12. Aku Bahagia!

1604 Words
Bonita Hosiana Lo lagi dimana? Dennis Pramono Di perpus. Bonita Hosiana Ngapain? Tidur lagi? Dennis Pramono Iyalah. Masa baca buku. Bonita Hosiana Yah gunanya perpus kan buat baca buku, Den! Bukan buat tidur! Dennis Pramono Biarin! :P Bonita Hosiana Dasar! Dennis Pramono Nanti mau ke bengkel gue gak? Bonita Hosiana Emang ada apa di bengkel lo? Dennis Pramono Gak ada apa-apa. Yah kalo lo pengen main, bisa ke bengkel gue aja. Bonita Hosiana Oke. Nanti gue ke sana deh. Dennis Pramono Mau bareng gue gak ke sananya? Bonita Hosiana Gue langsung ke sana aja ya. Kasian supir gue kalo di suruh pulang gitu aja. Dennis Pramono Baiklah. Yaudah, see you. Bonita Hosiana See you! Aku diam-diam menyimpan kembali ponselku ke dalam tas. Ini kali pertama aku bertukar pesan dengan seseorang di tengah jam pelajaran sekolah. Biasanya tak ada yang perlu aku balas pesannya. Yah, karena memang tak ada pesan yang masuk dari siapapun. Terkecuali Mamaku dan Renata. Menyedihkan memang. Namun sejak berteman dengan Dennis, ponselku mulai terlihat sedikit sibuk. Aku sesekali mengirimkan pesan dengan topik yang random, lalu menerima pesan balasan darinya. Walaupun begitu, itu sudah cukup membuatku tersenyum senang. Dennis memang bukan laki-laki yang aktif berbicara di chat. Namun setiap kalimat singkat yang aku baca darinya sudah cukup membuatku tersipu senang. Aku sudah tak begitu konsen lagi dengan setiap pelajaran yang sedang berlangsung saat ini. Sepertinya tak akan pernah konsen. Kepalaku sudah asik memikirkan rencana sepulang sekolah nanti. Pikiran tentang waktu-waktu nanti yang akan aku habiskan bersama Dennis. Aku benar-benar tak sabar jam pelajaran hari ini segera berakhir! *** Aku berjalan menuju mobilku yang telah terparkir di halaman sekolah. Pak Beno, supirku, telah menyambut kedatanganku dengan senyuman dan lambaian tangan. Aku membalas sapaan Pak Beno dengan sama ramahnya. "Pak, kita ke bengkel yang waktu itu ya." "Oh. Bengkel punya temen Nona ya?" "Iya, Pak. Cuma sebelum ke sana, kita mampir ke toko kue dulu ya. Kayaknya gak enak kalo dateng dengan tangan kosong." "Ke toko kue langganan Ibu aja gimana? Searah soalnya. Jadi biar gak lama di jalan." Aku mengangguk setuju. Aku tau toko yang dimaksud Pak Beno itu. Toko kue milik teman Mama yang memang sudah terbukti memiliki rasa yang enak. Aku rasa membawa kue dari sana sudah cukup pantas untuk dijadikan buah tangan. "Oke, Pak. Kita beli di situ aja." "Siap, Non." Aku menatap kesal ke arah Pak Beno. Supirku selalu membukakan pintu mobil untukku. Hal yang sebenarnya tak perlu ia lakukan. Aku bisa membuka dan menutup pintu sendiri. Aku tak memerlukan bantuan orang lain hanya untuk melakukan hal kecil seperti itu. Lagipula Pak Beno sudah seperti keluargaku sendiri. "Aku bisa buka pintu sendiri, Pak! Aku kan udah bilang berkali-kali. Jangan bukain aku pintu," tegasku. "Maaf, Non. Saya refleks lakuinnya. Udah kebiasaan." "Iya, Pak. Lain kali aku buka pintu sendiri ya. Yaudah ayo berangkat, Pak." "Siap, Non." Pak Beno langsung masuk ke dalam mobil setelah aku duduk. Laju mobil langsung dipacu menuju toko kue milik teman Mamaku itu. Hanya memerlukan waktu dua puluh menit untuk sampai ke sana. Kebetulan jalanan memang tak macet seperti biasanya. Aku langsung keluar mobil setelah Pak Beno selesai memakirkan mobilnya. Aku langsung masuk ke dalam toko kue itu. Design toko ini begitu indah. Dekorasinya kebanyakan bernuansa pastel. Ada miniatur boneka beruang lucu yang sedang minum dan makan cake. Selain itu banyak hiasan bunga dan pita yang menambah manis kesan toko itu. "Mau pesen apa, Kak?" "Aku boleh liat-liat dulu ya, Mbak." "Oh, silahkan, Kak." Aku langsung menoleh ke arah etalase kue yang terpajang di sana. Aku mendekatkan wajahku ke arah kacanya agar bisa melihat lebih jelas semua kue yang ada di dalam sana. Ada cake, kue lapis legit, bolu dengan berbagai rasa, brownies, dan kue makaroni berbagai warna. Selama beberapa saat aku bingung memilih yang mana diantara banyaknya pilihan itu. Namun pada akhirnya pilihanku jatuh pada kue makaroni dan brownies. Rasanya itu lebih cocok untuk dimakan sambil ditemani minuman teh atau soda. "Saya pesan ini ya, Mbak. Masing-masing satu kotak. Eh, makaroninya dua kotak deh," pesanku. "Baik, Kak. Kami bungkus ya." Aku mengangguk sambil memberikan kartu debit kepada pelayan itu. Setelah selesai, aku membawa belanjaan makanan itu untuk dimasukan ke dalam mobil. Pak Beno tampak berdiri sambil bersandar di badan mobil. Dia menungguku dengan sabar. "Ini, Pak. Aku mau beli minuman di sana ya." Aku menunjuk ke arah supermarket yang ada di sebelah toko kue. "Baik, Non. Bapak tunggu di sini ya." Aku bergegas pergi agar Pak Beno tidak menunggu terlalu lama. Aku segera membeli dua botol minuman soda. Aku pikir itu lebih dari cukup untuk aku habiskan bersama Dennis ketika di bengkel nanti. Sebenarnya satu botol saja sudah cukup, tapi tak ada salahnya membeli dua. Aku pikir Dennis bisa menyimpan satu botol sisanya untuk dia minum di waktu senggang. Aku segera masuk ke dalam mobil setelah selesai berbelanja. Pak Beno langsung memacu laju mobil menuju bengkel Dennis. Aku menanti dengan hati tak sabar. Padahal setiap hari aku hampir bisa menemuinya di sekolah. Namun kali ini rasanya berbeda. Mungkin karna tempatnya berbeda dengan sekolah, aku seperti sedang masuk sedikit lebih dalam ke kehidupan pribadinya. Bukankah itu mengesankan? Aku langsung keluar dari setelah sampai dan mobil terparkir dengan rapi di lapangan yang terletak di sebelah bengkel Dennis. Aku menolak tawaran Pak Beno yang ingin membantu membawa salah satu dari kantong plastik yang sedang ku bawa saat ini. Aku merasa masih bisa membawanya sendiri meski memang terasa berat. Karena pintu terbuka dan tidak ada bel di bengkel itu, maka aku menoleh ke arah dalam untuk mencari ke beradaan Dennis. "Hai," sapaku ketika berhasil menemukannnya. Dennis langsung menoleh ke arahku. Dia langsung bangkit berdiri, meninggalkan pekerjaannya dan beberapa temannya. Aku melihat beberapa laki-laki di sana. Wajah mereka terasa asing. Aku tak pernah melihat mereka sebelumnya. "Wuih! Lo bawa apaan nih!" Dennis menatap takjub ke arah ke dua kantong plastik yang sedang aku pegang. "Ini ada kue dan minuman. Kemarin gue gak sempet dan gak kepikiran juga buat bawa. Makanya baru sekarang hahaha." "Yaelah. Gak usah repot-repot kali. Harusnya tuh tuan rumah yang ngejamu, bukan kebalikannya. Kan gue jadi enak!" canda Dennis. "Anggap aja gue lagi baik. Lo gak mau bantuin gue bawain ini gitu? Berat tau!" protesku dengan nada bercanda. Dennis tertawa. Dia mengambil ke dua kantong plastik itu, lalu mengintip isi yang ada di dalamnya. "Ini apaan?" tanya Dennis. "Ini apa?" "Dua kota kue makaroni dan satu kotak brownies. Terus gue juga beli dua minuman soda. Gue gak tau ini bakalan cukup apa enggak buat..." Aku langsung melihat tiga orang laki-laki yang ada di dalam. Dennis