11. Kuliah atau Tidak Kuliah?

1019 Words
Aku masih menjalani hari-hariku seperti biasa. Tetap berusaha tak terlihat, menghindar dari sorotan. Aku masih menjaga diriku agar tak menjadi bahan bully-an. Aku duduk dengan tenang di kursiku sambil menunggu bel tanda mulainya pelajaran berdering. Semua buku yang dibutuhkan untuk pelajaran pertama telah ada di atas meja. Aku memilih bermain dengan ponselku untuk menghabiskan waktu. "Gila! Sombong banget lo sekarang! Parah sih!" Aku langung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Aku melepaskan earphone ketika menyadari bahwa Renata yang ternyata sedang menegurku. "Tumben lo nyamperin gue di jam segini. Kenapa?" Renata langsung duduk di sebelahku. "Terus mau kapan gue nyamperin lo? Tiap istirahat aja lo tuh selalu gak ada. Lo kemana sih?" "Yah gak kemana-mana. Lo chat gue lah. Tanya gue lagi dimana. Mana gue tau lo nyariin gue, Ren." "Gue males chat lo! Akhir-akhir ini tuh lo suka lama bales chat gue! Lo itu lagi sibuk apaan sih? Susah amat ngeliat muka lo doang," keluh Renata lagi. "Gue gak sibuk apa-apa. Mungkin pas lo nyamperin, gue lagi di toilet. Makanya kita suka gak ketemu. Akhir-akhir ini gue suka sakit perut." Aku enggan mengatakan kebenaran yang sesungguhnya. Aku tau Renata sedang ingin tau apa kesibukanku dan siapa teman baruku. Namun aku masih tak ingin menceritakan tentang Dennis pada sahabatku itu. Bukan karena Renata orang jahat, tapi aku hanya masih merasa canggung menceritakan perasaanku padanya. Selama ini selalu aku yang mendengarkan kisah cinta Renata. Aku tak pernah menceritakan siapa yang pernah ku kagumi padanya. Renata pasti akan menggodaku dan mentertawai kecanggunganku ketika sedang kasmaran. Tidak. Sepertinya aku tak akan sanggup menghadapi ledekan dan godaan Renata itu. "Jangan-jangan lo udah punya pacar ya?" Renata bertanya dengan sorot mata penuh kecurigaan. "Hah?! Enggaklah. Ngaco lo! Gak usah bikin gosip deh." "Santai aja dong, Bon. Gue kan cuma nebak. Gak usah panik. Eh! Jangan-jangan lo emang beneran lagi deketin cowok ya? Ngaku dehhhh!" Renata menyenggol bahuku sambil menyunggingkan senyum usilnya. "Hah?! Apaan sih! Makin ngada-ngada deh lo, Ren." Aku kembali berusaha menyanggah ucapan Renata. "Kalo iya juga gak papa kali, Bon. Sekali-kali gue juga pengen tau kayak apa sih tipe cowok yang lo suka," ucap Renata sambil mengedipkan sebelah matanya. "Daripada lo ngomong ngaco terus... mending lo belajar buat ujian nasional dan ujian masuk universitas dah. Bentar lagi lho, Ren. Gue liat lo nyantai banget." Renata menghela nafas. Dia merengut dengan menopangkan dagunya di atas meja. "Gue gak suka belajar. Kalo ujian nasional, gue pasti lulus lah. Yah walau nilainya pasti bakalan pas-pasan. Gue juga gak berencana kuliah. Jadi buat apa gue belajar?" "Emang lo mau ngapain kalo gak kuliah?" tanyaku balik. Renata menatapku dengan penuh antusias. "Gue pengen jadi artis!" Aku bisa melihat keinginan kuat dari sorot mata Renata. Gadis itu tampak tau apa yang dia mau. Tergambar jelas betapa besar tekadnya dari raut wajahnya. Aku memang tau Renata selama ini memiliki kerja sampingan sebagai model. Dia juga beberapa kali ikut casting, tapi hanya berhasil lolos untuk iklan kecil dan pemeran pembantu yang hanya memiliki beberapa scene dalam satu judul. Namun aku tak menyangka dia akan serius untuk terjun ke ranah industri hiburan. "Lo yakin, Ren? Kenapa gak sambil kuliah aja? Kan tetep bisa jadi artis sekaligus kuliah juga. Kayak lo sekarang yang tetep sekolah walaupun sering jadi model." Renata menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Gue gak mau kuliah! Gue mau jadi terkenal dan menghasilkan uang. Secepat yang gue bisa." Aku mengerutkan kening. "Buat apa, Ren? Bukannya orang tua lo udah kaya ya?" tanyaku, tak mengerti. "Ehm... yah gak papa. Gue kan cuma pengen mandiri aja. Gak pengen bergantung sama orang tua. Emang salah ya?" tanya Renata balik. "Yah gak salah sih. Cuma menurut gue, gak salah juga buat terima niat orang tua buat kuliahin kita. Sebenernya kan bisa jalan beriringan sih. Yah terserah lo juga. Kan itu hidup lo. Gue juga yakin lo tau apa yang terbaik buat diri lo kan." "Menurut gue, kalo bisa sendiri lebih bagus sih. Lagian jadi artis gak perlu kuliah. Jadi ngapain gue buang-buang uang. Mending uangnya buat beli perlengkapan make up, baju, sepatu, dan perlengakapan lainnya yang nunjang kegiatan gue." "Baiklah. Lakukan yang lo mau, Ren. Gue dukung-dukung aja selama lo happy." Percuma memberikan saran pada Renata. Dia tampak sudah bulat akan tekadnya itu. Aku bukannya tidak percaya pada mimpi Renata. Namun menurutku langkah yang diambilnya itu terlalu beresiko. Pencapaiannya sekarang di dunia hiburan masih tak seberapa. Renata hanya baru jadi model di event fashion kecil. Dia hanya mendapat job pemotretan untuk iklan produk yang aku bahkan tak pernah mendengar merek itu. Dia lebih banyak mendapatkan pemeran figuran dibandingan peran pembantu di sebuah film atau sinetron. Tak ada jaminan di masa depan kariernya akan lebih baik. Karena itu aku tadi berusaha menyarankan agar Renata tetap kuliah. Namun dia memang bukan tipe gadis yang mudah dipengaruhi bila itu tentang rencana masa depannya. Dia memang cukup keras kepala. Menasehatinya hanya akan menjadi sebuah upaya yang terasa sia-sia. Aku lebih baik mendukungnya, daripada membantahnya. "Lo sendiri gimana? Lo mau kuliah apa emang?" tanya Renata. "Manajemen bisnis. Abis itu berencana ambil course masak. Gue harus terusin perusahaan Nyokapkan. I think... dua pendidikan itu yang gue perlukan. Bisnis nyokap di bidang makanan dan restoran soalnya." Renata mengangguk dan terdiam beberapa saat. "Enak ya jadi lo," gumam Renata tiba-tiba. "Hah? Maksud lo?" "Eh... ehm... gak ada. Bon, gue balik ke kelas dulu ya. Kayaknya bentar lagi bel bakalan bunyi deh. Pelajaran pertama tuh Pak Beno. Lo tau sendiri kan dia galaknya kayak apa. Gue cabut ya!" Aku hanya melongo melihat Renata yang langsung pergi tanpa menunggu ucapan balasan dariku... atau setidaknya menerima lambaian tangan dariku. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat langkah kaki Renata yang begitu tergesa-gesa meninggalkanku. CONTINUED ************** Hai guys! ^^ Sama seperti Bonita dan Renata yang sudah merencanakan masa depannya, semoga kita juga tau ya... apa yang kita mau dan dicapai di dalam hidup ini. Terus berusaha, hasilnya berserah sama Tuhan. ^^ Kali ini aku update-nya lebih cepat dari biasanya :D *tepuk tangan buat diri sendiri wkwkwk Buat kalian yang menjalankan ibadah puasa, selamat berpuasa ya ^^ Bentar lagi mau lebaran, semangat! Salam, Penulis amatir yang abis ini mau melanggar aturan gak makan di malam hari :P
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD