"Hai, Ma." Aku menyapa Mamaku yang sudah menunggu di ruang makan. Senyuman ramah darinya menyambutku yang mulai duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"Hai, Tante." Renata ikut menyapa dengan nada yang sopan.
Mamaku terlihat senang dengan kehadiran sahabatku itu. Aku memang tak pernah membawa teman ke rumah selain Renata. Karena itu Mama begitu baik padanya. Mungkin dia khawatir aku benar-benar tak memiliki teman bila Renata meninggalkanku.
"Hai, Renata! Kamu apa kabar? Tante udah lama gak liat kamu main ke sini."
Renata tersenyum. "Ah masa sih, Tante? Bukannya Tante yang terlalu sibuk hingga sering gak di rumah? Aku sering main ke sini tau. Cuma suka gak ketemu Tante."
"Ah, benar juga. Tante emang lagi sibuk ngurusin perusahaan. Kita lagi mau luncurin produk makanan yang baru. Makanya nyampe rumah sering malem."
"Nah... karna itu aku jadi sering makan malem temenin Mama." Aku menghela nafas.
"Lho kenapa? Emang ada yang salah sama makan malam?" tanya Mamaku balik.
"Mama gak liat badan aku? Aku terus bertambah gendut gara-gara Mama! Apalagi Mama pulang malam terus. Ngajakin aku makan malam mulu. Kalo aku gak mau, Mama pasti marah!" protesku.
"Lho apa yang salah dengan badanmu? Kamu tetap cantik sayang. Semua wanita itu cantik. Mau yang badannya kurus ataupun gendut. Betul kan Renata?"
Aku bisa melihat senyum getir dari wajah Renata. Sahabatku itu tak enak menyanggah perkataan Mamaku. Mana ada sih orang yang akan tega berkata buruk di depan orang tuanya, meskipun itu fakta. Aku hanya geleng-geleng kepala menatap Mamaku itu.
"Kalo kamu gak temenin Mama makan, kapan lagi kita bisa ketemu dan ngobrol sayang. Kamu kan tau Mama sibuknya kayak apa," timpal Mamaku lagi.
Aku menghela nafas. Sampai kapanpun pendapatku memang tak akan bisa menang dari Mama. "Baiklah," jawabku.
"Kamu cantik sayang. Siapa yang bilang kamu jelek. Mama aja cantik, apalagi kamu. Anak Mama tuh gak mungkin jelek."
Aku menjawabnya dengan senyuman singkat. Aku tak tersanjung dengan pujian Mamaku itu. Sama sekali tidak menghibur hatiku. Tubuh Mamaku itu langsing, tak sepertiku. Dia tak akan bertambah gendut meski makan dengan jumlah yang sama banyaknya denganku. Mama sampai kapanpun tak akan mengerti penderitaanku dengan tubuh ini.
Ibu mana yang bilang anaknya iyu jelek? Tidak ada. Bila Ibu itu begitu menyayangi anaknya, ia pasti tak akan menjatuhkan dan berusaha menjaga perasaan anaknya, apalagi di depan orang lain. Tidak mungkin Mamaku akan mengatakan kejujuran yang menyakitkan itu di depanku, apalagi di depan Renata. Pujian kata cantik merupakan bukti rasa sayang Mama padaku. Namun pujian itu enggan untuk aku percayai.
"Mulai makan yuk. Sayang kalo makanannya udah dingin."
"Oke Tante. Makasih buat makanannya." Renata dengan sopan menjawab ajakan Mamaku itu.
"Sama-sama, sayang. Kamu juga makan, Nak. Sini Mama taruh nasinya ke piring kamu."
"Makasih, Ma," ucapku setelah menerima nasi yang dituangkan dari Mamaku. Kami mulai makan bersama, tanpa banyak perbincangan lagi. Mungkin karna terlalu lapar, Mamaku begitu fokus menyantap makanannya.
Lauren, nama Mamaku. Dia membesarkanku sendirian pasca meninggalnya Papaku, lebih tepatnya ketika umurku lima tahun. Mama meneruskan usaha yang dirintis Papaku di bidang makanan instan hingga menjadi besar seperti sekarang. Aku tau itu bukan perkara yang mudah untuk dikerjakan sendirian, ditambah dengan pekerjaan membesarkanku.
Karena itu, aku sering merasa tidak enak bila Mama mengajakku makan malam bersama. Memang hanya di waktu itu kami bisa menikmati kebersamaan dan berbincang dengan santai. Namun tentu yang menjadi korbannya adalah bentuk tubuhku. Lihat saja berat badanku sekarang, siapapun akan bisa mengira seberapa banyak jumlah makanan yang masuk ke mulutku.
"Enak makanannya, sayang?"
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Mamaku itu. "Masakan Bibi gak mungkin gak enak, Ma."
"Nanti kapan-kapan Mama masakin kamu," ucap Lauren.
"Masak air?" Aku geleng-geleng kepala. Bukan karena Mamaku tak bisa masak. Namun memang dia tak memiliki waktu untuk itu. Sepulang kerja pasti tenaganya sudah habis. Aku tak sampai hati untuk memintanya memasak. Lagipula kami memiliki pembantu yang bisa memasak dan memenuhi semua permintaan kami terkait makanan.
"Sembarangan. Mama jago masak tau! Nanti Mama masakin rendang kalo perlu," canda Lauren.
Aku tertawa. "Rendang? Gak usah deh, Ma. Ngotor-ngotorin dapur kita aja," balasku.
