Aku menatap pantulan tubuhku di cermin. Seragam olah raga yang aku kenakan sungguh memantulkan sempurna betapa gembulnya tubuhku. Aku tak bisa menutupi perut buncit dan garis tubuhku yang tak berlekuk ini. Walau aku telah mengeluarkan baju dari dalam celana, itu tak menutupi sedikitpun perutku yang besar bak perempuan yang sedang hamil enam bulan. Tubuh gemuk ini memang terpampang nyata, tak bisa disamarkan, apalagi disembunyikan.
Aku kesal terhadap kenyataan pahit ini. Namun aku tak bisa menyalahkan siapapun. Ini tubuhku, bukan tubuh orang lain. Rasanya lucu bila aku memarahi orang lain karena beratku yang selalu bertambah. Aku hanya bisa kesal pada diriku sendiri. Namun tak ada yang bisa aku lakukan saat ini. Aku harus segera keluar dari toilet ini dan menghadapi realita. Dimana aku perempuan paling gemuk di kelasku.
Aku benar-benar malas ikut pelajaran olah raga. Aku tak menguasai satu pun jenis olah raga. Dengan kondisi tubuhku yang sekarang, kegiatan fisik yang bisa aku lakukan tentu terbatas. Bermain voli? Aku bahkan tak bisa mengejar bola dengan gesit. Bola itu selalu lebih cepat dan berakhir dengan tak bisa aku pukul. Tim lawan akan menjadikanku sasaran empuk untuk ditargetkan. Begitu pula dengan olah raga bulu tangkis. Nasibku pasti berakhir sama.
Basket? Aku tak bisa berlari cepat. Bagaimana aku bisa mengejar tim lawan yang sedang menggiring bola menuju ring? Paling aku hanya bisa menghalangi lawan yang sedang berhadapan denganku dengan menggunakan tubuh besar ini. Aku diinginkan menjadi lawan, bukan rekan satu tim. Aku akan menjadi alasan timku kalah. Begitu pula sebaliknya, aku juga akan menjadi alasan tim lawanku menang. Semua karena aku. Penyebabnya pasti karna aku, si babon yang mencoba untuk berolah raga.
Karena itu, aku benci pelajaran olah raga. Aku benci semua kegiatan fisik. Aku pasti hanya berakhir menjadi tersangka kekalahan timku. Bila akhirnya bukan adegan itu, paling aku akan berakhir menjadi bahan lelucon. Bak badut yang sedang berlaga di depan penonton. Semua gerakanku pasti akan memancing tawa dan olokan.
"Bon, ayo ke lapangan. Pak Danto udah nyuruh ngumpul di sana."
Aku mengangguk sambil tersenyum ke arah Jeli. Kemudian segera bergegas menuju lapangan bola yang terletak di belakang sekolah. Semua teman-teman sekelasku sudah ada di sana. Mereka tampak sedang bercanda dan ada beberapa yang bermain kejar-kejaran dengan berlari. Aku memilih melipir ke barisan paling belakang. Berusaha menghindari sorotan perhatian, meskipun itu sulit. Karena aku pasti selalu dicari bila ada celah untuk menjadi bahan lelucon dan ledekan. Bak sebuah nasib yang mustahil untuk aku hindari.
"Baik anak-anak! Perhatian semuanya! Pelajaran akan segera kita mulai!" teriak Pak Danto.
Seketika suasana menjadi hening. Anak-anak yang sedang berlari langsung menghentikan langkahnya dan mulai berbaris. Begitu pula yang sedang mengobrol, mereka dengan patuh langsung berhenti berbincang dan mulai mengarahkan pandangannya ke depan. Pak Danto memang terkenal keras dan galak. Ada yang tak fokus dalam pelajarannya itu sama saja mencari penyakit. Guru itu tak akan segan-segan memberikan hukuman fisik.
"Kita mulai pemanasan dulu ya! Dian kamu pimpin pemanasan hari ini!" perintah Pak Danto.
Dian langsung maju ke depan dan memimpin jalannya pemanasan. Semua anak mengikuti semua gerakan yang dicontohkan Dian, termasuk aku. Walaupun sulit, aku berusaha melakukan semua gerakan pemanasan semampuku. Dengan tubuh sebesar ini, gerakan keseimbangan adalah hal paling sulit untuk dilakukan. Aku kepayahan tetap berdiri dengan satu kaki. Setelah beberapa detik pasti aku akan jatuh.
"Liat tuh... si babon oleng hahaha."
"Udah diem aja, Bon. Gue gak mau Bumi bergoncang gara-gara lo! Hahaha."
"Pantesan aja gue ngerasain getaran. Gue pikir gempa... eh ternyata gara-gara si babon toh!"
Aku hanya melirik kesal ke arah mereka yang meledekku. Aku memilih diam daripada harus membalas. Aku hanya akan semakin menjadi bahan olokan mereka bila membela diri, apalagi membalas. Aku hanya ingin tak menjadi sorotan. Itu sudah cukup. Namun seberusaha apapun aku menghindari perhatian, tetap saja aku berakhir menjadi bahan lawakan.
Setelah sepuluh menit pemanasan, Dian berhenti dan kembali ke posisi barisannya. Pak Danto mulai mengambil alih komando. Dia kembali berdiri ke depan. Menatap selama beberapa detik dan suasa kembali hening. Tatapan tajam Pak Danto memang mampu membuat siapa pun terdiam dalam ketakutan.
"Oke. Hari ini kita akan ujian lari. Kalian keliling lapangan bola sebanyak 5 kali. Batas waktunya dua puluh menit."
Aku tak percaya dengan perintah yang baru saja terucap dari bibir Pak Danto. Aku hanya menatap guru itu dengan mata terbelalak dan raut wajah penuh keterkejutan. Bagiku perintah itu bagai malapetaka di siang bolong. Berlari saja aku kepayahan. Apalagi berlari mengelilingi lapangan bola. Lima kali pula! Ini gila!
Teman-temanku yang lainnya tentu mengeluarkan suara keluhan. Namun keluhan yang paling keras tentu saja disuarakan olehku. Bedanya, aku berteriak di dalam hati. Aku benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana bisa berlari sebanyak itu hanya dalam waktu dua puluh menit. Rasanya aku ingin akting pingsan atau terkena penyakit dadakan, sehingga bisa kabur dalam situasi ini. Namun itu mustahil aku lakukan. Aktingku payah. Aku pasti akan ketauan. Aku hanya bisa menghentakan kaki dengan raut wajah frustasi.
"Semuanya bersiap!" Aku berjalan menuju garis yang telah ditentukan sebagai garis start. Aku memilih berdiri di barisan paling belakang. Aku tetap akan menjadi paling lambat menyelesaikan ujian lari ini meski aku berada di barisan depan. Jadi sama saja. Tak ada bedanya aku berada di barisan manapun.
"Mulai!"
Semua orang mulai berlari ketika Pak Danto telah meneriakan aba-aba mulai. Aku juga mulai melangkahkan kaki untuk berlari. Nafasku mulai terengah-engah. Padahal aku baru mulai berlari sepuluh menit. Aku sudah kepayahan mengikuti langkah kaki teman-temanku.
Jarak langkahku dengan mereka semakin lama semakin jauh. Aku bahkan sudah tidak tau lagi mereka sudah berapa kali putaran. Aku hanya tau untuk menyelesaikan satu putaran saja benar-benar sangat sulit. Rasanya aku benar-benar seperti mau mati. Detak jantungku rasanya seperti mau meledak. Aku mulai tak bisa mengatur nafas.
Pada akhirnya aku mulai menghentikan langkah lariku. Aku mulai berjalan pelan sambil berusaha mengatur nafas. Keringat sudah mengucur begitu deras hingga membuat seluruh bajuku basah. Aku sangat lelah. Rasanya seperti sudah tak kuat lagi melangkah. Namun aku tak bisa berhenti. Aku harus menyelesaikan lima putaran, meski berat.
"Babon lari dong!" teriak Doni.
"Kalo gak kuat, gelinding aja. Lebih cepet. Hahaha," timpal Marco.
Aku melirik kesal ke arah dua laki-laki yang kini di sampingku. Mereka sengaja memperlambat langkah lari mereka hanya untuk meledek diriku. Kemudian tertawa terbahak-bahak meski aku hanya diam dengan raut wajah kesal. Seolah situasi kelelahanku sekarang adalah hiburan bagi mereka. Mungkin di mata mereka ini lucu. Anak perempuan bertubuh gemuk yang sedang kepayahan berlari.
Aku berusaha mengabaikan suara tawa dan wajah-wajah yang meledek diriku, meski itu sulit. Aku tau pasti menggelikan bagi mereka untuk melihat gumpalan lemak bergoyang ketika aku melangkah. Namun tak ada yang bisa aku lakukan. Kondisi tubuhku memang begini. Mengapa mereka tak bisa melihat melalui sudut pandangku? Ini sulit. Aku benar-benar kelelahan. Aku tak mengerti kenapa wajah kelelahan ini justru tampak lucu.
Aku mulai mempercepat langkah kakiku. Aku melihat sudah banyak teman-temanku yang telah menyelesaikan lima putaran. Seingatku, aku baru menyelesaikan tiga putaran. Rasanya sangat sulit mengejar kecepatan mereka, bahkan mustahil. Namun aku tak bisa menyerah dan berhenti melangkah. Aku akan tampak semakin payah bila langsung menyerah tanpa memberikan usaha terbaik.
"Bon! Udahan aja! Ntar lo mati pula lari terus!" teriak Agus.
"Biarin aja, Gus. Lumayan ngeliat beruang lari-lari. Hahaha," timpal Ferdi.
"Masalahnya kalo dia pingsan, gak ada yang mampu gotong! Lo mau ngegotong dia apa?" balas Agus.
"Dih! Ogah! Bisa patah tangan gue!" seru Ferdi.
Aku mendengarnya. Kalimat-kalimat menyakitkan itu masuk ke dalam jangkauan pendengaranku. Namun aku tak bisa memikirkannya terlalu serius. Aku hanya ingin segera menyelesaikan ujian lari ini. Kakiku benar-benar telah mencapai ambang batas kekuatannya. Aku mungkin benar-benar akan pingsna seperti yang dikatakan Agus.
"BONITA! BERHENTI! WAKTU SUDAH HABIS!" teriak Pak Danto.
Aku menghela nafas lega. Kemudian menjatuhkan tubuhku yang kelelahan ini ke tanah. Aku sudah tak peduli lagi betapaa kotornya tanah berumput ini. Aku hanya ingin berbaring. Mengistirahatkan kaki dan mengatur pernafasanku.
"Sekarang kalian bisa kembali ke kelas. Ganti seragam dan istirahat!" perintah Pak Danto.
Aku masih berbaring di tanah selama beberapa saat, meski satu per satu teman-temanku telah meninggalkan lapangan. Rasanya aku masih belum sanggup bangkit berdiri, apalagi berjalan.
"Bon! Buruan! Lo mau sampe kapan tiduran di situ!" teriak Sara.
"Udah biarin aja. Paus terdampar ya begitu. Susah diangkut. Hahaha," timpal Rani.
Aku masih diam. Aku membiarkan mereka tertawa dan berjalan pergi melewatiku. Detik ini aku ingin sendirian. Aku hanya ingin mereka membiarkanku.
Aku memejamkan mata, menutup wajah dengan lenganku. Perlahan air mataku jatuh. Aku menangis tanpa mengeluarkan suara.
Hatiku terasa lelah. Bukan hanya karena ragaku yang kehabisan tenaga, tapi juga aku mulai tak sanggup lagi menahan hinaan yang berbalut candaan itu. Aku punya hati. Aku juga manusia. Aku tak mengerti kenapa mereka melupakan hal itu?
Apakah tampilanku seperti bukan manusia dan tak memiliki hati? Apakah di mata mereka aku hanya segumpalan lemak yang hidup dan bisa berjalan?
Tak taukah mereka bila ini menyakitkan? Kata-kata yang mereka anggap bercandaan itu sangat menusuk hatiku begitu dalam. Ah... mungkin itu karena bentuk tubuh mereka tak sebesar bentuk tubuhku. Karena itu mereka tak paham apa yang aku rasakan.
Aku hanya bisa menumpahkan semua rasa sakit itu lewat tangisan.
CONTINUED
******************
Ada yang bisa ngerasain apa yang Bonita rasakan?
Bila iya, kamu memiliki hati yang baik. Mau berusaha menyelami apa yang dirasakan orang laindan berempati akan hal itu.
Ada banyak orang yang gak mau capek2 mikirin perbuatan dan perkataan mereka itu akan menyakiti orang lain atau tidak. Karena memahami sudut pandang orang lain, bukanlah pekerjaan yang mudah. Itu sulit dan terkadang melelahkan. Kita lebih sering mementingkan perasaan kita sendiri. Egois.
Sekalipun sadar sikap dan perkataannya menyakiti orang lain... tak semua orang mau meminta maaf, apalagi merasa bersalah. Secara refleks beberapa orang akan mencari pembenaran agar dirinya tak tampak jahat.
Beberapa orang tak tau rasa sakitnya dipukul, karna mereka tak pernah dipukul. Mereka tidak tau itu sakit, sampai mereka merasakannya sendiri.
Bila kamu diposisi ini... kamu berhak bahagia. Buat dirimu bahagia. Temukan cara bahagia.
Tidak apa-apa menangis, tapi harus ingat untuk kapan harus berhenti menangis. Karena kamu berhak bahagia, apapun situasi buruk yang dihadapi hari ini dan di masa depan.
Semangat! Sampai jumpa di bab berikutnya! ^^
Salam,
Penulis Amatir