku tak tau harus berbicara apa. Ini kali pertama aku berhadapan dengan mata saling menatap. "Lo mau buka konser di sini apa? Suaranya kenceng banget," keluh Dennis sambil duduk lesehan di lantai. Aku mulai ikut duduk di sebelah Dennis. Rasanya tidak sopan tetap berdiri sementara lawan bicaraku sedang duduk di lantai. "Maaf," bisikku dengan kepala tertunduk. Dennis menatapku selama beberapa saat. Tentu saja jantungku berdebar keras. Padahal hanya ditatap saja, tapi aku gugup setengah mati. Aku berharap Dennis tak akan bisa mendengar gemuruh detakan jantung ini. "Lo ngapain di sini?" tanya Dennis. "Duduk sambil dengerin musik aja." Aku berusaha tampak biasa saja, meski sebenarnya jantungku tidak baik-baik saja sekarang. "Emang gak ada pelajaran?" "Bu Dita gak masuk. Jadinya cuma dikasih tugas aja. Karena gue udah selesai ngerjain soalnya, ya gue free. Makanya ke sini." "Tuh guru kebiasaan sering gak masuk." "Bukannya lo juga sering bolos kelas ya? Lo sering tidur gue liat-liat." "Kok lo tau?" Aku menyesalkan ucapanku tadi. Aku kelepasan bicara. Aku langsung mencari alasan agar Dennis tak mencurigaiku. Aku tak ingin dia tau bahwa sesungguhnya aku telah lama memperhatikannya secara diam-diam. "Bukannya udah rahasia umum ya?" Dennis tertawa. Namun aku menangkap kesinisan dari nada tawanya. "Kenapa?" tanyaku lagi. "Gak papa. Omongan lo bener aja. Pasti banyak yang gosipin gue kan?" "Gak banyak. Hanya beberapa." Sebenarnya aku tak tau apa-apa tentang rumor Dennis. Aku tak memiliki teman selain Renata. Renata pun tak pernah membahas Dennis. Aku sekarang sedang berbohong. "Pasti banyak sebenarnya. Mereka pasti ngomongin gue yang sering bolos masuk kelas. Mereka pasti bawa-bawa status gue." Aku sedikit paham maksud ucapan itu. Dennis adalah anak dari pemilik yayasan sekolahnya. Ayahnya memiliki usaha diberbagai bidang. Selain memiliki yayasan sekolah, keluarganya memiliki bisnis percetakan dan toko yang telah memiliki cabang diseluruh indonesia. Status yang disinggung Dennis pasti tentang hal itu. "Terus kenapa lo sering bolos jam pelajaran?" tanyaku, penasaran. "Buat apa gue masuk kelas?" "Buat belajar." "Gue gak perlu belajar dalam waktu yang lama. Nilai gue udah bagus." Aku terdiam. Perkataan Dennis tak bisa aku bantah. Dia memang selalu juara satu di kelas. Tak ada yang bisa menuduhnya bermain curang karna statusnya yang anak pemilik yayasan sekolah. Kemenangan pertama Dennis di ajang olimpiade matematika nasional menjadi bukti nyata bahwa dia memang memiliki otak cemerlang. Namun aku tak mengerti bagaimana dia bisa mendapatkan hasil bagus dengan usaha yang terlihat minim. Aku mulai penasaran. "Kok lo bisa sih selalu juara satu dan menang olimpiade? Padahal lo jarang masuk kelas." "Kenapa? Lo juga ikutan curiga kalo gue curang? Karena status gue, maka semua pencapaian gue jadi diragukan? Sama aja lo ternyata." Dengan cepat aku langsung menggelengkan kepala. "Enggak! Maksud gue gak gitu. Gue cuma takjub aja. Gue belajar tiap hari dan rajin masuk kelas, tapi gue gak bisa mencapai apa yang lo capai. Paling tinggi peringat dua yang bisa gue dapet. Apalagi menang olimpiade. Makanya gue penasaran gimana caranya lo bisa begitu. Siapa tau gue bisa dapet juga kan." "Oh... itu maksudnya." Aku menghela nafas lega ketika Dennis tampak mempercayai perkataanku barusan. Aku tak ingin dia memiliki prasangka buruk tentangku. Karena memang aku tak pernah memiliki pikiran buruk tentangnya. Ini kali pertama aku bisa mengobrol dengannya, apalagi dengan jarak sedekat ini. Aku tak ingin kesempatan pertamaku ini langsung hancur seketika. "Jadi, gimana caranya?" tanyaku lagi. Aku masih penasaran. "Gak ada. Gue cuma belajar setiap pagi aja. Pas abis bangun tidur. Itu jam paling efektif buat belajar. Yaudah. Hasilnya ternyata baik." "Terus kenapa lo suka gak masuk ke kelas?" "Buat apa?" Aku tertawa mendengar Dennis mengulang jawaban yang sama. Pria itu sepertinya sama sekali tak merasa perlu untuk sering berada di kelas. Aku pun tak bisa membantah sudut pandangnya itu. Nyatanya dia memang selalu menjadi juara kelas, bahkan memenangkan olimpiade. "Terus kenapa lo selalu tidur pas di sekolah?" tanyaku lagi. "Karena ngantuk." "Kenapa bisa ngantuk?" "Karena kurang tidur." "Kenapa bisa kurang tidur?" "Lo itu wartawan ya? Nanya mulu perasaan." Aku kembali tertawa melihat wajah kesal Dennis. Percakapan kami tadi memang selayaknya seorang wartawan dengan narasumbernya. "Yah maap. Gue kan cuma penasaran. Emang lo sibuk apa sih sampe ngantuk mulu gitu?" "Gue punya kegiatan abis pulang sekolah. Ada kerjaan lah." Aku mengangguk paham. Aku memutuskan untuk tidak menggali lebih dalam lagi. Aku tau Dennis sepertinya tidak ingin ditanya tentang kegiatan apa yang dia kerjakan selepas pulang sekolah. Bila ingin, dia pasti langsung menjawabnya secara terang-terangan. "Iya deh yang sibuk banget," candaku. "Lo mau sampai kapan di sini?" "Emang kenapa? Lo mau gue pergi?" "Orang nanya itu dijawab. Bukan dibales dengan pertanyaan lagi," protes Dennis. "Lah lo juga tadi kayak gitu! Ngejawab pertanyaan gue pake pertanyaan juga!" balasku dengan mata melotot, pura-pura marah. Dennis tertawa. Sepertinya pria itu menyadari kesalahannya. Ah, melihat dan mendengar suara tawanya sanggup membuat jantungku berdegup tak beraturan. Dennis tertawa! Aku mampu membuatnya tertawa! "Hahaha. Baiklah. Gue salah. Gue cuma nanya aja. Gak ada maksud buat ngusir lo. Lo mau berapa lama duduk di sini?" tanya Dennis lagi. Aku tersenyum. "Maybe sepuluh menit lagi. Lo?" "Yaudah. Gue juga sepuluh menit lagi." "Kenapa ikut-ikutan?!" "Gak boleh?" "Boleh kok." "Yaudah." Dennis kemudian memejamkan mata, lalu melanjutkan tidurnya. Sementara aku takjub melihat betapa cepat dan mudahnya pria itu jatuh tertidur dengan lelapnya. Aku menatap wajah Dennis yang kini tepat di sebelahku. Namun aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke layar ponsel. Aku pura-pura sibuk mendengarkan musik. Aku tak ingin Dennis menyadari betapa gugup sekaligus senangnya hatiku saat ini. Dennis ada di sebelahku! Dia tidur tepat di dekatku! Aku bahkan memiliki percakapan dengannya. Apakah sekarang aku bisa menyebutnya sebagai temanku? Ah, seandainya iya... aku akan senang dan bahagia setengah mati! CONTINUED *********************** Hai! ..^^.. Aku minta maaf baru bisa update sekarang. I think, ini udah 3 minggu sejak aku terakhir update bab 7. Maaf... buat kalian yang nunggu cerita ini update. Akhir-akhir ini aku memang sedang tidak memaksa diriku buat nulis secara konsisten. Aku menulis ketika aku ingin. Maaf ya ^^ Aku usahakan buat update lebih cepat dan rutin. Semangat buat kalian! Kalo capek, ingat istirahat. Kalo sedih, gak papa ambil waktu sendiri dan luapin kesedihan itu. Kalo terlalu banyak yang dipikirin... coba berhenti mikir dulu, kasih istirahat itu otak :"D Selamat istirahat buat kalian yang baca ini di malam hari. Jangan lupa doa sebelum tidur ^^ Sampai jumpa di bab berikutnya! Salam, Penulis amatir yang besok berencana mau masak nasi goreng ^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD