“Guys! Pak Beno gak masuk hari ini! Kita cuma dikasih tugas doang!” seru Ikbal.
Suasana kelas seketika langsung menjadi riuh. Teman-teman sekelasku bersorak kegirangan. Aku bisa menebak isi kepala mereka saat ini. Mereka membayangkan kebebasan. Tak ada guru sama saja tak ada yang mengawasi. Bisa berbuat sesuka hati tanpa ada yang memarahi. Berbincang dengan volume keras tanpa takut ditegur. Semua terlihat senang dengan kondisi ini, kecuali aku. Bagiku itu sama saja. Baik ada guru maupun tidak. Aku tetap akan menyendiri.
Ditengah suara bising, aku mencoba mendengarkan penerangan Ikbal tentang tugas sosiologi yang harus dikerjakan. Teman-temanku tampaknya tak terlalu tertarik dengan isi tugas itu. Mereka juga terlihat tak memiliki niat untuk mengerjakannya. Namun aku tak ingin seperti mereka. Lebih baik mengerjakan tugas itu daripada menerima amukan amarah Pak Beno.
Lagipula ternyata tugasnya tak begitu sulit. Hanya ada lima soal yang harus dijawab. Tak ada aturan tidak boleh membuka buku. Aku bisa menyelesaikan semua soal itu hanya dalam waktu sepuluh menit. Teman-temanku memilih asik berbincang dan bermain, sementara aku bergegas mengerjakannya. Setelah selesai, aku melirik ke arah jam dinding. Masih ada empat puluh menit waktu yang tersisa sebelum pelajaran berikutnya.
Aku mengambil ponsel dan earphone dari dalam tas. Kemudian berjalan pergi meninggalkan kelas. Aku ingin membaca buku di perpusatakaan sambil mendengarkan musik. Ada beberapa koleksi novel di sana yang ingin aku baca. Pasti menyenangkan menghabiskan waktu sendiri sambil membaca dan mendengarkan lantunan musik.
Aku menyapa Mas Arken, penjaga perpustakaan. Pria itu membalas senyuman dan sapaan ramahku. Dia memang terkenal ramah pada siapapun. Aku kemudian berjalan menuju rak yang memang berisi koleksi novel fiksi remaja. Setelah menemukan buku yang diinginkan, aku mencari posisi duduk yang enak untuk diduduki. Namun mataku justru terbelalak menatap pemandangan yang kini tersaji di hadapanku. Aku terkejut hingga menahan nafas selama beberapa detik.
Dennis, laki-laki itu ternyata sedang tertidur dalam posisi duduknya. Aku tak menyangka bisa melihat Dennis saat ini. Sebuah kejadian yang tak aku duga dan tak diharapkan sebelumnya. Aku tentu menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan. Hadiah dari semesta yang begitu menyenangkan. Aku bisa melihat Dennis dari dekat dan waktu yang cukup lama. Empat puluh menit... cukup lama bukan?
Aku memilih meja di sebelah Dennis. Gerakanku sengaja setenang mungkin. Aku tak ingin membangunkan laki-laki itu dari tidurnya. Aku ingin dia tetap tenang dalam tidurnya. Aku tak ingin mengusiknya, apalagi membangunkannya.
Aku memasang earphone, menyetel lagu romantis, lalu pura-pura membaca buku. Namun sebetulnya mataku tak menatap lembaran kertas buku yang sedang aku pegang. Bola mataku secara otomatis melirik ke arah samping. Menatap kagum laki-laki yang wajah tidurnya ke arahku itu.
Bibirku tersenyum kala melihat wajah tidur Dennis. Hatiku terasa damai kala melihat betapa pulasnya tidur laki-laki itu. Seakan dia sedang beristirahat dari kacaunya dunia. Ah... kalimat yang sebelumnya mungkin hanya khayalanku saja. Aku sebenarnya tak tau apa-apa tentang Dennis. Bagaimana ia menjalani hari-harinya. Bagaimana pola pikirnya tentang sesuatu hal. Seberapa banyak aktivitas kesibukan yang ia lalui. Aku tak tau apa-apa.
Aku hanya tau ia anak pemilik yayasan sekolah. Keluarganya termasuk kaya. Selain memiliki sekolah dan universitas, ada beberapa jenis bisnis yang dikelola keluarganya. Salah satunya penerbitan dan percetakan. Mungkin karena status sosial ekonominya, Dennis tampak begitu santai tidur dimanapun dan kapan saja. Yah, itu hanya tebakanku. Aku sebenarnya tak tau apa-apa.
Selama ini aku hanya mengagumi Dennis dari jauh. Tak pernah saling menatap, apalagi saling berbincang. Menatap wajahnya yang kini masih pulas tertidur membuat khayalanku melayang-layang liar. Anganku berimajinasi begitu hebat. Layaknya sebuah dongeng yang sedang tayang di dalam kepalaku.
Aku membayangkan bisa akrab dengan Dennis. Melakukan percakapan-percakapan intim dan romantis dengan laki-laki itu. Begitu dekat, hingga orang-orang akan mengira kami sepasang kekasih. Aku berimajinasi bagaimana rasanya berjalan berdua dengan laki-laki itu. Melangkah berdampingan bak dua insan yang tak merasa asing. Melakukan sentuhan fisik kecil yang sanggup membuat wajahku tersipu malu. Lamunan imajinasi itu begitu indah, hingga rasanya aku rela hidup dalam dunia semu itu.
Aku langsung memalingkan wajah ketika menyadari Dennis mulai bergerak. Laki-laki itu tampak telah terbangun dari lelap tidurnya. Aku menutupi wajah dengan buku novel yang saat ini masih ku pegang. Aku mulai pura-pura membaca buku, padahal tak ada satupun kata di lembaran kertas itu yang sanggup ditangkap oleh mataku. Aku begitu gugup dengan jantung yang berdetak begitu cepat. Entah karna perasaanku atau karna ketakutan Dennis mengetahui aku telah menatapnya sedari lama.
Aku tak berani menoleh ke arah laki-laki itu. Aku pura-pura acuh, padahal tidak. Telingaku berusaha menangkap setiap suara yang Dennis timbulkan. Berusaha menerka gerakan yang sedang dilakukannya. Aku begitu gugup hingga menahan nafas selama beberapa saat.
Aku melirik sekilas ke arah Dennis. Mungkin hanya beberapa detik. Laki-laki itu tampak sedang menggosok matanya dengan mulut yang menguap lebar. Aku kembali melanjutkan akting membaca buku. Aku tak ingin tertangkap basah sedang menatapnya. Tidak. Aku tak ingin ketahuan. Aku tak akan sanggup menahan rasa malu karna ketahuan diam-diam menyukai seseorang. Apalagi bila ketahuan Dennis. Aku benar-benar tak akan sanggup.
Aku sedikit menghela nafas lega ketika Dennis ternyata bangkit berdiri dan hendak beranjak pergi. Diam-diam aku menatap Dennis yang telah berjalan meninggalkan perpustakaan. Aku menatap punggungnya yang perlahan menjauh dari jangkauan mataku. Aku memandangi Dennis hingga laki-laki itu benar-benar telah keluar perpustakaan dan tak lagi bisa ditangkap sosoknya oleh mataku.
Aku meletakan buku novelku. Kemudian menutupi wajahku dengan tangan. Pipiku memanas dengan jantung yang masih saja berdebar. Ini kali pertama aku merasakan pengalaman romansa, meski singkat dan hanya sepihak. Aku baru tau bila menatap diam-diam itu bisa menjadi hal yang begitu mendebarkan. Rasanya begitu menyenangkan walau masih bertepuk sebelah tangan.
Ah, mungkin memang kodrat manusia itu serakah. Aku mulai menginginkan lebih. Tidak hanya sekedar menatap diam-diam dan mengagumi dalam persembunyian. Aku ingin imajinasiku tadi menjadi sebuah mimpi yang berubah menjadi nyata. Aku mau menjadikan dia yang semula hanya angan menjadi benar-benar milikku.
Namun mungkinkah?
Sebuah pertanyaan bodoh yang aku tau jawabannya. Tentu saja tidak. Dennis tak akan mungkin menyukaiku.
“Sadar Bonita! Sadar! Liat badan lo yang bentukannya kayak karung jumbo!” gumamku dalam hati.
Aku membenturkan pelan kepalaku ke meja dengan mata terpejam. Berharap otak ini segera sadar dari lamunan gila yang sedari tadi aku bangun.
Manusia hidup dalam dunia nyata. Bukan dunia mimpi, apalagi dongeng tak masuk akal. Aku harus segera menyingkirkan keserakahan ini. Angan yang tak akan terwujud hanya akan membuatku berkubang dalam luka yang menyakitkan. Lebih baik tersadar karna kenyataan yang menyakitkan, daripada disadarkan imajinasi yang tak tergapai.
CONTINUED
****************
Hai
Gimana kabar kalian?
Berharap kalian happy ya!
Oh ya, kalian ada gak yang seperti Bonita?
Lebih suka menyendiri dan enggan mudah membuka diri dengan orang lain?
Takut berharap atau membuka hati dengan siapapun.
Sebenarnya itu hanya upaya agar melindungi diri dari rasa sakit.
Karena itu takut menerima atau mempercayai seseorang.
Tidak apa-apa. Setiap orang punya caranya masing-masing untuk melindungi diri dari rasa sakit :)
Bila ada yang kayak Bonita dan malu buat ngisi kolom komentar, terus mau sharing... DM aja. Nanti aku baca dan komen Sebisa mungkin.
Happy weekend!
See you in next chapter!
Salam,
Penulis amatir yang lagi mikir entar malam mau makan apa dan dimana