sepertinya memahami isi pikiranku. "Oh mereka... mereka temen-temen gue. Yuk gue kenalin." Aku mengikuti Dennis dengan patuh. Berjalan mendekati ke arah teman-temannya yang tampak sedang asik berbincang di depan motor. Sebenarnya aku sedikit takut. Aku tak terbiasa berkenalan dengan orang asing dan memulai untuk menyapa. Namun karena mereka adalah teman Dennis, maka aku mencoba untuk memberanikan diri. "Guys, kenalin nih temen gue!" ucap Dennis. Mereka langsung menatap ke arahku. "Hai," sapaku dengan wajah canggung. "Hai! Gue Rio! Lo?" Aku menghela nafas lega kala melihat wajah Rio menyapaku dengan ramah. Kecanggungan dan kecemasan yang semuka aku rasakan, mulai sirna. "Gue Bonita," jawabku sambil melambaikan tangan. "Hai Bonita! Gue Toms." "Gue Bram." "Hai semua." Aku melambaikan tangan ke arah mereka bertiga. Tak lupa aku menyunggingkan senyum dan menampilkan raut wajah yang seramah mungkin. Aku ingin meninggalkan kesan baik di hadapan mereka. "Dia temen lo, Den? Kenal dimana? Kok gue gak pernah liat," kata Rio. "Temen sekolah. Emang dia baru gue ajak ke sini. Ini udah kali ke dua kayaknya. Yang pertama lo gak ketemu. Kayaknya karna lo masih di kampus deh," balas Dennis. "Oh gitu. Beneran cuma temen nih?" Rio menaikan sebelah alisnya dengan tatapan curiga. "Iya, temen. Gue bukan pembantunya kok," candaku. Rio tertawa. "Ya iyalah kalo itu, Bon. Hahaha. Kocak lo! Dennis tuh jarang bawa orang ke sini, apalagi cewek. Gak pernah malah. Makanya gue kaget dia kenalin lo ke kita." "Udah! Lo harusnya bersyukur. Nih si Bonita bawain kita makanan dan minuman. Bilang apa kalian?!" ucap Dennis dengan nada penuh penekanan. Rio dan Bram langsung merampas kantung plastik yang ada di tangan Dennis. Mereka langsung melihat ke dalam isi kantong itu, membuka kotaknya, dan menatapnya dengan terkesima. "Wah! Thank you, Bon!" seru Bram. "Lo baik banget deh," puji Rio. "Sering-sering datang ke sini ya!" timpal Toms. "Yee! Dasar kalian ini!" Dennis memukul pelan lengan Toms. Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka. Teman-teman Dennis ternyata menyenangkan dan  ramah. Aku merasa seperti diterima oleh mereka. Ini kali pertama aku berada di dalam sebuah kelompok pertemanan. Hal yang tak pernah aku alami selama di sekolah. Aku yang selalu sendiri, kini berada di antara beberapa orang yang kini sudah terasa seperti kawan. Aku tersenyum lebar dengan hati begitu senang. Ini menyenangkan. Berada di dekat Dennis dan memiliki kesempatan masuk ke dalam lingkungan pertemanannya. Bukankah ini seperti dunia fantasi yang menjadi nyata? Aku merasa semesta terlalu baik kepadaku akhir-akhir ini. Aku sampai takut bila suatu hari... aku terbangun dari mimpi. Ini terlalu indah dan menyenangkan. CONTINUED **************** Hai guys! Finally aku update lagi ^^ Kalian pernah takut kayak Bonita gak? Takut karena hidup terasa terlalu baik-baik saja. Semua terlalu berjalan indah dan menyenangkan. Seakan ini mimpi indah yang justru seakan sebuah kesemuan. Takut bila apa yang membuat kita tersenyum saat ini akan hilang di detik berikutnya? Ah, mari rasakan kebahagiaan di moment saat ini. Ketakutan dan kecemasan akan hari esok, lepaskanlah. Jangan sampai itu merampas senyum kita hari ini. Hidup seperti seolah ini hari terakhir kita hidup.  Selamat hari raya idul fitri bagi kalian yang merayakannya ya! Salam, Penulis amatir yang untuk pertama kalinya nulis diatas jam 12 malam :P
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD