4. Rasa Dalam Diam

2149 Words
Ketika bel istirahat berbunyi, aku langsung membereskan buku-buku pelajaran. Kebiasaanku ini memang berbeda dengan teman-temanku lainnya. Mereka tampak langsung bergegas keluar kelas dan membiarkan mejanya berantakan. Mungkin karena terlalu antusias untuk segera pergi ke kantin atau sekedar bercengkrama dengan teman satu kelompoknya. Sementara aku? Aku tak perlu setergesa itu. Tak ada yang menungguku. Tak ada yang menarik tanganku untuk segera bergegas pergi ke kantin. Lagipula aku juga bukan anggota grup pertemanan manapun. Tak akan ada orang yang menginginkanku untuk segera keluar dari kelas untuk bermain bersama. Biasanya aku membawa kotak bekal makanan yang disiapkan Bibi di rumah. Aku akan memakannya di dalam kelas, lalu menghabiskan waktu sendirian sambil bermain ponsel hingga bel tanda istirahat habis berbunyi. Aku memang lebih suka menghabiskan waktu istirahat seperti itu. Dalam ketenangan dan tanpa kehadiran orang banyak yang sering kali hanya senang meledek kondisi tubuhku. Namun kali ini aku harus pergi ke kantin. Tadi pagi aku terlambat bangun dan lupa mengingatkan Bibi untuk menyiapkan bekal makan siangku. Karena itu aku harus membelinya dan menghabiskan waktu makan siang di kantin. Yah... meski mau dimana pun aku makan, tetap saja aku akan sendirian. Aku memang lebih menyukai makan dalam keheningan dan kesendirian. "Bon! Ayo ke kantin!" Aku cukup kaget dengan kemunculan dan ajakan Renata yang terasa mendadak itu. Renata biasanya lebih banyak menghabiskan waktu makan siang bersama gebetan atau teman laki-lakinya. Dia jarang mengajakku untuk makan siang bersama, meskipun kami berteman. "Tumben," balasku sambil memicingkan mata. Rasanya lebih seru makan bersama pria lain, dibandingkan harus menghabiskan waktu bersamaku. Tentu saja aku menjadi curiga dengan niatnya itu. "Ada yang mau gue ceritain," jawab Renata. Sudah ku duga. Hanya itu alasan Renata mengajakku makan siang bersama, hanya sebagai pendengar ceritanya. Tidak ada yang salah dengan hal itu memang. Aku hanya tak mempercayai bila motivasi Renata datang murni hanya untuk menghabiskan waktu makan siang denganku. "Kali ini tentang cowok yang mana?" Aku menatap heran kelakuan sahabatku itu. Renata hanya tertawa cekikikan mendengar pertanyaanku. Baginya ekspresi keherananku mungkin terasa lucu. Padahal aku memang benar-benar heran. Renata seakan tak kehabisan stok cerita bila tentang pria. Bahkan seringkali cerita tersebut dengan tokoh pria yang berbeda. "Sssst! Nanti aja gue ceritanya. Pas sambil makan. Jangan di sini. Gak asik ah." "Yaudah ayo ke kantin. Gue dengerin semua cerita lo yang membosankan itu." Aku bergegas memasukan buku terakhir ke dalam tas. Kemudian menarik tangan Renata untuk segera mengikuti langkah kakiku. "Enak aja ngebosenin! Lo aja yang gak pernah rasain apa yang gue rasain. Coba kalo udah, pasti lo tau betapa serunya kisah romansa itu," gerutu Renata. Aku cukup kesal sebenarnya mendengar ucapan Renata itu. Rasa kesal semakin bertambah kala ucapan itu tak bisa aku sanggah sama sekali. Aku memang belum pernah punya kisah cinta dengan siapapun. Tak ada pria yang tertarik denganku. Kisah romansa yang ku punya hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan atau cerita menyukai dalam diam. Itu bahkan tak layak disebut kisah cinta. Pemerannya hanya aku, tak ada lawan main. Benar-benar menyedihkan! Aku membiarkan Renata merangkul lenganku ketika sedang berjalan bersama. Sahabatku itu tak henti-hentinya berceloteh tentang kehidupan kelasnya yang terasa membosankan. Renata memang tak terlalu suka belajar. Dia lebih memilih menyibukan diri dengan kehidupan di luar sekolah. Baginya kegiatan