Lauren ikut tertawa. "Kamu itu... Mama mau masak malah dilarang-larang. "
"Mama masak nasi goreng buat aku aja udah syukur. Gak usah maksain masak rendang juga kali, Ma. Kayak ada waktu aja," balasku.
"Yah diluangin dong, sayang. Weekend ini Mama masakin kamu deh."
Aku tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Baiklah. Aku percaya."
"Oh iya. Gimana makanannya, Ren? Enak?" tanya Lauren ke arah Renata.
"Iya enak, Tante. Selalu enak kok," jawab Renata dengan senyuman khasnya.
"Tante seneng deh kalo kamu makan di sini. Bonita jadi ada temennya. Tante terlalu sibuk di kantor. Jadi kadang waktunya suka kurang buat main sama Bonita."
Renata kembali tersenyum. "Sama-sama, Tante. Jangan capek-capek kerjanya. Jaga kesehatan juga."
"Makasih Renata. Kamu memang anak baik. Tante tenang Bonita punya temen kayak kamu."
"Ah, bisa aja. Aku juga seneng kok temenan sama Bonita," balas Renata.
"Udah... udah... lanjutin makan gih. Udah cukup dramanya."
Mama dan Renata malah tertawa mendengar ucapanku. Namun memang benar, perkataan mereka terasa seperti basa-basi di telingaku. Renata bukan tipe manusia sesopan itu bila hanya di depanku. Meski terkesan asal bicara, tapi aku masih menganggap Renata tak memiliki niat jahat. Sahabatku itu hanya langsung mengutarakan opininya di depanku. Namun aku mendapat kesan Renata begitu menjaga perkataan dan sikapnya di depan Mamaku. Ini hal yang wajar memang.
Setelah kami menyelesaikan makan, Bi Surti langsung menghampiri dan membereskan piring dan sisa-sisa makanan. "Terima kasih, Bi."
"Sama-sama, Non," Balas Bi Surti.
"Ma, aku sama Renata mau lanjut main di kamar ya."
Lauren mengangguk. "Renata kalo pulangnya kemaleman, nanti dianterin sama supir aja. Kalo mau nginep juga gak papa."
"Makasih, Tante. Liat nanti deh, Tan. Cuma makasih tawarannya," balas Renata sopan.
"Santai aja. Yaudah Tante ke kamar juga deh, mau istirahat."
Aku dan Renata berjalan kembali ke kamarku setelah melihat Mama juga melangkah pergi dari ruang makan. Renata berjalan di belakangku tanpa mengeluarkan suara. Aku mulai sedikit heran dengan tingkahnya yang tak biasa itu. Biasanya Renata selalu mengeluarkan cerita, bersenandung, atau sekedar bercelotek yang tak jelas.
"Enak ya jadi lo."
Aku mengerutkan kening ketika mendengar ucapan Renata yang tiba-tiba dan diluar dugaannya. "Hah? Enak dari mana deh?" tanyaku tak mengerti.
"Iya. Lo tinggal sama Nyokap lo. Rumah lo nyaman dan cukup besar."
"Lho, bukannya lo emang milih tinggal di sini atas kemauan sendiri ya? Bukannya lo pernah cerita kalo gak mau tinggal di Manado dan lebih milih tinggal di Jakarta?"
"Eh... iya sih. Emang gitu. Cuma kadang gue ngerasa kangen aja tinggal bareng keluarga. Wajar, kan?" tanya Renata balik.
"Ehm... ya wajar sih. Yaudah lo pilih kuliah di Manado aja. Biar bisa bareng mereka lagi."
Renata langsung menggeleng kepalanya dengan cepat. "Gue pengen jadi model. Abis lulus SMA ada sekolah model yang pengen gue masukin."
"Kenapa jadi model?"
"Biar cepet dapet uang sendiri. Kayaknya cara paling cepet ya jadi model atau artis. Cuma gue belum punya jalurnya kalo jadi artis. Gue pikir lebih baik mulai dari model dulu.
"Kenapa lo pengen cepet dapet duit sendiri?"
"Yah emang ada yang salah dengan hal itu? Pengen aja. Udah ah. Nanya-nanya mulu lo. Udah kayak wartawan aja," pungkas Renata sambil tertawa dan geleng-geleng kepala.
Aku sejujurnya masih tak terlalu mengerti dengan pemikiran Renata. Cuma memang lebih baik aku menyimpannya dalam hati daripada terus menyerang dengan berbagai pertanyaan. Namun aku setuju bila Renata menjadi model. Wajahnya begitu cantik. Tubuhnya begitu sempurna. Renata memiliki semua bahan dasar untuk menjadi seorang model. Aku tentu saja mendukungnya.
Kami akhirnya kembali ke kamar dan mulai bermain di sana. Renata kembali menceritakan pengalaman kencannya di masa lalu. Sementara aku mulai sibuk mengerjakan tugas sekolah sambil tetap mendengarkan cerita Renata.
CONTINUED
*****************
Hai guys! ^^
Maaf baru bisa updated sekarang.
Ada beberapa masalah pribadi yang harus diselesaikan, sehingga moodku juga gak begitu bagus buat nulis. Aku harap kalian ngerti ya ^^ Maap...
Hayoooo. Siapa yang di sini sering makan malam? Coba komennnn?
Terus kalo kalian, biasanya mudah gemuk kalo makan apa?
Jangan lupa vote ya guys! :)