model lebih menarik daripada duduk di kelas dan belajar. Ah... dan tentu saja kegiatan lainnya yang menarik adalah pacaran. Aku sebetulnya tak terlalu suka berjalan bersandingan seperti ini dengan Renata. Persis berdampingan. Perbedaan ukuran tubuh kami terlihat sangat kontras bedanya. Bak seperti angka satu dan angka nol yang bersanding menjadi angka sepuluh. Tubuhku akan semakin tampak bulat di samping Renata yang memiliki lekuk tubuh yang sempurna. Namun aku tak mungkin mengusir Renata untuk tak berjalan di sampingku. Dia sahabatku. Satu-satunya teman yang mau menarik tanganku untuk berjalan bersama ke kantin. "Bon... duduk di sana yuk." Renata menunjuk bangku kantin di pojok ruangan. Tempat itu memang dirasa cukup nyaman untuk mereka berbincang sambil makan siang. Aku mengangguk setuju, lalu berjalan menuju tempat duduk yang ditunjuk oleh Renata tadi. "Lo mau makan apa?" tanyaku. "Ehm... gue kayaknya mau pesen gado-gado deh. Itu gak terlalu banyak kalori." "Gak sekalian lo pesen pecel aja. Jadi bener-bener kayak salad kacang," balasku, heran. Renata memang terlalu menjaga asupan kalori makanannya. Mungkin karna itu badannya sekurus gitar spanyol. "Tadi pagi gue udah sarapan salad. Masa makan pecel sayur lagi. Gado-gado aja lah. Biar ada lontong, tahu, dan tempe." Aku tidak tau siapa yang aneh. Renata atau aku. Bagaimana mungkin itu semua disebut makanan. Aku bahkan merasa Renata mulai seperti kambing. Setiap hari hanya memakan sayuran. Dia bahkan hampir bisa disebut seorang vegetarian. "Yaudah. Gue aja yang beli makanan. Lo jaga tempat di sini. Awas aja pas balik, bangku gue malah didudukin cowok!" ancamku. Renata terlalu cantik dan populer. Ada bangku kosong dihadapannya, pasti akan ada yang langsung menempatinya. Seolah tempat duduk itu bak sebuah tiket peluang untuk mendekati Ren ata. Aku bukannya tidak suka Renata berdekatan dengan pria. Aku hanya tidak ingin berakhir menjadi nyamuk diantara Renata dan pria lain. Karena itu aku harus memberikan peringatan ke sahabatku itu. Aku tidak ingin kursi milikku diduduki oleh orang lain. "Baiklah. Paham gue. Paham. Yaudah sana beli makan. Gue udah mulai laper," keluh Renata. Aku akhirnya mulai beranjak pergi menuju tukang gado-gado. Memesan makanan Renata, lalu beralih ke penjual pecel ayam yang ada di sebelahnya. Kemudian memesan segelas jus alpukat untuk diriku sendiri dan sebotol air mineral untuk Renata. Setelah membeli semua makanan itu, aku kembali ke meja makan, tempat dimana Renata telah menungguku. "Ini makanan lo." Aku duduk, lalu memberikan pesanan makanan milik sahabatnya itu. "Makasih Bonita!" seru Renata dengan senyum lebarnya. "Ehmm..." "Lo inget Leo gak?" Aku hanya menggelengkan kepalaku. Bagaimana mungkin aku bisa menghafal semua cerita pria yang dekat dengan sahabatku itu. Jumlahnya saja tak bisa aku hitung sudah berapa banyak. Apalagi setiap kisahnya. Memori otakku tak sebanyak itu untuk mengingat kisah sebanyak itu. "Itu lho... cowok yang gue kenal pas ikut festival fashion di Semanggi. Dia panitia acara itu. Lo gak inget?" tanya Renata lagi. Aku kembali menggelengkan kepala. Aku tetap melanjutkan menyantap makananku sambil sesekali menyeruput jus alpukat. Perutku benar-benar lapar. "Bon! Lo dengerin gue gak sih?!" Renata mulai tampak kesal. Aku menghentikan sejenak aktivitas makanku, lalu membalas tatapan mata Renata. "Gue dengerin kok, Ren. Kan kuping gue tetep bisa denger walau gue lagi makan." "Yah respon dong. Jangan cuma geleng-geleng kepala aja. Gue lagi butuh didengerin nih!" protes Renata. "Gue laper, Ren. Cerita ya cerita aja. Gue dengerin kok. Lagian emang gue gak inget. Kan lo cerita cowok tuh banyak banget. Jadi Leo itu kenapa?" Aku kembali menyantap ayam pecelku itu, tapi kali ini sambil menatap Renata sesekali. Aku sedang malas bertengkar karna hal sepele. "Dia kayaknya punya pacar deh. Ada cewek yang konsisten like postingan foto Instagramnya. Terus rajin komen gitu." "Cuma gara-gara itu doang lo ngira dia punya pacar?" Aku menyeruput jus alpukatku sambil menatap heran ke arah Renata. Aku pikir ada alasan berbobot lainnya dibalik sikap uring-uringan sahabatku itu. "Itu aneh Bonita! Gak semua cewek rajin like dan komen tiap postingan cowok, kecuali itu pacarnya. Kalo cuma sebatas teman atau sekedar suka aja, pasti gengsilah muncul di setiap postingan begitu. Gue yakin pasti ada sesuatu!" Mata Renata sedikit menyipit dengan gurat penuh keyakinan. Aku bisa melihat sedikit kecemburuan pada raut wajah dan nada bicara Renata. Namun aku tak percaya bila gadis itu benar-benar mencintai pria itu. Aku merasa pria ini tak seistimewa itu untuk menerima perasaan dan kesetiaan seorang Renata. Bukan karna pria itu jelek, tapi Renata terlalu banyak diperhadapkan dengan pilihan. "Yaudahlah. Kalo dia punya pacar kenapa? Kan stock cowok lo banyak. Tinggal ganti aja," ucapku. "Gak bisa gitu, Bon! Enak aja gue yang dipermainin. Gak bisa!" Aku geleng-geleng kepala dengan tatapan heran. Aku tak mengerti kenapa rumit sekali jalan pikiran Renata. Dia cantik, langsing, dan populer. Sahabatku itu tak akan sulit menemukan pengganti pria bila menginginkannya. "Yaudah. Buruan makan tuh gado-gado lo. Udah berair banget gue liat itu." Renata menuruti perkataanku. Dia mulai menyantap makanannya, meski mulutnya masih tampak menggerutu tentang pria bernama Leo itu. Setidaknya sekarang aku tak terlalu merasa bersalah bila fokus menyantap makananku. Karena Renata sudah ikut menikmati gado-gado dan menyeruput air mineral miliknya. Sesekali aku menatap mata sahabatku itu, agar dia percaya bahwa aku masih mendengarkan ceritanya. Padahal tidak. Perutku benar-benar lapar. Aku tidak sempat sarapan tadi pagi. Karena bangun kesiangan, aku hanya bisa menyantap sepotong roti dan satu kotak s**u cokelat. Iya, roti tidak masuk hitungan sarapan untukku. Itu hanya cemilan yang mampu membuatku menunda lapar selama dua jam. Aku tak menyebut dua benda makanan itu sebagai sarapan yang layak untuk tubuhku. "Hai, Ren." Aku menoleh saat ada seorang laki-laki duduk di sebelah Renata. Aku tentu mengenal pria itu. Renata pernah menceritakannya. Joshua, kapten basket sekolah kami. Pria itu memang sedari dulu begitu menyukai Renata dan tak kenal kata menyerah. Aku menyeruput jus alpukatku sambil menatap interaksi mereka berdua. "Aku lagi pengen sendiri." Renata terkesan ketus menanggapi Joshua. Renata mengunyah gado-gadonya tanpa menoleh ke arah pria yang ada di sebelahnya itu. "Sendiri? Lah ini ada si babon. Itu artinya lo gak sendiri dong." Aku menatap kesal Joshua. Sedari tadi aku diam. Tak mengusik pria itu. Aku tak mengerti kenapa Joshua masih sempat-sempatnya meledekku saat ini. Namun aku memilih diam dan hanya menatap tajam tanpa senyuman ke pria itu. Aku tak ingin membuat keributan dan merusak mood makan siangku. "Itu artinya... gue lagi gak pengen diganggu sama lo, Jos!" tegas Renata. Joshua tertawa. Tak ada tanda-tanda tersinggung dari raut wajah pria itu. "Cuma aku pengen. Gimana dong. Nanti jalan yuk." Renata mendengus kesal. Aku tau sahabatku itu tak pernah tertarik dengan Joshua. Renata seringkali mengeluhkan tingkah Joshua yang tak berhenti mendekatinya. Renata selalu merasa terganggu setiap kali pria itu ada didekatnya. Aku hanya geleng-geleng kepala menatap interaksi mereka. Tak melerai, apalagi ikut campur di dalamnya. Aku tak tertarik terlibat masuk ke dalam kisah romansa sahabatku itu. Lagipula Renata tampak bisa mengatasi Joshua. Dia tak membutuhkan bantuanku. Aku kembali meminum jus alpukatku dan mengabaikan perdebatan yang masih berlangsung di hadapanku. Sembari terus menyeruput minumanku, tiba-tiba mataku terarah ke sudut kantin. Aku tersenyum kecil menatap sosok yang tertangkap di mataku. Tanpa sadar aku menatapnya selama beberapa saat. Dennis Pramono, laki-laki itu sudah sedari lama menarik perhatianku. Aku mengaguminya diam-diam. Tak ada yang tau, termasuk Renata. Aku tak berani menceritakannya, apalagi mengungkapkan perasaan itu. Aku tak segila itu. Tidak. Aku tak akan mungkin sanggup melakukan itu. Rasanya sudah cukup menatap laki-laki itu dengan jarak seperti ini. Diam-diam. Aku cukup sadar diri. Dennis tak akan menyukai perempuan dengan bentukan seperti diriku ini. Ada banyak wanita yang bisa menarik perhatiannya. Aku tak menemukan alasan istimewa kenapa Dia harus memilihku diantara perempuan yang lainnya. Aku cukup puas memandangi dan mengagumi dari jauh. Dennis, memang selalu menghabiskan waktu makan siangnya sendirian. Aku tak pernah melihatnya makan dengan orang lain selama di sekolah. Aku selalu menemukan laki-laki itu dalam kesendiriannya. Entah bila itu di kantin, perpustakaan, atau di kelasnya. Kelas Dennis memang terletak di sebelah kelasku. Aku pasti melewati kelasnya bila ingin ke kelasku. Mataku tak pernah tak melirik ke arah kelasnya. Bola mataku secara otomatis selalu mencari keberadaan sosoknya. Termasuk saat ini, mataku secara refleks menatap laki-laki itu. Dennis tampak begitu menikmati makanannya sambil menatap layar ponselnya dan memakai earphone. Seolah kesendirian adalah kenikmatan baginya. Mungkin karena itu aku menyukainya. Dennis sama seperti diriku. Suka menyendiri. Tak banyak berbicara dan tak tertarik berinteraksi dengan banyak orang. Selain itu, yah... wajahnya cukup manis menurutku. Bahkan bisa dibilang tampan. Walaupun rupanya seperti itu, tapi aku tak pernah menemukannya mendekati berbagai wanita. Aku bahkan tak pernah menangkapnya dekat dengan wanita selama di sekolah. Namun kekaguman ini tentu saja aku simpan sendiri. Aku tak berani mengungkapnya, termasuk ke Renata. Sahabatku itu pasti mentertawakan dan meledekku. Tidak. Aku tak ingin digoda olehnya. Rasanya pasti memalukan bila isi hatiku ini tersingkap. Aku mungkin tak bisa menyembunyikan rona merah di pipiku. Renata pasti tertawa terpingkal-pingkal bila melihatku yang salah tingkah. "Bon!" Aku terkaget ketika mendengar teriakan Renata. "Apaan sih?! Ngagetin aja," protesku. "Yah lo bisa-bisanya ngelamun sambil makan. Aneh lo!" balas Renata. "Ngelamun jorok kali," timpal Leo asal. Aku melirik kesal ke arah Leo. "Sembarangan lo!" "Balik ke kelas yuk, Bon. Lo udah kelar makan, kan?" Sebetulnya masih ada sedikit sisa nasi dan potongan ayam yang belum aku habiskan. Namun aku tau Renata. Sahabatku itu tidak akan mau menungguku menghabiskan makanan ini. Dia pasti akan mengeluarkan keluhan. Aku juga tak akan tenang makan. "Udah kok. Yaudah yuk balik," jawabku. "Kok udah kelar sih sayang. Aku kan masih pengen bareng kamu di sini," rengek Leo. Renata menepuk kening Leo hingga pria itu kembali dalam posisi duduknya. "Lo di sini! Gue balik ke kelas. Jangan ngikutin gue!" Aku tertawa melihat wajah Leo yang cemberut. Renata memang cukup kejam terhadap pria yang ia tidak suka. Aku akhirnya mengikuti langkah Renata untuk pergi meninggalkan kantin. Namun sebelum langkahku lebih jauh, sekali lagi aku melirik ke arah Dennis. Aku tersenyum ketika melihat laki-laki itu masih sibuk dengan makanan dan asik sendiri dengan layar ponselnya. CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD